UNU Purwokerto Sulap Limbah Ternak Jadi “Emas Hijau”, Peternak Banyumas Didorong Raih Nilai Tambah
Purwokerto | Serulingmedia.com – Program Studi Peternakan Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto kembali menunjukkan peran aktifnya dalam pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran hewan (kohe) di Kelompok Tani Ternak Mindajaya Farm, Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Minggu (31/5/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan limbah peternakan yang lebih produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa berbasis prinsip ekonomi sirkular.
Di tengah meningkatnya volume limbah ternak, terutama kotoran kambing pasca-Iduladha, para peternak dihadapkan pada tantangan pengelolaan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Namun, melalui pelatihan yang digelar UNU Purwokerto, limbah tersebut justru diposisikan sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

Kohe yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi ternak diperkenalkan sebagai bahan baku pupuk organik yang memiliki prospek pasar dan manfaat besar bagi sektor pertanian. Konsep ini dikenal sebagai transformasi limbah menjadi “emas hijau”, yakni komoditas yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi peternak.
Tim pengabdian dipimpin oleh dosen-dosen Program Studi Peternakan UNU Purwokerto, yakni Arif Harnowo, Siti Rahmawati, Muhammad Rayhan, dan Wahyu Maulana Endris.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Rayhan menegaskan bahwa pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi peternak.
“Selama ini kotoran ternak sering dianggap sebagai limbah yang harus dibuang. Padahal, jika dikelola dengan benar, kohe memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami ingin peternak melihat bahwa limbah dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus mendukung pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Rayhan.
Menurutnya, pendekatan pemberdayaan yang dilakukan UNU Purwokerto bertujuan membangun kemandirian peternak melalui transfer pengetahuan dan teknologi sederhana yang mudah diterapkan di tingkat kelompok ternak.

Kegiatan turut menghadirkan narasumber dari Universitas Jenderal Soedirman, yakni Billy Arifa Tengger, yang memberikan edukasi teknis mengenai penggunaan kalkulator takaran pembuatan pupuk organik.
Billy menjelaskan bahwa ketepatan komposisi bahan merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas pupuk organik yang dihasilkan.
“Banyak proses pengomposan gagal atau menghasilkan kualitas yang tidak seragam karena takaran bahan yang kurang tepat. Melalui kalkulator formulasi ini, peternak dapat menentukan komposisi secara lebih akurat sehingga proses fermentasi berjalan optimal dan kualitas pupuk menjadi lebih baik,” kata Billy.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi sederhana dalam pengolahan limbah ternak menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing produk pupuk organik lokal.

Pelatihan juga melibatkan sembilan mahasiswa UNU Purwokerto dari berbagai daerah di Banyumas dan sekitarnya. Keterlibatan mahasiswa menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Selain mengikuti proses pembelajaran lapangan, mahasiswa turut mendampingi peserta dalam praktik pembuatan pupuk organik mulai dari tahap pencampuran bahan baku, pengaturan kadar air, penggunaan aktivator, hingga proses fermentasi.
Kegiatan dihadiri Ketua Kelompok Tani Ternak Mindajaya Farm, Achri Priyono, bersama Wakil Ketua Kelompok, Gisus, serta sekitar 20 anggota kelompok ternak.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para peternak tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga mempraktikkan langsung seluruh tahapan pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk organik yang siap digunakan maupun dipasarkan.
Melalui pelatihan tersebut, peternak dibekali pemahaman mengenai identifikasi bahan baku, penentuan proporsi campuran yang tepat, proses fermentasi, hingga indikator kematangan pupuk. Pengetahuan itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas peternak dalam mengelola limbah secara mandiri sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor pupuk organik.
Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem peternakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik tidak hanya mengurangi potensi pencemaran, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara sektor peternakan dan pertanian dalam satu siklus produksi yang saling mendukung.
Bagi NU Banyumas dan UNU Purwokerto, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata hadirnya perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan. Dari kandang-kandang ternak di Desa Glempang, lahir sebuah model pemberdayaan yang mengubah limbah menjadi sumber manfaat ekonomi, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan. ( Eno)






