Jegur Bareng di Teluk Mayangan: Mandi Asin, Menyembuhkan dengan Gembira

Screenshot_2025-11-02-09-08-37-396_com.android.chrome-edit

Probolinggo | Serulingmedia.com – Sabtu pagi (1/11/2025 ) di Teluk Mayangan, udara laut yang lembap berpadu dengan tawa riang para warga yang berendam di kolam pesisir pelabuhan.

Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan untuk mencari sembuh — dengan cara yang sederhana, alami, dan penuh kehangatan kemanusiaan.

Dari berbagai penjuru Jawa Timur, bahkan luar provinsi, orang-orang berdatangan. Ada yang lututnya kaku karena rematik, ada yang baru pulih dari stroke, ada pula yang sekadar ingin mengembalikan kebugaran tubuh.

Di antara mereka, tak sedikit yang berkelakar tentang “menggoreng kejantanan” — istilah jenaka yang justru membuat suasana berendam itu tak pernah kehilangan tawa.

Air asin Teluk Mayangan, yang mengandung berbagai mineral laut, dipercaya memiliki daya penyembuh alami.

Namun, bagi Hary Pramono, Ketua Komunitas Sahabat Laut, rahasia utamanya bukan pada airnya, melainkan pada semangat dan kegembiraan yang dibawa setiap orang ke dalam air itu.

“Yang datang rata-rata ingin sembuh. Tapi kuncinya bukan hanya berendam, melainkan punya semangat sembuh dan hati yang gembira,” tutur Hary, pria yang sudah puluhan tahun menemani orang-orang berendam dengan penuh keikhlasan.

Ia sendiri pernah sakit parah, dan dari pengalaman itulah ia belajar bahwa kebahagiaan bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan.

Tidak ada tarif, tidak ada janji-janji ajaib. Hary hanya memberikan saran, memotivasi, dan menemani siapa saja yang datang. Ia percaya, air asin dan hati yang ikhlas bisa berpadu menjadi terapi jiwa dan raga.

Bambang dari Malang misalnya, datang bersama rombongannya. Mereka berendam sambil berbagi cerita, saling memijat, atau sekadar bercanda ringan.

Sementara Sugiarso dan istrinya membawa kue serta minuman yang diletakkan di atas meja spon mengapung di air.

“Ini cara kami menciptakan keakraban dalam berendam, dengan rasa gembira dan hiburan,” ujarnya sembari tersenyum.

Demikian pula dengan Gaib Sampurno dari Kota Batu ingin memanfaatkan air laut untuk menjadi stamina.

” Memang rasanya badan enak, terutama lebih Greng rasanya, siap tempur ” Ungkapnya sambil tertawa usai nyebur laut.

Pemandangan seperti ini mengingatkan kita bahwa kesehatan bukan hanya soal obat dan rumah sakit, tetapi juga tentang keterhubungan manusia dengan alam dan sesamanya.

Di Teluk Mayangan, laut bukan sekadar bentangan air asin, melainkan ruang sosial tempat luka-luka tubuh dan hati dijemur bersama matahari pagi, dibersihkan oleh tawa, dan diredam oleh rasa syukur.

Di antara Ombak dan Aroma Garam

Di antara ombak yang bergulung pelan dan aroma garam yang menyapa kulit, Teluk Mayangan menjadi saksi bisu betapa kebahagiaan juga bisa menjadi obat.
Bukan kebahagiaan yang mahal, bukan pula yang diciptakan dari kemewahan — melainkan kebahagiaan yang tumbuh dari kesederhanaan dan kebersamaan.

Setiap tawa yang pecah di antara percikan air asin adalah bentuk kecil dari harapan. Orang-orang yang datang ke sana membawa tubuh yang lelah dan jiwa yang rapuh, namun saat mereka saling sapa, saling tertawa, dan saling mendoakan, seolah-olah laut pun ikut menyembuhkan dengan caranya sendiri.

Ombak yang memecah pelan di tepi kolam mengajarkan ritme kehidupan — bahwa sakit, sembuh, jatuh, dan bangkit adalah bagian dari siklus yang harus diterima dengan lapang dada.

Garam yang menggigit kulit mengingatkan bahwa setiap rasa perih adalah bagian dari proses pemurnian. Dan di tengah semua itu, kegembiraan menjadi energi yang paling manjur.

Mereka yang berendam di Teluk Mayangan tidak hanya mencelupkan tubuh mereka ke dalam air asin, tetapi juga menenggelamkan rasa takut, kecemasan, dan kesepian. Mereka keluar bukan hanya lebih segar secara fisik, tetapi juga lebih ringan secara batin.

Dalam setiap percikan air, terkandung kisah tentang manusia yang tidak menyerah — yang memilih untuk mencari sembuh dengan cara berbahagia, bukan berkeluh.

Hary Pramono dan komunitasnya telah membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia hadir di tengah bau laut, di bawah langit biru yang luas, di antara orang-orang yang sama-sama berjuang untuk hidup sehat dan bahagia.

Teluk Mayangan menjadi semacam laboratorium kehidupan, tempat manusia kembali belajar pada alam: bahwa laut yang asin pun bisa menenangkan, bahwa garam yang terasa perih justru membersihkan, dan bahwa hati yang ikhlas mampu menyembuhkan lebih dari sekadar tubuh.

Pandangan Islam: Laut sebagai Sumber Kehidupan dan Kesembuhan

Dalam pandangan Islam, laut bukan sekadar hamparan air yang luas, melainkan tanda kebesaran Allah yang menyimpan banyak hikmah.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 14:

“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar dan mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat kapal-kapal berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.”

Ayat ini menggambarkan bahwa laut adalah karunia dan sumber keberkahan. Tak hanya memberi rezeki, tetapi juga menjadi tempat manusia merenung dan merasakan keagungan Sang Pencipta.

Rasulullah ﷺ pun pernah bersabda tentang laut:

“Air laut itu suci dan menyucikan, dan bangkainya halal.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa air laut memiliki sifat alami yang menyehatkan dan membersihkan. Bagi umat Islam, berendam di laut bukan hanya kegiatan jasmani, tetapi juga dapat menjadi bentuk tadabbur alam — merenungi kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang menenangkan.

Dalam perspektif spiritual, laut mengajarkan ketenangan dan ketundukan. Ombak yang tiada henti seolah berzikir, mengingatkan manusia untuk tidak berhenti bersyukur dan berusaha.

Saat seseorang berendam di laut dengan niat berobat, ia sedang menyatukan dua bentuk ikhtiar:

Ikhtiar jasmani, dengan memanfaatkan mineral dan khasiat air asin; dan

Ikhtiar ruhani, dengan melatih hati untuk ikhlas, sabar, dan pasrah pada kehendak Allah.

Kesembuhan, dalam pandangan Islam, tidak hanya datang dari obat atau terapi, tetapi dari ketenangan hati dan keyakinan kepada Sang Pencipta.

Karena itu, berendam di laut dengan hati penuh syukur bisa menjadi bentuk ibadah tersendiri — menyatu dengan ciptaan Allah sambil memperbarui semangat hidup.

Maka benar adanya, di antara ombak dan aroma garam, Teluk Mayangan menjadi saksi bahwa kebahagiaan juga bisa menjadi obat — obat yang tak dijual di apotek, tapi tumbuh dari hati yang bersyukur, jiwa yang ikhlas, dan iman yang percaya bahwa setiap ciptaan Allah membawa rahmat bagi yang mau merenunginya.( Eno).