Prof. Ilfi Nur Diana Soroti Darurat Sampah Plastik di Tanah Suci, Usul Dispenser Air di ARMUZNA

1533310_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Sekretaris Amirul Hajj Indonesia, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, menyoroti persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian dalam penyelenggaraan ibadah haji, yakni tingginya penggunaan botol plastik sekali pakai di kawasan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

 

Prof. Dr. Ilfi Nur Diana mengingatkan pentingnya kesadaran lingkungan dalam pelaksanaan ibadah haji. Sebagai anggota Amirul Hajj,

 

ia mengamati penggunaan sampah plastik dalam jumlah sangat besar oleh jutaan jamaah haji dari berbagai negara, terutama saat puncak pelaksanaan ibadah di kawasan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

 

Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia turut menyumbang tingginya penggunaan botol air minum kemasan. Tahun ini, jumlah jamaah haji Indonesia mencapai lebih dari 202 ribu orang.

 

“Jika satu jamaah membutuhkan minimal 10 botol air kemasan ukuran 220 mililiter setiap hari, maka jamaah Indonesia saja menghabiskan sekitar 2,2 juta botol plastik per hari. Jika dikalikan dengan jumlah jamaah sedunia yang mencapai lebih dari dua juta orang, dapat dibayangkan betapa besarnya penumpukan sampah plastik yang dihasilkan,” ujarnya.

 

Padahal, kata Prof. Ilfi, jamaah haji Indonesia telah mendapatkan tumbler saat berada di Arafah. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena tidak tersedia dispenser air minum isi ulang di kawasan ARMUZNA.

 

Ia mengusulkan agar ke depan pihak penyelenggara dan syarikat menyediakan dispenser air minum di titik-titik strategis selama pelaksanaan puncak ibadah haji. Dengan demikian, jamaah dapat mengisi ulang tumbler yang dimiliki sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai dapat ditekan.

 

“Tumbler sebaiknya sudah diberikan kepada jamaah sejak tiba di hotel di Tanah Suci agar budaya menggunakan wadah minum isi ulang dapat dibiasakan sejak awal,” katanya.

 

Prof. Ilfi mengingatkan bahwa sampah plastik merupakan ancaman serius bagi lingkungan karena sangat sulit terurai secara alami. Akumulasi sampah plastik berpotensi menghasilkan mikroplastik yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia serta mempercepat perubahan iklim.

 

Karena itu, menurutnya, upaya pengurangan sampah plastik harus dilakukan melalui prinsip reduce dan recycle. Penggunaan plastik sekali pakai perlu diminimalkan, sementara pengelolaan daur ulang harus diperkuat.

 

Ia juga menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari ajaran Islam. Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan juga bentuk ibadah.

 

“Menjaga lingkungan dalam Islam adalah bentuk ibadah, hablum min al-alam. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan umat manusia,” tuturnya.

 

Prof. Ilfi mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41: ‘Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.’

 

Melalui momentum ibadah haji, ia berharap kesadaran untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya bersama umat Islam di seluruh dunia.( Eno).