Seabad Merti Bumi Tulungrejo, Saat Air dari Lima Dusun Menyatukan Harapan dan Rasa Syukur

1632585_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Matahari pagi baru merambat di langit Kecamatan Bumiaji, Sabtu (27/6/2026).

 

Namun, halaman Desa Tulungrejo telah dipenuhi warna-warni hasil panen. Sayuran segar, buah-buahan, dan aneka hasil bumi tertata rapi dalam tenggok yang dipikul warga.

Pemandangan itu bukan sekadar perayaan panen, melainkan penanda perjalanan satu abad tradisi Atur Pisungsun Merti Bumi yang terus dijaga masyarakat.

 

Mengusung tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”, peringatan Merti Bumi ke-100 menjadi momentum warga mengenang hubungan yang tak pernah putus antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

 

Bagi masyarakat lereng Gunung Arjuna, tanah bukan hanya tempat berpijak, melainkan sumber kehidupan yang wajib dihormati dan dirawat.

 

Ratusan warga dari lima dusun—Junggo, Wonorejo, Gerdu, Gondang, dan Kekep—berjalan bersama membawa sedekah hasil bumi. Langkah mereka menjadi simbol gotong royong yang diwariskan lintas generasi.

 

Momen paling menggetarkan terjadi ketika perwakilan setiap dusun membawa tirta dari sumber mata air di wilayah masing-masing.

 

Dengan penuh kekhusyukan, air itu dituangkan ke dalam sebuah gentong tanah liat besar di pelataran desa. Gemercik air yang saling menyatu menghadirkan suasana hening.

 

Lima sumber kehidupan itu melebur menjadi satu, seolah menghapus batas antarwilayah. Di dalam gentong tersebut, yang tersisa hanyalah satu identitas bersama: Tulungrejo.

 

Usai prosesi penyatuan air, suasana berubah menjadi penuh kegembiraan. Kepala Desa Tulungrejo, Ki Suliono atau yang akrab disapa Ki Klungsu, membawa sebuah genuk berisi beras kuning dan ratusan uang logam.

Dengan senyum hangat, ia menebarkan isi genuk ke tengah kerumunan warga dalam prosesi udik-udik.

Anak-anak hingga orang tua serentak berebut uang receh yang berdenting di tanah. Gelak tawa memenuhi pelataran desa. Namun, di balik keceriaan itu tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada nilai uang yang diperebutkan.

 

Bagi Ki Klungsu, ritual tersebut merupakan simbol tanggung jawab pemerintah desa untuk mengembalikan amanah rakyat dalam bentuk kesejahteraan.

“Gentong ini adalah wadah gotong royong. Air yang dibawa warga dari lima dusun adalah lambang kepercayaan dan rezeki yang mereka titipkan kepada desa. Maka, lewat udik-udik tadi, saya mengembalikan amanah itu. Beras kuning dan uang logam ini adalah simbol bahwa pemerintah desa harus hadir untuk membagikan kembali rezeki, memastikan tidak ada warga yang kelaparan, dan membawa Tulungrejo menuju kesejahteraan bersama,” ujar Ki Suliono.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi Kota Batu sebagai kota wisata, Merti Bumi Tulungrejo menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya.

 

Tradisi justru menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menjaga alam, sekaligus meneguhkan komitmen pemimpin dan masyarakat dalam merawat kehidupan bersama.

 

Ketika prosesi usai, gentong air tetap penuh dan butiran beras kuning masih berceceran di pelataran desa.

 

Warga pun pulang dengan hati yang ringan. Mereka percaya, selama air dari lima dusun masih dapat disatukan dalam satu gentong dan semangat berbagi terus dijaga, Tulungrejo akan selalu memiliki harapan untuk tumbuh, lestari, dan menyejahterakan generasi yang akan datang. ( Eno).