Rekonstruksi Islam Jawa: Prof. Roibin Tawarkan Paradigma Baru Memahami Sinkretisme Agama dan Tradisi Kejawen
Batu | Serulingmedia.com – Pemikiran baru tentang hubungan antara Islam dan budaya Jawa kembali mengemuka melalui karya ilmiah Prof. Dr. H. Roibin, MHI, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, bertajuk “Rekonstruksi Islam Jawa: Upaya Baru Memahami Tradisi Islam dan Agama Jawa.”
Karya ini menjadi refleksi mendalam atas dialektika panjang antara mistisisme Islam dan kejawen yang telah membentuk wajah religius masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Paparan gagasan ini disampaikan Prof. Roibin dalam Seminar Nasional di Pascasarjana UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Rabu (5/11/2025).
Seminar ini menarik perhatian para dosen, mahasiswa, peneliti, serta tokoh masyarakat yang antusias mendiskusikan gagasan baru tentang bagaimana Islam dan kejawen dapat dipahami secara harmonis dan saling memperkaya.
Membaca Ulang Islam Jawa sebagai Kekayaan Spiritual Nusantara

Dalam paparannya, Prof. Dr. H. Roibin, MHI menegaskan bahwa konsep Rekonstruksi Islam Jawa berangkat dari kesadaran untuk memahami kembali akar budaya keislaman di tanah Jawa.
Ia menjelaskan bahwa jauh sebelum datangnya Islam, masyarakat Nusantara telah mengenal sistem kepercayaan monoteistik yang disebut agama Kapitayan.
“Kapitayan adalah agama asli Nusantara yang percaya kepada satu Tuhan, Sang Hyang Taya, yang abstrak dan tak kasat mata, namun diyakini sebagai sumber kehidupan. Dari sanalah lahir karakter spiritual Jawa yang terbuka, toleran, dan sinkretik,” tutur Roibin.
Karakter keterbukaan itu kemudian melandasi proses akulturasi antara Islam dan budaya Jawa. Saat Islam datang melalui para Wali Sanga, ajarannya diterima dengan cara damai dan beradaptasi dengan nilai-nilai lokal.
Dari sinilah lahir tradisi Islam Kejawen — sebuah perpaduan antara ajaran tauhid dan filosofi rasa yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa.
Menurut Roibin, karya-karya klasik seperti Serat Centhini, Serat Wedhatama, Wulangreh, hingga Suluk-suluk Wali Sanga adalah bukti nyata bahwa spiritualitas Jawa dan Islam saling menjiwai.
“Karya para pujangga Jawa itu bukan sekadar sastra, melainkan peta jalan spiritual yang mencerminkan manunggaling kawula lan Gusti — kesatuan antara manusia dan Tuhan,” ungkapnya.
Rasa sebagai Jalan Spiritualitas Jawa
Dalam penjelasan lebih mendalam, Prof. Roibin menyoroti bahwa inti dari mistik kejawen terletak pada konsep rasa sejati.
Ungkapan terkenal “wong Jawa kuwi nggone rasa” menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memahami hidup bukan semata dengan logika, melainkan dengan kepekaan batin yang halus.
“Rasa sejati adalah ruang batin tempat Tuhan bertahta. Dalam kesunyian rasa itulah manusia Jawa menemukan makna ketuhanan yang sejati,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan konsep ini dengan ajaran tasawuf Islam, terutama doktrin wahdatul wujud (kesatuan wujud) dari Ibn Arabi.
“Manunggaling kawula lan Gusti dalam kejawen adalah bentuk pengalaman spiritual yang sejalan dengan ajaran sufistik Islam. Ia bukan penyimpangan, melainkan wujud dari pencarian tauhid yang lebih dalam,” tegas Roibin.
Rekonstruksi Islam Jawa: Mencari Titik Temu Spiritual
Lebih jauh, Roibin menegaskan bahwa Rekonstruksi Islam Jawa bukan upaya untuk mencampuradukkan agama, tetapi untuk memahami titik temu spiritual di antara keduanya.
“Jika Islam menjanjikan surga melalui ketaatan ritual, maka kejawen mengajarkan harmoni dunia melalui pengendalian rasa. Keduanya sama-sama menuju Tuhan, hanya melalui jalan yang berbeda,” ujar Roibin, mengutip pandangan antropolog Andrew Beatty.
Bagi masyarakat Jawa, lanjutnya, ajaran memayu hayuning bawana — menjaga keseimbangan alam dan kehidupan — merupakan bagian dari ibadah itu sendiri.
“Ritual kejawen adalah bentuk rasa bakti kepada Tuhan, sebagaimana salat adalah bentuk penghambaan dalam Islam,” tambahnya.
Islam Jawa: Bukan Penyimpangan, Melainkan Adaptasi Cerdas
Roibin menjelaskan bahwa banyak kesalahpahaman muncul ketika Islam Jawa dipandang sebagai Islam yang “tidak murni”. Ia justru menilai Islam Jawa sebagai bentuk adaptasi kultural yang sangat cerdas dan kontekstual.

“Islam tidak hadir di ruang kosong. Ia berdialog dengan sejarah dan kebudayaan manusia. Maka, Islam di Jawa bukanlah Islam yang menyimpang, melainkan Islam yang membumi, berbudaya, dan penuh rasa,” ujar Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.
Ia menilai bahwa upaya pemurnian agama yang mengabaikan konteks lokal sejatinya adalah bentuk penggusuran paksa terhadap kearifan budaya.
“Kosmologi Arab tidak bisa serta merta menggantikan kosmologi Jawa tanpa proses adaptasi yang mendalam,” tambahnya.
Meneguhkan Islam Nusantara yang Berkeadaban
Seminar Nasional ini menegaskan pentingnya kajian lintas budaya dan lintas disiplin dalam memahami keberagaman ekspresi keislaman di Indonesia.
Para peserta berharap agar masyarakat akademik tidak melihat Islam Jawa sebagai bentuk “anomali”, melainkan sebagai warisan spiritual yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Prof. Roibin menambahkan dengan nada reflektif:
“Agama adalah cermin pergulatan manusia dan kebudayaannya. Islam di tanah Jawa adalah Islam yang menemukan kemanusiaannya sendiri — lembut, arif, dan berjiwa rasa.”
Seminar Nasional “Rekonstruksi Islam Jawa” di Pascasarjana UINSA Surabaya ini bukan hanya menjadi ajang ilmiah, tetapi juga momentum penting untuk membangun kesadaran baru bahwa agama dan budaya bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang sama-sama membawa manusia menuju Tuhan.( Eno).






