Cak Imin dan Pesan untuk Batu: Maju Tanpa Kehilangan Kesejukan
Batu | Serulingmedia.com — Ada yang dirindukan Muhaimin Iskandar dari Kota Batu selain agenda politik dan urusan pemberdayaan masyarakat: dinginnya udara Batu.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat itu mengaku terkesan dengan suasana Kota Batu saat berkunjung, Rabu (26/8/2026).
Bahkan, kegagalan menginap di Kota Apel membuatnya menyimpan satu keinginan sederhana: kembali lagi ke Batu.
Keinginan itu disampaikan Cak Imin kepada Hasanudin Wahid, anggota DPR RI sekaligus Sekretaris DPP PKB.
Nada bicaranya ringan, tetapi pesannya cukup serius: ia ingin menikmati kembali Batu yang dingin.
“Gagal lagi nginep di sini Pak Hasan, tapi harus diagendakan nanti,” ujar Cak Imin.

Bagi Cak Imin, Batu bukan sekadar kota tujuan kunjungan. Ada pengalaman yang membuatnya punya kenangan tersendiri. Salah satunya menikmati susu panas di kawasan Alun-Alun Batu sambil melawan dinginnya udara pegunungan.
“Sudah lama tidak menikmati susu panas di alun-alun, kedinginan,” katanya.
Namun, yang paling menarik dari pernyataan Cak Imin justru bukan soal dirinya yang gagal menginap.
Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih besar: kemajuan sebuah kota tidak harus dibayar dengan hilangnya karakter alamnya.
Ia membandingkan Batu dengan Bandung. Menurut dia, dahulu Bandung dan Batu sama-sama dikenal dengan udara dinginnya.
Tetapi perkembangan kota dan perubahan lingkungan membuat Bandung kini terasa jauh lebih panas.
“Saya masih ingat dulu itu kalau ke Bandung pasti pakai jaket. Hari ini pakai kaos tipis saja juga tidak kuat karena panasnya,” ujarnya.
Cak Imin tidak sedang menolak kemajuan. Justru sebaliknya, ia mengakui Bandung sebagai kota yang cepat maju. Tetapi ia memberikan catatan yang terdengar sederhana sekaligus filosofis.
“Bandung cepat maju, tetapi majunya kepanasan juga tidak ada gunanya,” katanya.
Kalimat itu layak menjadi bahan renungan bagi Kota Batu.
Sebab, Batu memiliki modal yang tidak semua kota punya. Udara sejuk, lanskap pegunungan, pertanian, sumber mata air, serta lingkungan yang menjadi daya tarik.
wisata merupakan identitas kota. Ketika pembangunan berlangsung terlalu agresif dan mengorbankan keseimbangan alam, bukan tidak mungkin keunggulan itu perlahan hilang.
Di titik inilah kerinduan Cak Imin terhadap dinginnya Batu menemukan makna yang lebih luas.
Ia ingin Batu maju, tetapi tetap menjadi Batu. Kota yang berkembang tanpa kehilangan kesejukannya. Kota wisata yang modern tanpa mengorbankan lingkungan.
Kota yang semakin ramai, tetapi tidak kehilangan ruang hijau dan sumber kehidupan.
“Saya berharap Batu maju tetapi tetap dingin selamanya,” kata Cak Imin.
Harapan itu terdengar sederhana. Namun bagi kota yang menggantungkan sebagian ekonominya pada pariwisata, alam dan kesejukan justru merupakan aset jangka panjang.
Cilok yang diberikan Wali Kota Batu Nurochman bahkan menjadi bumbu kecil dalam cerita kunjungan tersebut. Cak Imin mengaku ketagihan.
“Dikasih cilok Pak Wali, jadi ketagihan ini. Tidak bisa diremehkan ciloknya,” ujarnya sembari bergurau.
Di balik candaan tentang cilok, susu panas dan udara dingin, terselip pesan yang jauh lebih penting.
Jangan sampai kemajuan membuat Batu kehilangan alasan mengapa orang datang dan ingin kembali.
Cak Imin boleh saja gagal menginap kali ini. Tetapi dari kunjungannya, satu hal menjadi jelas: ia sudah menaruh rindu pada Batu.
Dan kerinduan itu bukan semata pada dinginnya udara, melainkan pada sebuah kota yang diharapkan terus maju tanpa kehilangan kesejukannya.
Cak Imin ingin kembali. Batu pun punya pekerjaan rumah: memastikan ketika ia datang lagi, udara dingin yang dirindukannya masih tetap ada. ( Eno).






