Koridor Selatan 2045 Jangan Berhenti di Peta: FPN Dorong Perhutani Buka Jalan Ekonomi Baru Jatim

1957232_11zon

Blitar | Serulingmedia.com – Gagasan besar pembangunan kawasan selatan Jawa Timur kembali diuji di meja perundingan.

 

Bukan dengan seremoni, melainkan melalui pembahasan konkret mengenai lahan, penanaman pohon, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan masa depan ekonomi masyarakat.

 

Ketua Umum DMN Formasy Praja Nusantara (FPN) Dodik Purwoko, SP, bersama Humas Badan Pekerja DMN FPN Edy Suyanto, membahas pemanfaatan lahan tebu dan pengembangan kawasan selatan Jawa Timur dengan jajaran Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar, Senin (31/8/2026).

Dodik dan Edy diterima Administratur KPH Blitar Beny Mukti bersama Wakil Administratur KPH Blitar Hermawan.

 

Pertemuan tersebut membicarakan peluang pemanfaatan lahan untuk tanaman tebu sekaligus mekanisme pengajuan agar pemanfaatan kawasan berjalan sesuai ketentuan.

Bagi FPN, pembicaraan mengenai lahan bukan sekadar urusan teknis. Lahan merupakan titik awal ketahanan pangan. Tanpa lahan yang produktif dan dikelola secara tepat, ketahanan pangan berisiko berhenti sebagai slogan.

Pembahasan kemudian berkembang ketika Kadivre Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur Dewanto hadir di KPH Blitar untuk melakukan pembinaan kepada jajaran karyawan Perhutani.

Dewanto memilih duduk dan berdiskusi sebelum menjalankan agenda pembinaan. Ia memperkenalkan diri sebagai pejabat baru yang masih melakukan pembenahan internal.

Dalam forum tersebut, FPN menyampaikan gagasan Koridor Selatan 2045 yang diinisiasi Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar.

 

FPN mengusulkan penanaman pohon di sisi kanan dan kiri bahu Jalan Lintas Selatan (JLS) yang membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi.

Usulan tersebut menyasar kawasan yang selama ini tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga memiliki potensi strategis sebagai ruang pengembangan ekonomi baru di wilayah selatan Jawa Timur.

Dewanto merespons usulan tersebut dengan membuka ruang koordinasi melalui jajaran Perhutani di tingkat wilayah.

“Koordinasi langsung ke Adm/KKPH. Ajuan akan kami proses. Asal sesuai aturan dan tahapan peraturan direksi,” kata Dewanto.

Pernyataan itu menjadi penting karena banyak gagasan pembangunan kerap berhenti pada tahap wacana ketika berhadapan dengan prosedur dan kewenangan.

FPN justru melihat peluang tersebut sebagai pintu masuk untuk mengubah gagasan Koridor Selatan 2045 menjadi program yang memiliki tahapan dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Dodik menegaskan, penanaman pohon di sepanjang koridor JLS tidak boleh dipandang sebagai kegiatan penghijauan semata.

 

Program tersebut dapat diarahkan untuk menopang empat agenda sekaligus, yakni ketahanan pangan, energi terbarukan, nilai ekonomi karbon, dan mitigasi perubahan iklim.

“Pohon yang ditanam bukan sekadar pohon. Kami berharap ada manfaat untuk ketahanan pangan, energi terbarukan, nilai ekonomi karbon, dan ikhtiar mencegah perubahan iklim,” ujar Dodik.

FPN juga mendorong agar pembangunan kawasan selatan Jawa Timur tidak berhenti pada eksploitasi dan pengiriman bahan mentah.

 

Kawasan tersebut dinilai membutuhkan sentra-sentra ekonomi baru yang mampu melakukan hilirisasi sehingga masyarakat memperoleh nilai tambah dari sumber daya yang mereka kelola.

Persoalannya kini bukan lagi apakah kawasan selatan Jawa Timur memiliki potensi. Persoalannya adalah apakah potensi tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan, program, dan kerja nyata lintas sektor.

Koridor Selatan 2045 karena itu tidak semestinya hanya menjadi garis panjang di atas peta perencanaan. Koridor tersebut harus memiliki jejak nyata di lapangan, mulai dari pohon yang ditanam, lahan yang produktif, energi yang dihasilkan, hingga tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.

Di akhir pertemuan, Dodik memberikan penghormatan kepada Beny Mukti yang telah mengabdikan diri selama 29 tahun 7 bulan dalam pengelolaan dan penjagaan hutan.

“Semoga menjadi amal kebajikan yang mengiringi langkah selanjutnya. Aamiin,” ujar Dodik.

Pertemuan di KPH Blitar tersebut menunjukkan satu hal: pembangunan kawasan selatan Jawa Timur tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa.

 

Ia dapat dimulai dari meja kecil, dari koordinasi antarlembaga, dan dari keputusan sederhana untuk menanam hari ini.

Sebab, ketika dua puluh tahun mendatang anak-anak di selatan Jawa Timur berteduh di bawah pohon yang ditanam hari ini, Koridor Selatan 2045 tidak lagi menjadi sekadar nama sebuah gagasan. Ia menjadi warisan pembangunan yang bisa dirasakan. ( Eno).