Peringatan 1 Suro di Pamenang Kediri: Prosesi Jamasan Sakral di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo
Kediri | Serulingmedia.Com – Puluhanan keturunan keluarga besar Mataraman melakukan prosesi Jamasan mengawali peringatan Satu Suro, di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo di Pamenang, Kabupaten Kediri, Sabtu ( 6/7/2024 ).

Prosesi Jamasan ini merupakan bagian dari ritual satu suroan yang sakral dan penuh makna bagi masyarakat dan keluarga besar Mataraman Eyang Mualib Noto Buono.

Sunardi, seorang juru kunci Pamoksan Prabu Sri Aji Joyoboyo, menjelaskan Jamasan adalah sebuah proses penyucian area yang dilakukan menjelang pelaksanaan ritual Satu Suroan.
Ritual ini adalah salah satu bentuk penghormatan dan pemeliharaan tradisi budaya serta spiritual yang telah berlangsung sejak zaman dahulu.
Prosesi Jamasan tidak hanya sekadar pembersihan fisik, melainkan juga penyucian spiritual yang dianggap penting oleh masyarakat setempat. Ada tiga area utama yang disucikan dalam prosesi ini, yaitu:

Loka Moksa Prabu Sri Aji Joyoboyo
Batu Manik atau Batu Gilang adalah tempat di mana Prabu Sri Aji Joyoboyo moksa seorang raja besar dalam sejarah Jawa, diyakini mencapai moksa atau kesempurnaan spiritual. Penyucian area ini adalah bentuk penghormatan kepada sang raja dan pengharapan agar semangat kesucian tetap terjaga.

Areal Mahkota
Area ini dianggap sebagai simbol kekuasaan dan kebesaran Prabu Sri Aji Joyoboyo. Penyucian di sini melambangkan pembersihan dari segala bentuk energi negatif dan memperkuat aura positif dari kekuasaan yang adil dan bijaksana.

Areal Lokabusana
Tempat ini adalah lokasi penyimpanan busana dan atribut kebesaran raja. Prosesi penyucian di area ini dilakukan untuk menjaga keagungan dan keaslian benda-benda bersejarah yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Prosesi Jamasan diawali dengan persiapan bahan-bahan seperti air suci yang telah diberkati, bunga-bungaan, dan daun-daunan tertentu yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.
Juru kunci, bersama keluarga besar Mataraman dengan dan masyarakat, melaksanakan prosesi ini dengan penuh khidmat dan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ritual Jamasan memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi ini. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah, prosesi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan spiritual antar anggota komunitas. Masyarakat berkumpul, berdoa bersama, dan merasakan kekuatan spiritual yang terpancar dari prosesi tersebut.
Selain itu, Jamasan juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kebersihan, baik fisik maupun spiritual, dalam kehidupan sehari-hari. Penyucian area yang dilakukan bukan hanya simbolik, tetapi juga mengandung pesan moral untuk selalu menjaga kesucian hati dan pikiran.
Dengan melaksanakan prosesi Jamasan secara rutin, masyarakat berharap agar nilai-nilai luhur dan ajaran spiritual dari leluhur mereka dapat terus lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ritual ini menjadi salah satu bentuk nyata dari usaha untuk mempertahankan identitas budaya dan spiritual yang kaya akan nilai-nilai kebajikan.
Secara keseluruhan, Jamasan adalah cerminan dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat yang masih menghargai dan menjaga warisan leluhur dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.
” Penyucian ini dianggap penting untuk menjaga kesucian dan kehormatan tempat-tempat tersebut, yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi ” ungkap Sunardi.
Usai penyucian, ada prosesi doa bersama dan diakhiri dengan pemasangan karpet merah dan tabur bunga melati dan areal pamoksan dinyatakan tertutup atau steril. Pintu dibuka pada waktu pelaksaan satu suroan, minggu ( 7 /7/2024 ).
Pelaksanaan penyucian ini dilakukan oleh perkumpulan keluarga besar Mataraman yang tergabung dalam “Eyang Mualib Noto Buono”.
Puluhan keluarga besar Mataram yang hadir dalam acara ini berasal dari berbagai daerah, seperti Jambean Kediri, Mbah Kusen Batu, Mbah Sodik Malang, Mbah Ropingi Gresik, Mbah Manabi Malang, Mbah Jumain Gunung Kawi, Mbah Bodho Gresik, Bu Sumina Kejapanan Kabupaten Pasuruan, Bu Mendur Gresik, serta utusan keluarga dari Tajinan Malang, Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo.

Ma’ruf atau yang akrab disapa Gus Tosok, koordinator keluarga besar dari Gajah Purwo Nusantara, mengajak seluruh peserta untuk melaksanakan kerja bhakti penyucian ini dengan tulus sebagai bentuk bakti kepada leluhur, Eyang Prabu Sri Aji Joyoboyo.
“Mari kita laksanakan kerja bhakti penyucian ini sebagai bakti kita sebagai keluarga besar Mataraman untuk leluhur Eyang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Semoga kita mendapat berkah,” ungkapnya.
Prosesi Jamasan ini tidak hanya menjadi simbol kebersihan fisik, tetapi juga kebersihan batin.
Melalui ritual ini, diharapkan semangat gotong royong dan kebersamaan antar anggota keluarga besar Mataraman dapat terus terjalin, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur dapat terus dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan 1 Suro di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo menjadi momen penting untuk mengenang sejarah dan menghormati warisan budaya yang kaya.
Dengan melaksanakan prosesi Jamasan, masyarakat setempat menunjukkan rasa hormat dan cinta mereka terhadap leluhur serta mengukuhkan identitas budaya yang kuat di tengah arus modernisasi.( Eno ).






