Yani Handoko tentang Sentot: Dari Pokja ke Podium, Prestasi Batu Jangan Berhenti di Medali

1901878_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Prestasi Kota Batu pada Porprov IX Jawa Timur 2025 tidak cukup dibaca sebagai deretan angka di papan klasemen.

 

Di balik 33 emas, 40 perak, dan 40 perunggu yang membawa Batu ke peringkat ketujuh, terdapat perubahan cara pandang terhadap olahraga: dari sekadar kompetisi menjadi bagian dari strategi membangun citra dan ekonomi kota.

 

Nama Sentot Ariwahyudi berada di tengah perubahan itu.

Bagi Yani Handoko, perjalanan Sentot menarik karena tidak bermula dari arena olahraga. Ia lebih dahulu ditempa dalam kerja-kerja organisasi dan komunikasi publik sejak menjadi bagian dari Pokja Kota Bidang Sosial dalam proses perubahan status Batu.

“ Pak Sentot bukan muncul tiba-tiba ketika medali mulai berdatangan. Ia memiliki pengalaman panjang dalam mengorganisasi masyarakat, membangun komunikasi, dan menyatukan kepentingan. Modal itu kemudian dibawa ke KONI,” kata Yani.

Menurut Yani, pengalaman Sentot sebagai juru penerang Departemen Penerangan menjadi bagian penting dari kemampuan tersebut.

 

Pada masa perjuangan perubahan status Batu, pekerjaan utamanya bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun keyakinan masyarakat bahwa Batu mampu berdiri sebagai daerah otonom.

“Ada benang merah antara Pokja dan KONI. Keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan membangun kepercayaan. Bedanya, dulu yang diperjuangkan adalah identitas dan masa depan daerah. Kini yang diperjuangkan adalah prestasi dan martabat olahraga Kota Batu,” ujarnya.

Tuan Rumah yang Tidak Mau Sekadar Menjadi Penonton

Ketika Sentot terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KONI Kota Batu pada November 2022, tantangan besar sudah menunggu.

Porprov 2025 digelar di Malang Raya dan Kota Batu menjadi salah satu tuan rumah. Posisi itu menyimpan dua kemungkinan: Batu hanya sukses menyelenggarakan pertandingan atau sekaligus sukses sebagai kontingen.

Sentot memilih kemungkinan kedua.

Hasilnya tercatat dalam statistik. Batu mengoleksi 113 medali—33 emas, 40 perak, dan 40 perunggu—serta menempati peringkat ketujuh.

Padahal pada Porprov 2023, Batu hanya meraih 22 emas dan berada di peringkat ke-16.

Yani menilai lompatan tersebut penting, tetapi angka tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran.

“Medali adalah hasil. Yang jauh lebih penting adalah sistem yang melahirkan medali itu. Kalau sistemnya kuat, prestasi bisa berulang. Kalau hanya bergantung pada figur dan momentum, prestasi bisa turun ketika momentum selesai,” kata Yani.

Pernyataan itu menjadi catatan penting bagi KONI dan Pemerintah Kota Batu.
Sebab, keberhasilan menjadi tuan rumah sekaligus meraih prestasi harus dijadikan titik awal, bukan garis akhir.

Sport Tourism: Jangan Berhenti sebagai Jargon

Salah satu gagasan yang menonjol dalam penyelenggaraan Porprov di Batu adalah integrasi olahraga dengan pariwisata.

Venue pertandingan ditempatkan di kawasan wisata, hotel, dan gedung bersejarah. Olahraga dengan demikian tidak berdiri sendiri, tetapi masuk ke dalam ekosistem pariwisata.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Chori, menyebut penempatan venue tersebut sebagai inovasi KONI Batu.

Bagi Yani, gagasan itu relevan dengan karakter Kota Batu yang selama ini mengandalkan sektor pariwisata.

“Batu tidak bisa selamanya menjual wisata dengan pola lama. Wisatawan membutuhkan pengalaman baru. Sport tourism bisa menjadi pintu masuk baru, tetapi harus dibuat menjadi industri dan kalender kegiatan, bukan hanya jargon ketika ada Porprov,” tuturnya.

