Soto Kali Lanang: Sepiring Soto, Sepenggal Cerita dari Pandanrejo

1904531_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Di tengah perubahan wajah Kota Batu yang terus bergerak, ada tempat-tempat sederhana yang akan tetap menjadi penanda sebuah zaman.

 

Salah satunya Soto Kali Lanang di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Warung yang berdiri sejak 2011 ini bukan sekadar tempat menyantap semangkuk soto, tetapi juga menyimpan cerita keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

 

Warung tersebut berawal dari keluarga Pak Manan, Kepala Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Dari keluarga inilah gagasan membuka warung soto tumbuh.

 

Dulu, kata Bu Ita, keinginan keluarga untuk menikmati soto daging tidak selalu mudah diwujudkan. Mereka bahkan harus menunggu momentum daging kurban untuk bisa menikmati soto daging.

 

Cerita sederhana itu kemudian menjadi alasan bagi keluarga untuk membuka warung sendiri. Pada 2011, Soto Kali Lanang mulai berdiri dengan harga jual sekitar Rp8 ribu per mangkuk.

 

Kini, usaha tersebut dikelola Bu Ita, anak Pak Manan. Lebih dari satu dekade berjalan, warung itu akan terus berusaha mempertahankan cita rasa sekaligus menjaga harga agar tetap bisa dijangkau masyarakat.

 

“Dulu kalau ingin makan soto daging, kami harus menunggu daging kurban. Dari situ akhirnya terpikir untuk membuka warung soto sendiri. Harapannya, bisa makan soto kapan saja dan masyarakat juga bisa menikmati dengan harga yang terjangkau,” ujar Ita.

Di dalam mangkuk, Soto Kali Lanang akan menyuguhkan kuah gurih dengan daging, koya, bawang goreng, dan kecambah. Perpaduan sederhana itu justru menjadi kekuatan utama yang membuat pelanggan datang kembali.

 

Harga satu mangkuk saat ini dipatok Rp17 ribu. Ita mengatakan, harga tersebut sebisa mungkin dipertahankan meski harga bahan baku terus mengalami kenaikan.

 

“Sekarang harga daging sudah sekitar Rp140 ribu per kilogram. Minggu lalu masih sekitar Rp120 ribu. Tapi untuk harga soto, sementara ini tetap kami pertahankan Rp17 ribu,” kata Ita.

 

Bagi Ita, mempertahankan harga bukan berarti mengabaikan persoalan usaha. Ada perhitungan yang harus dilakukan setiap hari agar kualitas bahan tetap terjaga, sementara pelanggan tidak terlalu terbebani.

 

“Yang penting rasa tetap kami jaga. Kami ingin soto ini tetap enak dan harganya masih bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya.

 

Setiap hari, rata-rata sekitar 50 mangkuk soto akan terjual. Aktivitas warung dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga 16.00 WIB.

 

Selain melayani pelanggan yang datang langsung, Soto Kali Lanang juga menerima pesanan untuk berbagai kegiatan dan acara.

Salah satu pelanggan, Gaib Sampurno, mengaku memiliki kesan tersendiri setelah menikmati Soto Kali Lanang. Menurutnya, cita rasa soto menjadi salah satu alasan yang membuat warung tersebut layak untuk dikunjungi.

 

“Rasanya enak dan mantap. Pelayanannya juga ramah. Apalagi kopinya khas dan enak,” ujar Gaib.

 

Menurut Gaib, pengalaman menikmati Soto Kali Lanang akan terasa berbeda jika datang dan menikmatinya secara langsung.

 

“Kalau Anda belum menikmati, datang sendiri. Tidak akan merasakan sensasi rasa soto khas Batu ini kalau belum mencobanya langsung,” katanya.

 

Testimoni tersebut menjadi gambaran bahwa kekuatan Soto Kali Lanang bukan hanya terletak pada semangkuk soto. Suasana warung, keramahan pelayanan, hingga sajian kopi khas ikut membangun pengalaman bagi pelanggan.

 

Perjalanan warung ini juga tidak lepas dari pelanggan dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh Kota Batu, termasuk mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko beserta wakilnya, disebut pernah singgah dan menikmati soto di warung tersebut.

 

Namun bagi Ita, kedatangan siapa pun bukanlah ukuran utama keberhasilan warung. Yang lebih penting adalah bagaimana pelanggan datang karena rasa, kemudian kembali karena merasa dekat dengan suasana dan pelayanan.

 

“Bagi kami, pelanggan itu bagian dari perjalanan warung. Ada yang sudah datang sejak dulu, ada juga pelanggan baru. Kami senang kalau mereka kembali lagi,” tutur Ita.

 

Lebih dari sekadar bisnis kuliner, Soto Kali Lanang akan menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha kecil dapat tumbuh dari cerita keluarga.

Dari keinginan sederhana untuk bisa menikmati soto daging, lahirlah sebuah warung yang kini telah melewati perjalanan lebih dari 15 tahun.

 

Di tengah harga bahan pangan yang terus berubah, Ita akan tetap berusaha menjaga resep, rasa, dan harga. Sebab baginya, mempertahankan usaha bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjaga kepercayaan pelanggan.

 

“Semoga Soto Kali Lanang tetap bisa bertahan dan semakin dikenal. Kami ingin tetap memberikan soto yang enak dengan harga yang terjangkau,” kata Ita.

 

Di Pandanrejo, semangkuk soto akhirnya akan menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi cerita tentang keluarga, perjuangan, ketekunan, dan sebuah mimpi sederhana yang perlahan tumbuh menjadi usaha yang diwariskan.

 

Soto Kali Lanang buka setiap hari pukul 07.30–16.00 WIB dan menerima pesanan untuk berbagai acara. Informasi pemesanan dapat menghubungi Ita: 0812-3016-6990. (Eno).