Prof. Ilfi Ungkap Rekomendasi Amirul Hajj 2026: Haji Indonesia Harus Makin Humanis
Malang | Serulingamedia.com – Sekretaris Amirul Hajj 2026, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, mengungkapkan sejumlah rekomendasi strategis hasil exit meeting Amirul Hajj 2026 sebagai pijakan untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
Menurutnya, layanan haji ke depan harus semakin humanis dengan memberi perhatian lebih kepada kelompok rentan, memperkuat aspek keselamatan, serta mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Didampingi Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf selaku Ketua Amirul Hajj 2026, Prof. Ilfi menegaskan bahwa setiap penyelenggaraan haji selalu menyisakan ruang untuk dievaluasi dan diperbaiki.
“Pelaksanaan haji tahun ini sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, namun ada beberapa catatan sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan ke depan,” ujar Prof. Ilfi dalam unggahan Instagram resmi @ilfinurdiana, Selasa (9/6/2026).
Prof. Ilfi, yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengatakan keberhasilan layanan haji 2026 tidak terlepas dari sinergi lintas pihak dalam melayani jemaah Indonesia yang datang dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
Berkat kerja sama tersebut, penyelenggaraan haji tahun ini dinilai berjalan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Amirul Hajj mencatat sejumlah aspek yang masih perlu dibenahi. Layanan dasar seperti transportasi, akomodasi hotel, konsumsi, dan pelayanan kesehatan menjadi perhatian utama.
Khusus layanan kesehatan, termasuk mekanisme rujukan ke fasilitas kesehatan Arab Saudi, dinilai masih membutuhkan biaya besar serta prosedur yang cukup panjang ketika jemaah mengalami gangguan kesehatan.
Selain itu, pelayanan di kawasan Armuzna, terutama di Mina, juga menjadi sorotan. Keterbatasan kapasitas tenda menjadi tantangan tersendiri karena jumlah jemaah haji Indonesia terus meningkat, sementara luas kawasan Mina tidak mengalami penambahan.
“Kapasitas Mina memang tidak bertambah, tetapi jumlah jemaah haji kita terus meningkat. Karena itu diperlukan skema dan strategi agar jemaah bisa terlayani dengan baik mulai dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina,” katanya.
Amirul Hajj juga merekomendasikan penguatan mitigasi terhadap keterlambatan bus di sejumlah sektor, penanganan jemaah yang tersesat atau hilang, serta peningkatan layanan bagi jemaah lanjut usia dan kelompok berisiko tinggi.
Menurut Prof. Ilfi, pelayanan terhadap lansia perlu terus diperkuat, mulai dari penyediaan jasa kursi dorong saat umrah wajib maupun pasca-Armuzna hingga kemudahan akses menuju tempat-tempat ibadah.
“Bagaimana lansia bisa terlayani dengan aman dan nyaman, itu menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Tak hanya itu, aspek ramah lingkungan juga masuk dalam rekomendasi Amirul Hajj 2026. Pemerintah Indonesia telah membagikan tumbler kepada seluruh jemaah haji sebagai upaya mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Ke depan, pemerintah akan mendorong negosiasi dengan syarikah dan Pemerintah Arab Saudi untuk menyediakan dispenser air minum di berbagai titik layanan agar penggunaan tumbler dapat berjalan optimal.
Selain itu, kebutuhan toilet bagi jemaah perempuan juga dinilai perlu mendapat perhatian lebih. Hal ini mengingat jumlah jemaah perempuan Indonesia lebih banyak dibandingkan jemaah laki-laki.
“Transformasi ekosistem haji ke depan adalah haji yang ramah lansia, ramah lingkungan, dan tentu saja ramah perempuan. Ini bukan berarti tidak ramah kepada laki-laki, tetapi karena jumlah jemaah perempuan lebih banyak sehingga membutuhkan fasilitas yang memadai,” tutur Prof. Ilfi.
Di tengah berbagai catatan evaluasi tersebut, Amirul Hajj mencatat sejumlah capaian positif penyelenggaraan haji 2026.
Tingkat penyerapan kuota semakin tinggi, keluhan jemaah menurun, tata kelola penyelenggaraan semakin akuntabel, serta angka kematian jemaah menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Semoga semua jemaah haji Indonesia dapat kembali ke tanah air dengan selamat dan sehat. Mudah-mudahan kesehatan jemaah haji Indonesia ke depannya semakin terlayani dengan baik dan berbagai risiko dapat terus dimitigasi,” kata Prof. Ilfi.
Hasil evaluasi Amirul Hajj 2026 tersebut diharapkan menjadi fondasi penting untuk menghadirkan layanan haji Indonesia yang lebih profesional, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya diukur dari kelancaran operasional, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan pelayanan yang manusiawi bagi setiap tamu Allah. ( Eno).






