Gunungsari Bangkit: Menyulam Desa Wisata Terpadu Berkelas Internasional
Batu | Serulingmedia. com. – Desa Gunungsari di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, selama ini lebih dikenal melalui nama besar Dusun Brau—ikon wisata ternak sapi perah yang menjadi sentra produksi susu segar ribuan liter setiap harinya.
Namun, angin perubahan mulai bertiup, menandakan tekad kuat pemerintah desa untuk mengangkat potensi dusun-dusun lainnya agar turut bersinar dalam kancah pariwisata Kota Batu.

Salah satu langkah konkret yang tengah dikerjakan adalah pembangunan stadion futsal berskala internasional di Dusun Brumbung.
Lebih dari sekadar fasilitas olahraga, proyek ini menjadi cerminan visi besar Desa Gunungsari untuk mewujudkan desa wisata terpadu yang tidak hanya menarik, tetapi juga berkelas.
Lapangan indoor seluas 22×42 meter persegi ini nantinya akan multifungsi, bisa dipakai untuk olahraga futsal maupun bulu tangkis, dilengkapi dengan tribun penonton, kamar mandi air panas, serta ruang ganti pemain dan ofisial.
” Saat ini masih proses penyelesaian atap ” Jelas kepala desa Gunungsari.
Di sekitarnya akan dibangun pula rest area dan foodcourt desa, sebagai sentra kuliner dan pusat interaksi pengunjung.
Namun, rencana besar itu tidak berhenti di satu titik. Desa Gunungsari merancang konsep wisata terintegrasi dengan memanfaatkan potensi lokal yang autentik dan khas.
Di samping lapangan futsal, akan hadir wisata petik bunga mawar, taman bermain anak-anak, serta zona UMKM dengan produk-produk khas seperti kue Ladu, stick susu, permen susu, dan carang emas.
Semua dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, hasil sinergi antara tanah kas desa dan kontribusi masyarakat.

Kepala Desa Gunungsari, Andi Susilo, menunjukkan kepemimpinan yang visioner namun tetap membumi. Ia menyadari bahwa membangun desa wisata terpadu bukan semata soal kecepatan, melainkan ketepatan dan kesinambungan.
Ia memilih pendekatan bertahap dan penuh perhitungan, dengan prinsip agar setiap destinasi mampu berdiri tegak dan tidak menjadi proyek jangka pendek yang cepat pudar.
“Setiap dusun kami bangun dengan hati-hati, agar berdiri kokoh dengan perencanaan dan penataan yang tepat,” ujar Andi. Ia tidak ingin menjadikan Desa Gunungsari sekadar pelengkap dalam peta wisata Bumiaji.
Ia ingin desanya memiliki identitas kuat yang mampu melekat di benak wisatawan dan menciptakan kerinduan untuk kembali.
Sebagai bagian dari Kecamatan Bumiaji—wilayah yang kaya akan lanskap pegunungan dan udara sejuk alami—Desa Gunungsari memang memiliki modal alam yang menjanjikan.
Namun Andi Susilo paham bahwa daya tarik wisata tidak hanya dibangun dari panorama, melainkan juga dari pengelolaan, kenyamanan, dan kekhasan pengalaman yang ditawarkan.
Konsep wisata yang digagas tidak hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
UMKM diikutsertakan, lahan masyarakat dilibatkan, dan ragam produk khas diangkat sebagai daya tarik unggulan.
Pembangunan berbasis kearifan lokal seperti ini menjadi contoh bagaimana desa bisa mengambil peran strategis dalam peta pariwisata nasional.

Di tengah gempuran wisata modern dan global, Desa Gunungsari memilih jalannya sendiri: tumbuh perlahan, namun kuat dan berkarakter.
Akhirnya, proyek-proyek pembangunan yang tengah berjalan di Desa Gunungsari bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah bagian dari mimpi kolektif warga desa untuk menjadikan kampung halamannya sebagai destinasi yang membanggakan—bukan hanya bagi Kota Batu, tetapi juga bagi Indonesia.
Dan dengan kesabaran, ketekunan, serta semangat kolaboratif yang ditunjukkan, impian itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.( Eno).