Menurut dia, cabang seperti paralayang, downhill, arung jeram, dan olahraga berbasis alam memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai identitas baru Batu.

Namun, peluang itu membutuhkan keberanian pemerintah dan KONI untuk berpikir lebih jauh.

Pertandingan harus dibuat rutin. Venue harus hidup. Atlet harus memiliki ruang kompetisi. Industri hotel, restoran, transportasi, UMKM, dan ekonomi kreatif harus memperoleh dampaknya.

“Kalau setelah Porprov venue kembali sepi, hotel kembali seperti biasa, dan tidak ada agenda olahraga berkelanjutan, maka sport tourism hanya menjadi cerita indah di atas kertas,” ujar Yani.

113 Medali dan Pertanyaan Setelahnya
Keberhasilan Batu mengoleksi 113 medali tentu patut diapresiasi.

Tetapi prestasi itu sekaligus melahirkan pertanyaan baru: apakah Batu mampu mempertahankan bahkan meningkatkan pencapaian tersebut pada Porprov berikutnya?

Pertanyaan itu tidak sederhana.
Pembinaan atlet membutuhkan waktu. Regenerasi membutuhkan sekolah olahraga, klub, pelatih, fasilitas, kompetisi, dan pembiayaan. Prestasi tidak dapat dibangun dengan pendekatan instan.

Program pemusatan latihan tiga bulan dan tes VO2 Max menjadi salah satu langkah yang dilakukan. Atlet potensial juga mulai diproyeksikan untuk Porprov 2027 di Surabaya.

Sentot juga memperkenalkan jargon “Semangat Juara” dan memasukkan character building dalam pembinaan atlet. Menurut Yani, aspek tersebut justru penting.

 

“Juara itu bukan hanya soal otot dan teknik. Atlet harus memiliki karakter. Kalau Kota Batu ingin membangun tradisi juara, maka yang dibangun bukan hanya atlet hari ini, tetapi manusia yang memiliki disiplin dan mental kompetitif untuk masa depan,” katanya.

Tantangan Terbesar Sentot

Namun, Yani melihat ada tantangan yang lebih besar daripada mempertahankan peringkat ketujuh.

Yakni mengubah keberhasilan Sentot menjadi sistem yang tidak bergantung pada Sentot.

“Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan ketika semua hal bergantung kepada dirinya. Justru sebaliknya, ia berhasil ketika sistem yang dibangunnya mampu berjalan meski figur itu suatu saat tidak lagi berada di sana,” kata Yani.

Karena itu, KONI Batu perlu memastikan regenerasi atlet, pemerataan pembinaan cabang olahraga, transparansi program, penguatan kemitraan dengan dunia usaha, serta integrasi olahraga dengan agenda pariwisata.

Pemerintah daerah juga perlu melihat olahraga bukan semata pos belanja, melainkan investasi sosial dan ekonomi.

Jika olahraga mampu mendatangkan event, wisatawan, menghidupkan hotel, menggerakkan UMKM dan menghasilkan atlet berprestasi, maka anggaran olahraga harus dibaca sebagai investasi pembangunan.

Dari Pokja ke Podium

Perjalanan Sentot dari Pokja hingga KONI memperlihatkan satu hal: pengalaman organisasi dapat menjadi modal penting ketika diterapkan dalam arena yang berbeda.

Dulu, ia berada dalam kerja membangun kesadaran tentang identitas Batu.
Kini, ia berada di tengah upaya membangun identitas Batu melalui olahraga.
Tetapi sejarah tidak berhenti pada pencapaian.

Yani mengingatkan, 113 medali bukanlah akhir cerita. Justru angka itu menjadi ujian berikutnya.

“Sekarang jangan lagi bertanya apakah Batu bisa berprestasi. Itu sudah terjawab. Pertanyaannya adalah apakah Batu bisa membuat prestasi tersebut menjadi tradisi. Kalau bisa, barulah kita bicara tentang warisan, bukan sekadar kemenangan,” ujar Yani.

Di situlah masa depan olahraga Kota Batu dipertaruhkan.

Sentot telah membawa Batu dari bawah menuju podium.
Kini tantangannya lebih berat: memastikan podium itu bukan tempat singgah, melainkan menjadi tradisi. ( Eno).