Bangkit Setelah 68 Tahun Vakum, Penyineban Sanghyang Jaran Guncang Spiritualitas Karangasem di Tilem Sasih Keenam

772688_11zon

Karangasem|Serulingmedia.com.— Aura sakral menyelimuti Pura Ambengan, Desa Adat Padangkerta, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, saat Pengempon Pura Ambengan bersama Krama Banjar Timbul menggelar prosesi penyineban Sanghyang Jaran bertepatan dengan rahina Tilem Sasih Keenam, momentum suci yang diyakini sebagai waktu pemarisuda jagat atau penyucian alam semesta secara skala dan niskala.Jum’at ( 19/12/2025).

Prosesi sakral tersebut berlangsung khidmat sebagai penutup rangkaian sesolahan Sanghyang Jaran yang dipuput oleh Jero Mangku Putu Geriana Kauh.

Dalam upacara ini, Sanghyang Jaran mesolah untuk terakhir kalinya sebelum kembali disineb ke stana-Nya, menandai berakhirnya rangkaian ritual yang sarat makna spiritual.

Sesolahan Sanghyang Jaran dilaksanakan oleh tiga orang yang dilinggihi, yakni I Gusti Gede Sari, I Gusti Nengah Kaler, serta Ni Gusti Putu Wati. Kehadiran Ni Gusti Putu Wati menjadi perhatian tersendiri karena ia merupakan satu-satunya perempuan yang dilinggihi dan mesolah Sanghyang Jaran di Pura Ambengan, menambah kekhasan dan nilai sakral prosesi tersebut.

Pengempon Pura Ambengan, I Gusti Gede Purna, menegaskan bahwa penyineban ini merupakan wujud sraddha dan bhakti krama ring Betara Hyang Geni Jaya yang berstana di Pura Ambengan. Lebih dari itu, ritual ini menjadi tonggak penting pelestarian tradisi sakral warisan leluhur yang sempat vakum selama 78 tahun dan kini kembali dibangkitkan.

“Penyineban ini adalah rangkaian akhir sesolahan Sanghyang Jaran yang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Keenam sebagai momentum pemarisuda jagat. Harapannya, umat dan alam semesta senantiasa dianugerahi kerahayuan serta terhindar dari segala bentuk gangguan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan ritual ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan krama Banjar Timbul dan Pengempon Pura Ambengan dalam menjaga serta merawat adat, budaya, dan tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun.

Dengan terlaksananya prosesi penyineban Sanghyang Jaran ini, masyarakat berharap tercipta keharmonisan antara parhyangan, pawongan, dan palemahan, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana serta kearifan lokal Bali yang terus dijaga di tengah dinamika zaman. ( Eno).