Inovasi Desa Sidomulyo dalam Membangun Ketahanan Pangan dan Pengelolaan Sampah Terpadu

Screenshot_20241211-111924_WhatsApp

Batu | Serulingmedia.com – Desa Sidomulyo, yang terletak di Kecamatan Kota Batu, Jawa Timur, telah meluncurkan sebuah terobosan besar dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengatasi masalah sampah.

Dengan membangun kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang mengusung konsep Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R), desa ini bukan hanya fokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakatnya.

Kepala Desa Sidomulyo, Suharto, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan pengembangan kawasan terpadu yang mencakup berbagai sektor, seperti peternakan sapi perah, peternakan kambing Etawa, budidaya ikan, dan pengelolaan sampah.

” pembangunan kawasan terpadu ini guna mendukung katahanan pangan dan meningkatkan gizi keluarga serta penuntasan stunting ” ungkap Suharto di ruang kerjanya, Rabu ( 11/12/2024 ).

Lahan seluas lebih dari 1.000 meter persegi telah disiapkan untuk mewujudkan proyek ambisius ini, yang diharapkan dapat meningkatkan gizi keluarga, mengatasi stunting, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Proyek ini dimulai dengan pembangunan infrastruktur dasar, seperti hanggar untuk TPS3R dan kandang sapi perah, yang kini telah selesai dibangun.

Menurut Suharto, yang tinggal menunggu adalah penyelesaian pengadaan incinerator (alat pembakar sampah) yang masih dalam proses. Selain itu, kolam ikan dan kandang kambing Etawa akan segera dibangun setelah itu.

” saat ini kami selesai membangun hanggar untuk TPS3R dan kandang sapi tinggal melengkapi pengadaan Incineratornya saja yang masih proses. Untuk kolam ikan dan kandang kambing etawa menyusul. Kalau bibit ikan nilai sudah siap 15 ribu ekor ” jelasnya.

Proyek ini didanai dengan anggaran sebesar Rp. 3 miliar yang bersumber dari Dana Desa dan PHB (bagi hasil pajak) anggaran 2024-2025.

Dana tersebut tidak hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk pengadaan 10 ekor sapi perah, bibit ikan nila sebanyak 15.000 ekor, pembuatan jalan masuk, dan pagar keliling.

Program ini bertujuan untuk menghasilkan susu yang akan diberikan secara gratis kepada anak-anak penderita stunting dan warga kurang mampu.

Selain itu, sampah organik yang diolah di TPS3R akan menghasilkan pupuk yang digunakan untuk menanam rumput sebagai pakan ternak sapi dan kambing. Magot yang dihasilkan dari sampah organik akan dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Dengan demikian, seluruh bagian dari kawasan terpadu ini saling terhubung dan memberikan manfaat berkelanjutan.

Suharto juga mengungkapkan bahwa desa Sidomulyo memiliki tenaga ahli yang akan mengolah asap hasil pembakaran sampah menjadi pestisida organik.

Hal ini menunjukkan bahwa desa ini tidak hanya fokus pada pengolahan sampah, tetapi juga pada pemanfaatan limbah menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian dan tanaman.

Selain mendukung ketahanan pangan, kawasan terpadu ini juga direncanakan sebagai destinasi wisata edukasi. Wisatawan akan diajak untuk melihat langsung proses pengolahan sampah, kolam ikan, pemerahan susu, hingga pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk.

Program ini tidak hanya akan memperkaya potensi wisata desa, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Pengembangan kawasan terpadu ini mencerminkan komitmen Desa Sidomulyo dalam menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.

Proyek ini menunjukkan bagaimana ketahanan pangan dapat diperkuat melalui pemanfaatan sampah, teknologi, dan pendidikan lingkungan.

Dengan model yang terintegrasi dan saling mendukung ini, Sidomulyo tidak hanya menciptakan ketahanan pangan lokal yang lebih baik, tetapi juga memberikan contoh bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengembangkan potensi mereka dalam menciptakan desa yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.

Sebagai langkah pertama yang akan diluncurkan antara Januari-Februari 2025, peternakan sapi perah dan pengolahan sampah menjadi prioritas utama.

” Program pertama yang akan kami liris antara Januari- Februari 2025, adalah peternakan sapi perah dan pengolahan sampah ” pungkas Suharto.

Inovasi ini, yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, diharapkan dapat mengatasi masalah ketahanan pangan dan kesehatan, sekaligus menjadi model bagi pengelolaan sampah yang lebih baik di masa depan.( Eno)