Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana: Rektor Perempuan Pertama UIN Malang dengan Visi Global
Malang | Serulingmedia.com – Pada 21 Oktober 1973, di Pasuruan, lahirlah seorang perempuan yang kelak menorehkan sejarah penting di dunia pendidikan tinggi Islam Indonesia. Dialah Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP. Berasal dari keluarga besar Ponpes Al- Yasini Areng-Areng Pasuruan.
Rektor perempuan pertama Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang masa bhakti 2025 – 2029 yang Pelantikannya di Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Kamis (31/7/2025),
Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman panjang di dunia kampus, ia kini menahkodai UIN Malang dengan visi besar: menjadikan kampus ini sebagai pusat peradaban pendidikan Islam berkelas dunia.
Langkah Awal Kepemimpinan
Sejak awal masa kepemimpinannya, Prof. Ilfi langsung menegaskan dua fokus utama: peningkatan layanan mahasiswa dan penguatan daya saing lulusan. Ia menjadikan percepatan akreditasi program studi sebagai prioritas 100 hari pertama.

“PR kita ke depan adalah peningkatan kualitas layanan kepada mahasiswa. Mulai dari SDM, sarana prasarana, pengembangan kelembagaan, hingga reputasi dan akreditasi,” ujarnya tegas.
Saat ini, 64 persen program studi di UIN Malang telah meraih akreditasi unggul. Prof. Ilfi memasang target ambisius: seluruh prodi unggul pada 2029, dan minimal 80 persen di antaranya terakreditasi internasional dalam lima tahun ke depan.
Untuk mewujudkan visi global itu, ia juga menyiapkan rebranding website resmi UIN Malang agar lebih ramah mahasiswa asing dan audiens internasional.
“Informasi kampus harus terbaca secara internasional. Kita ingin membuka diri, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia,” tambahnya
Jejak Akademik: Dari Ekonomi Syariah ke Manajemen SDM
Perjalanan akademik Prof. Ilfi dimulai dari bangku kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dengan jurusan Ekonomi Syariah.
Ia kemudian melanjutkan studi S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung, sebelum meraih gelar doktor Ilmu Ekonomi bidang Manajemen di Universitas Airlangga, Surabaya.

Mengapa memilih manajemen SDM? Menurutnya, mengelola manusia jauh lebih kompleks dibandingkan mengelola modal atau sistem.
“Banyak lembaga besar sulit maju karena SDM tidak dimanage dengan baik. Karena itu saya termotivasi memilih bidang manajemen SDM. Sampai guru besar saya pun di bidang ini,” jelasnya.
Motivasi terbesar datang dari keluarga. Kakak-kakak, orang tua, hingga suami selalu memberikan dukungan penuh dalam perjalanan akademiknya.
“Support keluarga adalah energi saya sejak S1 hingga S3. Mereka adalah orang-orang paling berharga dalam hidup saya,” ucapnya penuh syukur.
Karier yang Dibangun dari Bawah
Menjadi dosen adalah jalan pengabdian yang dipilih Prof. Ilfi sejak muda. Setelah lulus S1, ia sempat ragu memilih Surabaya atau Malang sebagai tempat berkarier.

Meski Malang saat itu masih berstatus STAIN, dukungan keluarga membuatnya mantap. Ia diterima sebagai CPNS dosen dan memulai perjalanan akademik di kota pendidikan itu.
Langkahnya tidak instan. Dari Ketua Pusat Studi, Wakil Dekan, hingga Wakil Rektor, semua jabatan ia jalani dengan penuh dedikasi.
Posisi paling berkesan baginya adalah saat menjadi Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK).
“Di situ ilmu S3 saya sangat terpakai. Antara teori manajemen SDM dan praktik nyata saling menguatkan. Saya belajar banyak bagaimana membina organisasi secara profesional,” kenangnya.
Untuk memperkuat keahliannya, Prof. Ilfi meraih dua sertifikasi internasional: Certified Advanced Human Resources Manager (CAHRM) dan Certified Risk Management Professional (CRMP).
Sertifikasi ini menambah perspektifnya dalam mengelola SDM sekaligus kemampuan mitigasi risiko kebijakan kampus.
Filosofi Kepemimpinan
Bagi Prof. Ilfi, kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Ia memegang tiga prinsip utama: memiliki visi besar, mampu mengimplementasikan gagasan, dan piawai mengelola risiko.
“Banyak orang punya ide besar, tapi tidak berani mengimplementasikan karena takut risiko. Atau sebaliknya, nekat melaksanakan tanpa mitigasi risiko. Kalau pemimpin bisa menjalankan tiga hal ini, organisasi pasti berjalan,” jelasnya.
Falsafah Jawa “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” menjadi pegangan dalam kepemimpinannya.
“Di depan kita harus jadi teladan, di tengah jadi motivator, dan di belakang tetap mendukung,” tambahnya.
Visi Global dan Model Integrasi
Prof. Ilfi menargetkan peringkat UIN Malang di kancah internasional meningkat signifikan pada 2029.
“UIN Malang kini di ranking 16 perguruan tinggi Islam dunia. Target saya periode ini harus naik,” tegasnya.
Untuk mencapainya, ia mengembangkan Integrated Learning Model—sebuah sistem yang menggabungkan sains modern ala Barat dengan nilai-nilai Islam.
Mahasiswa diwajibkan mengikuti program Ma’had selama setahun penuh, tempat mereka belajar kitab, bahasa Arab, bahasa Inggris, serta memperdalam spiritualitas.
“Ilmu dari Barat diterima berdasarkan logika, sementara dari Timur lebih ke kontemplasi. Di UIN Malang, keduanya harus berpadu. Jika terjadi pertentangan, kita kembali pada agama,” tuturnya.
Prestasi dan Penghargaan
Dalam perjalanan panjangnya, Prof. Ilfi mencatat berbagai capaian penting. Salah satunya adalah keberhasilan mewujudkan pembangunan Kampus III UIN Malang berstandar internasional, yang butuh sembilan tahun perjuangan.

Ia juga membanggakan prestasi mahasiswa yang kian bersinar di berbagai bidang, serta meningkatnya kesejahteraan civitas akademika.
Tidak heran jika berbagai penghargaan datang menghampirinya: Perempuan Inspiratif 2024, Woman of The Year 2024 di bidang manajemen, dan terbaru Top Achievement Award 2025 sebagai Tallent Leader with Innovation in Improving Education of The Year.
Pesan untuk Generasi Z
Prof. Ilfi memahami tantangan era digital dan globalisasi. Ia mendorong mahasiswa UIN Malang untuk bertransformasi, memanfaatkan layanan berbasis digital, serta membekali diri dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
“Ilmu saja tidak cukup. Mahasiswa harus punya skill, spiritualitas, dan akhlak mulia. Itulah yang akan membentengi mereka di tengah arus globalisasi,” pesannya.
Bagi Prof. Ilfi, pendidikan bukan hanya soal mencetak sarjana, melainkan melahirkan generasi ulul albab—insan berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global.
Dari ruang-ruang kelas hingga asrama Ma’had, ia ingin UIN Malang menjadi laboratorium peradaban Islam yang mampu melahirkan lulusan profesional, religius, dan siap menghadapi tantangan zaman.( Buang Supeno).






