Merawat Apel, Merawat Identitas : Perjuangan Khamim Tohari Bertahan di Tengah Krisis Bahan Baku dan Pangkas Anggaran Dewan

khamim edit

Batu | Serulingmedia.com – Sore itu, aroma apel manalagi yang digoreng perlahan memenuhi udara di sudut rumah produksi kecil milik Khamim Tohari di Kawasan dekat Destinasi Wisata Selecta Batu. Di antara suara mesin spinner yang terus berputar, sang anggota DPRD Kota Batu ini mengamati setiap irisan buah yang mengering menjadi keripik—seolah menjaga sebutir harapan dalam tiap potongan.

Meski banyak yang mengira jabatan politik memberinya kenyamanan finansial, Khamim justru menolak menggantung hidup dari kursi dewan. “Menjadi dewan itu panggilan dan pengabdian. Bukan tempat bergantung untuk makan keluarga,” tegasnya, matanya tetap fokus pada keripik apel yang mulai berubah warna keemasan.

Efisiensi Anggaran, Pilihan Bertahan

Efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas hingga 50 persen aktivitas DPRD bukan hal mudah. Banyak kegiatan reses dan program serap aspirasi ikut terimbas. Tapi bagi Khamim, keputusan untuk tetap bekerja di dapur UMKM miliknya adalah bentuk kemandirian.

Ia sudah lama merintis usaha UMKM keripik buah—apel sebagai produk unggulan, disusul keripik nangka dan salak. Selain itu, ia juga memiliki usaha roti yang dulu berkembang pesat sebelum pandemi Covid-19 meluluhlantakkan permintaan pasar. Kini, usaha rotinya hanya bertahan di angka 50 persen kapasitas produksi.

Krisis Apel, Krisis Identitas Kota Batu

 

Namun ujian terbesar justru bukan pandemi, melainkan fakta pahit: Kota Batu, yang selama ini dijuluki “Kota Apel”, kini hampir tak punya apel manalagi lagi untuk diolah.

“Meski wisata petik apel masih jalan, jumlah buah yang layak olah sebenarnya minim. Apel manalagi hampir hilang dari Batu,” ungkapnya lirih. Untuk bertahan, ia harus mencari pasokan ke Nongkojajar Kabupaten Pasuruan, Poncokusumo, hingga Pujon Kabupaten Malang. Perjalanan yang tak hanya menambah ongkos, tetapi juga menambah rasa pedih.

Harga apel manalagi grade B yang dulu hanya Rp6.000 kini melonjak hingga Rp15.000 per kilogram. Grade A bahkan tembus Rp30.000. Akibatnya, harga keripik apel yang dulu Rp120.000 per kilogram kini terpaksa naik menjadi Rp140.000.

Ketika Apel Tak Lagi Sekadar Buah

Dalam konteks ini, perjuangan Khamim bukan hanya soal bertahan hidup secara finansial, tetapi juga memperjuangkan jati diri Kota Batu.  “Kalau apel hilang, maka hilang pula rasa khas Batu. Ini bukan hanya soal industri, tapi soal kebanggaan,” ujarnya.

Ia memimpikan suatu hari nanti, para petani kembali menanam apel, UMKM kembali hidup, dan wisata petik apel bukan hanya destinasi selfie, tapi muara ekonomi produktif.

Ironis. Barangkali itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Kota Batu hari ini. Sebuah kota yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon apel Indonesia, kini justru kehilangan buah yang menjadi identitas sejarah dan emosionalnya. Di balik kemeriahan wisata modern, hotel berbintang, dan kafe-kafe berkonsep estetik, ada kenyataan getir yang mulai menggerus akar budaya agraris kota ini: apel tak lagi menjadi primadona.

Menurut Khamim Tohari, anggota DPRD Kota Batu sekaligus pelaku UMKM keripik apel, kini hanya sekitar lima persen petani yang masih menanam apel. Selebihnya, mereka telah beralih menanam jeruk, sayuran, atau bahkan menjual lahan untuk pembangunan pariwisata. Transformasi ini mungkin dianggap sebagai konsekuensi logis dari perkembangan ekonomi, namun sesungguhnya ia menyimpan tanda bahaya yang lebih dalam: hilangnya jati diri.

Apel Batu bukan sekadar produk hortikultura. Ia adalah simbol kebanggaan, bagian dari memori kolektif warga, dan identitas yang melekat hingga ke nama-nama desa, festival, hingga ikon wisata. Namun ketika pariwisata massal masuk membawa arus komersial yang deras, banyak petani memilih jalan instan: menjual lahan atau mengganti komoditas.

Logika ekonomi mereka jelas: jeruk panennya lebih cepat, sayuran lebih mudah dijual, dan lahan wisata memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun dalam jangka panjang, apakah keuntungan itu cukup untuk menggantikan nilai strategis satu identitas kota?

Ketika apel menghilang dari kebun-kebun warga, bukan hanya industri keripik yang terdampak. UMKM turun skala, lapangan kerja menyusut, dan brand Kota Batu perlahan kehilangan daya tarik emosionalnya. Wisata apel yang dulu menjadi pengalaman khas kini hanya tinggal sebagai atraksi artifisial di beberapa kebun wisata, lebih banyak untuk kebutuhan foto ketimbang produktivitas pertanian.

Khamim memperingatkan dengan nada prihatin, “Kalau kondisi ini terus dibiarkan, Batu bisa benar-benar kehilangan jati diri sebagai kota apel.” Ucapan ini bukan sekadar kekhawatiran personal, melainkan alarm sosial yang menggema dari lapisan ekonomi kreatif lokal.

Meski tekanan datang dari berbagai arah, Khamim tetap berdiri. Di dapur produksi, di ruang rapat dewan, dan di tengah pasar UMKM. Ia menutup hari itu sambil menyusun kemasan keripik apel yang siap dipasarkan ke Malang Raya, Bandung, hingga Kalimantan.

“Keripik apel ini bukan sekadar makanan. Ini cerita Batu yang masih kami perjuangkan,” gumamnya pelan.

Menjaga Apel, Menjaga Jiwa Kota

Kota tanpa identitas adalah kota yang kehilangan arah. Kota Batu tidak boleh menjadi sekadar destinasi wisata generik yang bisa digantikan kota manapun di Indonesia. Batu harus tetap menjadi Batu—dengan semangat petaninya, manisnya apel manalagi, dan narasi sejarahnya yang membumi.

Jika apel hilang dari Batu, sejatinya bukan hanya buah yang hilang, melainkan cerita. Dan ketika cerita hilang, jiwa kota pun ikut memudar.

Dalam tiap irisan apel yang dikeringkan, terselip secercah asa: semoga Batu suatu hari kembali dikenal, bukan hanya sebagai kota wisata, tetapi sebagai rumah apel manalagi—buah manis yang dulu tumbuh subur bersama identitas warganya.( Eno).