Pakar UNAIR Soroti Dampak Geoekonomi Konflik Iran terhadap Pasar Dunia
Surabaya | Serulingmedia.com – Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga menimbulkan konsekuensi besar terhadap stabilitas ekonomi global, terutama pada sektor energi, jalur pelayaran internasional, dan rantai pasok perdagangan dunia.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Probo Darono Yakti, menjelaskan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah harus dilihat dari perspektif geoekonomi, karena berkaitan langsung dengan penguasaan jalur strategis energi dunia.
Menurutnya, posisi Iran di kawasan Teluk menjadikan negara tersebut aktor penting dalam sistem ekonomi global. Wilayah tersebut terhubung dengan distribusi minyak dan gas dunia serta jalur perdagangan internasional yang sangat vital.
“Setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berdampak pada ekonomi politik global. Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Ancaman terhadap Rantai Pasok Energi
Salah satu titik strategis yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz. Jalur sempit ini merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia karena menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut setiap hari. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan global.
Situasi konflik yang memanas bahkan telah mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dan menimbulkan kekhawatiran di pasar energi internasional. Jika jalur ini terganggu dalam waktu lama, pasar minyak dunia dapat menghadapi dampak yang sangat serius.
Probo menjelaskan bahwa pasar energi global tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan riil, tetapi juga oleh persepsi risiko geopolitik.
Ketegangan militer di kawasan Teluk dapat memicu lonjakan harga minyak, peningkatan biaya logistik, hingga tekanan terhadap sektor industri yang bergantung pada energi.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia dan gangguan pasokan global.
Kenaikan harga energi dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari biaya transportasi, listrik, hingga harga pangan dan industri manufaktur.
Selain itu, konflik geopolitik juga dapat memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Investor cenderung memindahkan modal ke aset yang lebih aman sehingga meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal di negara berkembang.
Dalam jangka menengah, konflik tersebut juga berpotensi mengubah peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen energi diperkirakan akan mempercepat diversifikasi sumber energi serta memperkuat kerja sama dengan pemasok alternatif.
Menurut Probo, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan dalam situasi ini karena memiliki ruang fiskal terbatas dan ketergantungan energi yang tinggi.
“Keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Karena itu, respons terhadap konflik seperti ini harus dilihat tidak hanya dari sisi militer atau diplomasi, tetapi juga dari perspektif geoekonomi,” pungkasnya. (Dini/Eno)






