Di Mata Andarini, Menulis Adalah Cara Menjaga Hidup Tetap Bermakna
Surabaya | Serulingmedia.com – Waktu boleh mengubah usia, tetapi tidak selalu memudarkan semangat. Di ruang pertemuan sederhana Kampus STIKOSA-AWS Kapasari, Sabtu (18/7/2026),
Siti Sutarsih Andarini menyaksikan sendiri bagaimana jejak seorang jurnalis ternyata tidak berhenti ketika kartu identitas profesi telah disimpan.

Bagi dosen senior Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu, para alumni STIKOSA-AWS telah membuktikan bahwa masa purnatugas bukanlah garis akhir, melainkan halaman baru untuk terus menulis dan memberi makna.
Perempuan yang pernah mengajar di STIKOSA-AWS selama 16 tahun, sejak 1975 hingga 1991, tampak larut dalam suasana reuni lintas generasi.
Di hadapannya berkumpul para mantan mahasiswa yang pernah menjadi wartawan TVRI, RRI, LKBN ANTARA, media cetak, hingga media digital. Rambut mereka mungkin telah memutih, tetapi semangat mereka tetap muda.
“Alumni STIKOSA-AWS itu luar biasa. Mereka memanfaatkan bonus usia untuk terus berkarya. Setelah menerbitkan Kawah Pena Hebat, kini mereka sedang menyiapkan jilid kedua,” ujar Andarini.
Kalimat itu bukan sekadar pujian. Ia melihat sebuah keteladanan: ketika banyak orang menganggap pensiun sebagai waktu untuk berhenti, para alumni justru memilih menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan baku sebuah buku.
Bagi Andarini, menulis bukan hanya aktivitas intelektual. Menulis adalah cara merawat ingatan, menjaga nilai, sekaligus meninggalkan jejak agar perjalanan hidup tidak hilang ditelan waktu.
Semangat itu, katanya, ikut menggerakkan komunitas di kampung halamannya. Ia percaya, tulisan mempunyai kekuatan untuk menyambungkan pengalaman seseorang dengan generasi yang belum pernah hidup di zamannya.
Kunjungan ke kampus lama juga menjadi perjalanan emosional bagi Andarini. Ia mengaku gembira dapat kembali menapaki lorong-lorong yang pernah menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sekaligus bertemu sahabat dan kolega lama.

Di antaranya Buyung Pribadi, yang semasa bertugas di TVRI kerap mewawancarainya, serta Kris Maryono, penggagas Komunitas Penulis Alumni AWS Kampus Kapasari Surabaya (KOMPAKS).
Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa hubungan yang dibangun melalui dunia jurnalistik mampu bertahan melampaui ruang kerja dan perjalanan waktu.
Suasana reuni semakin sarat makna dengan peluncuran buku “Drs Adji Darmo, Sahabat, Dosen-Ku”, sebuah buku kenangan berisi tulisan 25 alumni lintas angkatan untuk mengenang 100 hari wafatnya dosen jurnalistik yang telah membentuk karakter banyak wartawan.
Bagi alumni angkatan 1979, Riamah MD, Adji Darmo bukan sekadar dosen. Ia adalah guru yang mengajarkan disiplin berpikir sekaligus ketulusan berbagi ilmu.
“Beliau mengajar dengan tenang, tuturannya terstruktur, dan sangat disiplin. Ilmu jurnalistik maupun kehumasan yang beliau berikan menjadi bekal penting bagi kami,” ujar Riamah, yang kini masih aktif sebagai jurnalis sekaligus pengurus Yayasan STIKOSA-AWS.
Kenangan serupa disampaikan Kris Maryono, alumni angkatan 1983 sekaligus penggagas KOMPAKS. Menurutnya, Adji Darmo selalu dikenang sebagai sosok yang ramah, murah senyum, dan dekat dengan mahasiswa.
“Awalnya kami ingin mengundang beliau dalam peluncuran buku ini, tetapi Allah terlebih dahulu memanggil beliau. Akhirnya, buku ini kami persembahkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa untuk almarhum,” kata Kris.
Ia menuturkan, semangat yang diwariskan para dosen menjadi alasan komunitas alumni terus menjaga tradisi literasi.
Setelah menerbitkan Kawah Pena Hebat, mereka kini tengah menyiapkan Kawah Pena Hebat II sebagai ruang berbagi pengalaman, sekaligus penghormatan kepada para pendidik yang telah menanamkan nilai-nilai jurnalistik.
Bagi para alumni, STIKOSA-AWS mungkin bukan kampus dengan gedung paling megah atau jumlah mahasiswa terbesar. Namun, dari kampus yang tumbuh di kawasan Kapasari itulah lahir banyak jurnalis dan praktisi komunikasi yang membawa idealisme ke ruang publik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka memilih tetap setia pada tradisi menulis. Sebab, mereka percaya bahwa berita boleh berlalu, tetapi tulisan yang lahir dari kejujuran akan selalu menemukan pembacanya.
Dan bagi Andarini, selama masih ada orang yang bersedia menulis dengan hati, sesungguhnya api ilmu pengetahuan tidak akan pernah padam.
Ia akan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebagaimana seorang guru yang hidup melalui murid-muridnya, dan seorang jurnalis yang tetap dikenang melalui karya-karyanya. ( Eno).






