Ladu Jajanan Sakral : Camilan Legendaris Kota Batu yang Sarat Makna Persaudaraan
Batu I Serulingmedia.com – Ladu, makanan ringan khas Kota Batu, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner setempat. Terbuat dari beras ketan yang diolah dengan cara tradisional, Ladu bukan sekadar camilan, tetapi juga memiliki nilai historis dan filosofis yang mendalam. Keberadaannya yang masih lestari hingga kini menunjukkan betapa kuatnya tradisi kuliner dalam membangun identitas suatu daerah.
Sejarah dan Filosofi Ladu
Menurut legenda, Ladu lahir dari sebuah peristiwa dalam sebuah keluarga yang tengah berselisih paham. Dalam kemarahan, salah satu anggota keluarga memukul-mukul nasi ketan hingga hancur. Sang ibu, yang melihat kejadian tersebut, mencoba mengolah nasi ketan yang telah hancur itu dengan cara membakarnya di atas kuali. Hasilnya, nasi ketan tersebut mengembang dan mekar menjadi camilan yang lezat.
Melihat makanan yang tak sengaja tercipta ini, sang ibu kemudian mengajarkan kepada anak-anaknya tentang makna persaudaraan. Ia memberi nama camilan itu Ladu, yang merupakan akronim dari “L” (Langgengo – selamanya), “A” (Anggonmu – gunakanlah), dan “DU” (Seduluran – persaudaraan). Dengan demikian, Ladu bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol perdamaian dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Proses Pembuatan Ladu yang Penuh Ketelatenan
Meskipun termasuk jajanan tradisional, pembuatan Ladu membutuhkan kesabaran dan keterampilan khusus. Menurut Rudi Kuswoyo, seorang produsen Ladu di Kota Batu yang telah berkecimpung dalam usaha ini sejak tahun 2002, pembuatan Ladu dimulai dengan merendam beras ketan selama sehari semalam. Setelah dikeringkan, beras ketan digiling menjadi tepung, lalu ditanak hingga matang dan ditumbuk sampai kalis. Selanjutnya, adonan dicampur dengan gula yang sudah dimasak, dipipihkan, dipotong kecil, dijemur, dan akhirnya dipanggang hingga siap disantap.

“ Beras ketan harus direndam sehari semalam, dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung. Setelah itu, tepung ditanak hingga matang, ditumbuk sampai kalis, dan dicampur dengan gula yang sudah dimasak. Kemudian, adonan dipipihkan, dipotong kecil, dijemur seharian, lalu dipanggang hingga siap disantap,” jelasnya, Selasa malam ( 25/3/2025 )
Keunikan lain dari pembuatan Ladu adalah pengaruh emosi pembuatnya. Rudi percaya bahwa jika seseorang membuat Ladu dengan hati yang tidak sabar atau dalam kondisi marah, maka hasilnya akan gagal. Hal ini semakin memperkuat filosofi bahwa Ladu adalah simbol dari kesabaran, ketelatenan, dan keharmonisan dalam kehidupan.
“Kalau sedang marah atau tidak sabar, pasti Ladu-nya gagal,” papar Rudi sambil tertawa.
Ladu di Era Modern: Antara Tradisi dan Tantangan
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, keberadaan Ladu masih tetap bertahan. Rudi bahkan mendirikan “Kampung Ladu” pada tahun 2007 sebagai sentra produksi yang menarik minat banyak orang. Ladu dijual dengan harga Rp100 ribu per kilogram, sementara kemasan 4,5 ons dijual seharga Rp40 ribu. Setiap Ramadan, rumah produksinya selalu dipenuhi antrean pembeli yang rela menunggu hingga Ladu matang dari oven.
Namun, tantangan tetap ada. Semakin sedikit orang yang berminat untuk memproduksi Ladu karena proses pembuatannya yang rumit. Hal ini menjadi tantangan bagi pelestarian kuliner tradisional agar tidak punah di tengah derasnya arus makanan instan dan cepat saji.
Menurut Rudi Kusworo, Ladu bukan sekadar makanan ringan khas Kota Batu, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang kaya akan nilai historis dan filosofis. Kisah di balik pembuatannya mengajarkan pentingnya persaudaraan, kesabaran, dan ketelatenan dalam hidup. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, eksistensi Ladu hingga kini menunjukkan bahwa tradisi tetap bisa hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Sebuah camilan sederhana, namun penuh makna tentang kebersamaan yang langgeng.( Eno )






