Perang Global Iran Vs Amerika–Israel Membayangi! Ambisi Nikel Indonesia di Ujung Krisis

1148430_11zon

Makassar | Serulingmedia.com – Perang global antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kian memanas dan mengguncang peta ekonomi dunia. Dampaknya tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga mulai membayangi ambisi besar Indonesia dalam hilirisasi nikel yang kini berada di ujung krisis.

Konflik yang terus meningkat bahkan telah mengganggu jalur strategis Selat Hormuz—yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan ini menyebabkan lonjakan harga energi dunia dan terganggunya rantai pasok industri global.

Guru Besar FEB UMI Makassar, Mahfud Nurnajamuddin, yang juga menjabat sebagai Asdir II Pascasarjana UMI Makassar, menegaskan bahwa dampak perang tidak berhenti pada sektor minyak dan gas. Industri nikel Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung transisi energi global justru ikut terdampak serius.

“Ketergantungan terhadap bahan baku impor seperti sulfur menjadi titik lemah hilirisasi kita. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat perang, maka produksi nikel ikut terancam,” ujarnya.

Mahfud menjelaskan, industri pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) sangat bergantung pada sulfur yang sebagian besar masih diimpor dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membuat sektor hilirisasi sangat rentan terhadap gejolak geopolitik.

Lonjakan harga energi akibat perang juga berdampak langsung pada biaya produksi industri. Kenaikan harga sulfur sebagai bahan utama pemrosesan nikel turut menekan margin industri, bahkan berpotensi membuat keuntungan lebih kecil dibandingkan penjualan bijih mentah.

“Jika kondisi ini terus berlangsung, maka akan terjadi distorsi dalam hilirisasi. Investor bisa kehilangan minat karena biaya tinggi dan ketidakpastian global,” jelasnya.

Di sisi lain, negara seperti Jepang mampu memperkuat ketahanan industrinya melalui integrasi rantai pasok dan inovasi teknologi. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa keunggulan sumber daya alam saja tidak cukup tanpa didukung kemandirian industri.

Selain tekanan global, industri nikel nasional juga menghadapi tantangan domestik seperti kebijakan fiskal, kewajiban devisa hasil ekspor (DHE), serta kenaikan biaya tenaga kerja yang turut membebani pelaku usaha.

Mahfud menilai, krisis ini harus menjadi momentum evaluasi besar bagi Indonesia. Ia mendorong langkah strategis seperti diversifikasi sumber bahan baku, penguatan industri kimia dalam negeri, serta kebijakan yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

“Jika tidak, ambisi Indonesia menjadi pusat industri baterai dunia bisa runtuh hanya karena satu jalur logistik global terganggu,” pungkasnya.

Perang global yang terus berkecamuk kini menjadi pengingat keras bahwa ketahanan industri nasional tidak bisa dilepaskan dari stabilitas geopolitik dunia. Indonesia dituntut bergerak cepat agar tidak terjebak dalam pusaran krisis global. (Yah/Eno)