Cok Bakal, Doa yang Ditata dalam Anyaman Daun Pisang Warnai Seabad Merti Bumi Tulungrejo

1635558_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Di antara semarak peringatan Seabad Atur Pisungsun Merti Bumi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Sabtu (27/6/2026), ada satu benda sederhana yang hampir selalu berada di tangan warga.

 

Dibuat dari anyaman daun pisang dan berisi hasil bumi, benda itu bernama Cok Bakal.

 

Bagi masyarakat Jawa, Cok Bakal bukan sekadar sesaji. Ia adalah simbol rasa syukur, doa, sekaligus harapan agar kehidupan senantiasa dilimpahi keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari segala marabahaya.

Sejak pagi, ratusan warga dari Dusun Junggo, Wonorejo, Gerdu, Gondang, dan Kekep berjalan beriringan membawa Cok Bakal menuju lokasi prosesi Merti Bumi.

 

Langkah mereka menjadi penanda bahwa tradisi yang telah bertahan selama satu abad itu masih hidup di tengah masyarakat.

Kepala Desa Tulungrejo, Ki Suliono atau yang akrab disapa Ki Klungsu, mengatakan Merti Bumi bukan sekadar seremoni budaya, melainkan wujud syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

“Cok Bakal menjadi bagian penting dari prosesi karena di dalamnya terkandung doa dan harapan masyarakat agar desa tetap diberi keselamatan serta kemakmuran,” ujarnya.

Cok Bakal umumnya dibuat dari daun pisang yang dibentuk sebagai wadah. Isinya beragam, mulai dari sirih, tembakau, kelapa, cabai, bawang merah, bawang putih, beras, daun dadap serep, gula, telur, jenang merah dan putih, bunga, kemiri, hingga uang logam.

 

Meski tidak selalu lengkap, susunan itu tetap disebut Cok Bakal karena yang terpenting adalah makna yang dikandungnya.

Dalam filosofi Jawa, seluruh isi Cok Bakal melambangkan alam semesta beserta segala kehidupan di dalamnya. Sesaji ini menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Selain memiliki nilai religius, Cok Bakal juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda. Melalui tradisi ini, anak-anak dikenalkan pada nilai gotong royong, rasa syukur, serta pentingnya menjaga keseimbangan hidup dengan alam.

 

Pada peringatan Seabad Merti Bumi bertema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”, Cok Bakal seolah menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus akar budaya.

 

Justru dari sesaji sederhana yang ditata dengan penuh ketulusan itu, masyarakat Tulungrejo terus merawat identitas, memperkuat persaudaraan, dan menjaga doa agar bumi yang mereka cintai tetap membawa berkah bagi generasi yang akan datang.( Eno).