Tradisi Sakral Sanghyang Jaran Kembali Digelar di Pura Ambengan Setelah 68 Tahun Vakum

Screenshot_2025-12-06-20-10-01-243_com.android.chrome-edit

Karangasem | Serulingmedia.com — Pengempon Pura Ambengan kembali menggelar tradisi sakral Sanghyang Jaran di Banjar Timbul, Desa Adat Padangkerta, Kabupaten Karangasem, setelah vakum selama 68 tahun sejak erupsi Gunung Agung tahun 1963.

Pura Ambengan hingga kini menjadi tempat berstana Betara Hyang Geni Jaya dan memiliki ciri khas berupa pohon cemara Bali yang tumbuh alami di kawasan pura sebagai simbol kesucian dan kekuatan spiritual.

Tradisi Sanghyang Jaran sebelumnya terhenti karena penarinya, I Gusti Nyoman Kadiana, meninggal dunia sebelum terjadinya erupsi Gunung Agung. Sejak peristiwa tersebut, krama Pura Ambengan tidak lagi melaksanakan ritual sakral warisan leluhur itu.

Keinginan untuk menghidupkan kembali taksu tradisi leluhur mendorong pengempon pura untuk memohon penuntun spiritual ke Pura Pejenengan di Geriana Kauh, salah satu pura yang hingga kini masih menjaga kesakralan tradisi Sanghyang Jaran secara turun-temurun.

Berdasarkan petunjuk Jero Mangku Putu, pengempon pura kemudian menetapkan Sasih Keenam, Jumat,(5/12/2025) bertepatan dengan Rahina Sukra Kajeng Manis, sebagai hari baik untuk melaksanakan prosesi nedunang dan pementasan kembali Sanghyang Jaran.

Pelaksanaan tradisi tersebut dipimpin oleh dua penari sekaligus pengempon Pura Ambengan, yakni I Gusti Nengah Kaler dan I Gusti Gede Sari, yang dipercaya secara niskala untuk meneruskan warisan spiritual leluhur.

Sebagai koordinator kegiatan, I Gusti Gede Purna menegaskan kebangkitan kembali tradisi Sanghyang Jaran merupakan momentum penting bagi krama Pura Ambengan.

“Tradisi Sanghyang Jaran bukan sekadar tarian sakral, tetapi bagian dari jati diri krama Pura Ambengan. Setelah 68 tahun terhenti, kami merasa sudah saatnya menyambung kembali hubungan spiritual yang sempat terputus akibat peristiwa besar di masa lalu,” ujar I Gusti Gede Purna.

Ia menambahkan, pelaksanaan kembali ritual sakral tersebut juga bertujuan menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat rasa kebersamaan masyarakat adat.

“Melalui kebangkitan Sanghyang Jaran, kami tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga memperkuat sraddha bhakti serta keharmonisan hidup krama desa secara sekala dan niskala,” tambahnya.

Kembalinya pelaksanaan Sanghyang Jaran di Pura Ambengan diharapkan masyarakat menjadi momentum pelestarian budaya Bali sekaligus memperkuat kesucian dan keharmonisan kehidupan adat Desa Padangkerta.( Eno).