Selecta Menjadi Destinasi Wisata Zero Waste dan Komitmen Terhadap Lingkungan Keberlanjutan
Batu I Serulingmedia.com – Taman Rekreasi Selecta di Batu telah mencapai prestasi yang patut dibanggakan sebagai destinasi wisata zero waste terbaik di Indonesia. Pencapaian ini menjadi contoh nyata bahwa lingkungan wisata yang bersih dan indah dapat tercapai melalui komitmen kuat dan langkah-langkah nyata dalam pengelolaan sampah.
Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, Sujud Hariadi, mengungkapkan kebanggaannya terhadap capaian ini, meskipun harus mengeluarkan tambahan biaya operasional setiap bulannya.
“Kami mengeluarkan tambahan anggaran sekitar Rp 20 juta setiap bulan, namun bangga karena Selecta berhasil menjadi destinasi wisata nasional yang bebas sampah. Setiap wisatawan yang datang ke Selecta dapat merasakan keindahan, kesegaran, dan kebersihan lingkungan kami,” ujar Sujud, didampingi oleh Direktur Pramono dan Manajer Wahyudi kepada media di kantornya, Selasa siang (1/10/2024).

Deklarasi Selecta sebagai destinasi wisata zero waste dilakukan pada 2 Juli 2024 lalu. Hal itu merupakan langkah berani yang menunjukkan dedikasi penuh terhadap keberlanjutan. Dalam acara deklarasi tersebut, hadir Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto, serta Pj Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai. Sejak saat itu, Selecta telah menjadi kawasan yang bebas dari sampah, menawarkan pengalaman wisata yang berbeda bagi pengunjung, dengan lingkungan yang bersih, segar, dan menyejukkan.

Namun, perjalanan menuju destinasi zero waste tidaklah mudah. Selecta harus mengalokasikan anggaran tambahan sekitar Rp 20 juta setiap bulan untuk mengelola sampah dengan melibatkan 41 tenaga kerja yang bertugas memilah, mengumpulkan, serta menyapu sampah. Dalam kondisi ramai seperti long weekend, volume sampah bisa mencapai 20 kubik per hari, sedangkan pada hari biasa, sekitar 2 kubik sampah dihasilkan. Sampah daun yang dominan diolah menjadi kompos, sementara sampah lain seperti kardus, botol plastik, dan gelas dipilah diambil pengepul dari Sidoarjo.
Pendapatan dari penjualan sampah yang memiliki nilai ekonomi, meskipun tidak mampu menutupi seluruh biaya pengelolaan, memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dua truk sampah yang dihasilkan setiap 1-2 bulan dijual seharga Rp 5 juta, dengan berat mencapai 20 ton. Meski demikian, Sujud mengakui bahwa hasil penjualan tersebut belum cukup untuk menutup seluruh biaya operasional.

“Sebagian besar sampah yang dihasilkan adalah sampah daun yang langsung diolah menjadi kompos,” lanjutnya.
Tidak berhenti di situ, Selecta telah memaksimalkan pendekatan reuse, reduce, dan recycle dalam mengelola sampah. Beberapa produk seperti batako, briket, pot bunga, vas, dan asbak berhasil dihasilkan dari sampah yang diolah. Sisa makanan dari hotel pun diolah menjadi pakan maggot, yang kemudian digunakan sebagai pakan ikan nila untuk keperluan hotel, menutup siklus keberlanjutan yang diterapkan Selecta.
“Sisa makanan dari hotel juga kami olah menjadi pakan maggot, yang kemudian maggot tersebut digunakan sebagai pakan ikan nila untuk keperluan hotel,” tambah Sujud.
Gagasan pengolahan sampah mandiri ini muncul ketika terjadi polemik di TPA Tlekung milik Pemkot Batu, yang ditutup selama pandemi COVID-19. Selecta, yang saat itu menghasilkan volume sampah yang besar, berinisiatif membangun TPS 3R untuk mengolah sampah secara mandiri. Hasilnya, Selecta kini tidak lagi mengirimkan sampahnya ke TPA atau TPS, melainkan mampu mengelola seluruh sampah secara mandiri.
Pencapaian Selecta dalam menjadi destinasi wisata zero waste adalah bukti bahwa pariwisata dapat berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Taman ini telah menjadi inspirasi bagi destinasi wisata lainnya di Indonesia, dan banyak pihak, baik dari kalangan hotel maupun pusat wisata dari kota lain, datang ke Selecta untuk belajar tentang pengelolaan sampah.

Selain menawarkan wisata alam yang memukau, Selecta juga mengembangkan wisata edukasi pengolahan sampah. Bagi Sujud, hal ini adalah bagian dari ibadah, memberikan ilmu yang bermanfaat bagi daerah lain yang masih mengalami kendala dalam mengelola sampah. Kebanggaan ini terlihat dari upayanya yang tulus untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan masa depan yang lebih baik.
“Kami juga mengembangkan wisata edukasi pengolahan sampah sebagai bagian dari komitmen kami untuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa,” tutup Sujud yang juga menjabat sebagai Ketua PHRI Kota Batu, dengan penuh kebanggaan.
Sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan, Taman Rekreasi Selecta menunjukkan bahwa langkah kecil dalam pengelolaan sampah dapat membawa dampak besar bagi masa depan. Ini adalah contoh nyata bahwa melalui upaya kolektif dan dedikasi, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang.( Eno )






