Gunungsari Menyibak Tirai Sunyi: Dari Desa Tertutup Menjadi Primadona Wisata Bunga di Batu Art Flower Carnival 2025

Screenshot_2025-10-27-08-11-00-490_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia.com – Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai desa yang tenang dan tertutup, kini bangkit memperlihatkan keindahan dan potensinya kepada publik.

Dalam perhelatan akbar Batu Art Flower Carnival (BAFC) 2025 pada Minggu (26/10/2025), Gunungsari tampil menawan dan penuh kejutan, mengibarkan identitasnya sebagai desa wisata bunga yang kaya akan kearifan lokal.

Kepala Desa Gunungsari, Andi Susilo, dengan penuh semangat menyatakan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan langkah strategis untuk membangun citra desa.

“Di momen tahunan ini, kami ingin mengeksplorasi potensi kami, sehingga masyarakat mengetahui dan datang ke Gunungsari,” ungkapnya, sembari ikut berjalan kaki mengiringi mobil hias yang melaju anggun sepanjang jalur karnaval.

Gunungsari selama ini dikenal sebagai penghasil mawar potong berkualitas, yang telah menjadi bagian penting dari pasokan bunga di Kota Batu.

Tak hanya itu, desa ini juga mengembangkan peternakan sapi perah dan menghadirkan berbagai wisata edukasi, seperti petik mawar, petik jeruk, hingga aktivitas perah susu yang digemari wisatawan keluarga.

Dua destinasi populer, Gua Pinus dan Gua Pandawa, menjadi daya tarik wisata alam yang menawarkan suasana hening di tengah rindangnya hutan pinus.

Dalam parade BAFC 2025, mobil hias Gunungsari menjelma menjadi simbol kejayaan desa. Dipenuhi aneka bunga mawar yang dirangkai artistik, mobil ini menggambarkan kemakmuran serta harmoni antara alam dan budaya lokal.

Tak kalah mencuri perhatian, di belakang mobil hias, barisan ibu-ibu desa melangkah anggun membawa buket bunga menawan, seolah menjadi utusan keindahan yang hendak menyapa mata dan hati para penonton.

Keikutsertaan ini menjadi bukti bahwa Gunungsari tidak lagi sekadar “desa tertutup” di lereng pegunungan, namun tengah bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan yang siap bersaing.

Hadirnya Gunungsari dalam karnaval adalah pesan optimis bahwa desa ini memiliki daya hidup, kreativitas, dan kekayaan yang layak dipromosikan.

BAFC 2025 menjadi panggung pertama, namun bukan yang terakhir. Setelah tirai sunyi dibuka, Gunungsari kini melangkah menuju panggung wisata yang lebih luas—membawa harum mawar, sejuk udara pegunungan, dan semangat masyarakat yang ingin dikenal bukan hanya karena potensi, tetapi juga karena tekad untuk berkembang.(Eno).