Giring Ganesha Resmikan Selecta Jadi Living Museum: Batu Mantapkan Diri Sebagai Kota Wisata Budaya dan Kreativitas Nasional

Screenshot_2025-11-09-08-08-58-879_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia.com – Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (Wamen Kebudayaan RI) Giring Ganesha meresmikan Taman Rekreasi Selecta sebagai Living Museum, Sabtu (8/11/2025).

Dalam kesempatan itu, Giring hadir bersama Wali Kota Batu Nurochman dan sejumlah tokoh kebudayaan dalam dialog bertema “Kemajuan Kebudayaan dan Integrasi Wisata Budaya Kota Batu” yang berlangsung di kawasan wisata legendaris tersebut.

Peresmian ini menjadi salah satu agenda utama Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 yang digelar di Malang Raya, sekaligus menandai babak baru perjalanan Selecta—ikon wisata yang kini bertransformasi menjadi ruang hidup bagi pelestarian sejarah dan kebudayaan Kota Batu.

Taman Rekreasi Selecta, yang berdiri sejak tahun 1928 di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, awalnya dibangun oleh warga Belanda bernama De Reyter De Wildt sebagai tempat peristirahatan para bangsawan kolonial.

Setelah hancur pada masa revolusi kemerdekaan, kawasan ini dibangun kembali oleh 47 tokoh masyarakat setempat pada tahun 1950, dan berkembang menjadi taman rekreasi kebanggaan warga Batu.

Kini, dengan status baru sebagai Living Museum, Selecta diharapkan menjadi pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan lokal, sekaligus simbol perjalanan pariwisata Kota Batu dari masa ke masa.

Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, Sujud Hariadi, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan pemerintah yang menobatkan Selecta sebagai Living Museum.

“Tahun lalu kami dinobatkan sebagai taman rekreasi zero waste, dan tahun ini kami bertransformasi menjadi Living Museum. Kami terus melaksanakan edukasi tentang tanaman, bunga, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Nilai-nilai kemandirian yang diwariskan Bung Hatta juga terus kami jaga hingga sekarang,” ujarnya.

Dalam dialog kebudayaan yang dipandu Ketua Dewan Kesenian Kota Batu, Cak Narto, membahas berbagai langkah konkret untuk memajukan kebudayaan daerah, termasuk tindak lanjut Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), rencana pembentukan taman budaya, serta repatriasi situs sejarah seperti Prasasti Sangguran dan Candi Songgoriti.

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha memberikan apresiasi terhadap semangat komunitas budaya di Kota Batu yang dinilainya telah memiliki visi perjuangan kebudayaan yang kuat.

“Selalu menyenangkan datang ke daerah yang komunitas budayanya punya garis perjuangan jelas seperti di sini. Tidak semua kepala daerah punya visi kebudayaan. Di Batu, semangat itu sudah tumbuh lewat teman-teman budaya dan komunitas kreatif,” ujar Giring.

Ia juga mendorong agar Pemkot Batu mengajukan dana alokasi khusus untuk pembangunan taman budaya yang dapat menjadi ruang ekspresi dan pelatihan bagi masyarakat.

“Kalau dikelola dengan baik, taman budaya bisa menjadi ruang ekspresi, pameran, dan pelatihan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Batu Nurochman menegaskan komitmen Pemkot Batu dalam mengintegrasikan kebudayaan dan ekonomi kreatif.

“Ketika kita bicara jati diri, kita juga harus percaya diri. Kreativitas tidak bisa diinstruksikan oleh pemerintah, tapi tumbuh dari lingkungan yang mendukung. Dari ICCF ini, kita belajar bagaimana kreativitas yang lahir dari budaya bisa berdampak pada ekonomi,” tegasnya.

Nurochman juga menyebut bahwa rencana pembangunan taman budaya telah tercantum dalam program Batu Artpreneur, bagian dari visi misi mBatu Sae.

Saat ini, pemerintah tengah melakukan kajian untuk memperkuat lembaga pengelola sektor kreatif dan kebudayaan.

Acara diakhiri dengan peninjauan area Living Museum Selecta, yang menampilkan perjalanan panjang sejarah Selecta, edukasi flora dan konservasi lingkungan, serta pameran karya budaya masyarakat Batu.

Dengan diresmikannya Living Museum Selecta, Kota Batu semakin menegaskan posisinya sebagai kota wisata berbasis budaya dan kreativitas nasional—tempat di mana sejarah, seni, dan inovasi bertemu dalam harmoni.( Eno).