UNISMA Malang Cetak Doktor ke-161, Program S3 PAI Multikultural Kian Diminati di Jawa Timur

MAS'UD SAID

Malang | Serulingmedia.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menorehkan capaian akademik dengan menggelar ujian terbuka promosi doktor ke-161 di Pascasarjana UNISMA, Kamis (16/7/2026). Pada kesempatan tersebut, dua promovendus Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural, Suherdiyanto dan Sudirmansyah, berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji.

Direktur Pascasarjana UNISMA, Prof. H. M. Mas’ud Said, M.M., Ph.D., mengatakan pencapaian 161 lulusan doktor merupakan bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan doktor di UNISMA.

Menurutnya, Program Doktor PAI Multikultural kini menjadi salah satu program doktor yang paling diminati di Jawa Timur karena mampu memadukan mutu akademik, kualitas tenaga pengajar, serta sistem pembelajaran yang adaptif.

“Alhamdulillah, hingga ujian terbuka hari ini Pascasarjana UNISMA telah meluluskan 161 doktor. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan doktor di UNISMA yang terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Prof. Mas’ud Said.

Ia menjelaskan, tingginya animo mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia tidak terlepas dari sistem perkuliahan yang memberikan fleksibilitas tanpa mengurangi standar akademik.

“Program Doktor PAI Multikultural menjadi salah satu yang paling favorit di Jawa Timur. Kami mengadopsi sistem perkuliahan yang memberikan kemudahan tanpa mengurangi mutu akademik. Karena itu mahasiswa datang dari berbagai profesi dan berbagai wilayah Indonesia,” katanya.

Prof. Mas’ud menambahkan, Pascasarjana UNISMA terus berkomitmen melahirkan doktor yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan melalui pendekatan Islam moderat dan multikultural.

“Kami ingin para lulusan doktor UNISMA tidak berhenti pada gelar akademik semata, tetapi mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan untuk kemajuan lembaga, masyarakat, dan bangsa dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Ujian terbuka kali ini menghadirkan Dr. Basuki Wibowo, M.Pd. dari Universitas PGRI Pontianak sebagai penguji eksternal. Kehadirannya sejalan dengan lokasi penelitian kedua promovendus yang sama-sama dilakukan di Kalimantan Barat.

Sidang dipimpin oleh Rektor UNISMA Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D., dengan Sekretaris Sidang Prof. Mas’ud Said. Dewan penguji juga terdiri atas Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Maskuri, M.Si., Dr. Moh. Afifulloh, M.Pd., dan Dr. Abdul Jalil, M.Pd.

Dalam ujian tersebut, Suherdiyanto mempertahankan disertasi berjudul “Budaya Multikultural Sebagai Modal Menciptakan Hidup Harmoni Perspektif Pendidikan Islam Multikultural di Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Pontianak.”

Sementara Sudirmansyah mengangkat disertasi berjudul “Desa Sadar Kerukunan sebagai Basis Pengembangan Pendidikan Agama Islam Multikultural di Desa Sungai Paduan, Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara.”

Suasana haru mewarnai akhir sidang ketika kedua promovendus menyampaikan kesan dan pesan.

Suherdiyanto mengaku tidak pernah membayangkan dapat menyelesaikan pendidikan doktor karena berasal dari keluarga sederhana yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu kami yang hanya tamatan SD. Tanpa doa dan pengorbanannya, saya tidak mungkin berada di titik ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Sudirmansyah menilai keberhasilannya merupakan buah dari rahmat Allah SWT, doa orang tua, serta dukungan keluarga selama menempuh studi di UNISMA.

“Pendidikan di UNISMA bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga membangun hubungan spiritual. Semua ini karena rahmat Allah, doa orang tua, istri, dan anak-anak,” tuturnya.

Ia juga menceritakan pengalaman spiritual yang dialaminya menjelang ujian promosi doktor.

“Beberapa waktu lalu saya bermimpi bertemu Prof. Yakub Cikusin selaku promotor. Dalam mimpi itu beliau tampak terharu melihat saya, dan saya mengenakan pakaian yang saya pakai saat ini,” kisahnya.

Berdasarkan hasil sidang, Suherdiyanto dinyatakan lulus dengan predikat Dengan Pujian (Cum Laude), sedangkan Sudirmansyah meraih predikat Sangat Memuaskan.

Pencapaian tersebut semakin memperkuat posisi Pascasarjana UNISMA sebagai salah satu pusat pengembangan Pendidikan Agama Islam Multikultural di Indonesia. Selain menghasilkan lulusan doktor dalam jumlah besar, program ini juga diharapkan terus melahirkan akademisi dan pemimpin yang mampu mengembangkan nilai-nilai toleransi, kerukunan, serta moderasi beragama di tengah masyarakat. ( Eno)