Dinas Pendidikan Kota Batu Perkuat Proteksi Siswa Inklusi, Soroti Krisis Guru Pendamping Khusus

Screenshot_2026-05-28-19-27-26-031_com.miui.gallery-edit

Batu | Serulingmedia.com – Dinas Pendidikan Kota Batu terus memperkuat sistem perlindungan bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah inklusi.

 

Langkah ini dinilai penting agar pendidikan inklusif tidak hanya menjadi kebijakan administratif, tetapi benar-benar menghadirkan rasa aman, nyaman, dan setara bagi seluruh peserta didik.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, M.T., Ph.D., mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 terdapat 75 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kota Batu dengan total 406 siswa berkebutuhan khusus mulai jenjang KB, TK, SD hingga SMP.

 

“Semua pihak harus bisa memastikan siswa inklusi mendapatkan proteksi sehari-hari. Diproteksi itu penting banget, karena mereka masuk ke sekolah reguler bukan cuma buat numpang duduk, tapi buat belajar dan berkembang sama seperti teman lainnya. Kalau proteksinya lemah, tujuan inklusi jadi tidak jalan,” ujar Alfi.

 

Data Dinas Pendidikan Kota Batu mencatat, jumlah sekolah inklusi terdiri dari 21 TK, 24 KB, 22 SD, dan 8 SMP. Sementara jumlah siswa inklusi meliputi 88 siswa TK, 47 siswa KB, 217 siswa SD, serta 54 siswa SMP.

 

Menurut Alfi, perlindungan terhadap siswa inklusi menjadi bagian penting dalam mencegah perundungan atau bullying yang masih rentan dialami anak berkebutuhan khusus akibat perbedaan fisik, cara berbicara, maupun pola belajar mereka.

 

Karena itu, sekolah didorong memiliki aturan anti-bullying yang kuat, pengawasan guru yang optimal, serta edukasi kepada seluruh siswa terkait pentingnya toleransi dan empati di lingkungan pendidikan.

 

“Di sini peran Guru Pendamping Khusus atau GPK sangat penting. Mereka membantu memastikan siswa inklusi mendapat dukungan sesuai kebutuhan masing-masing,” katanya.

 

Ia menegaskan, pendidikan inklusi juga merupakan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 yang mewajibkan negara menghadirkan pendidikan tanpa diskriminasi.

 

Menurutnya, rasa aman secara fisik maupun psikologis akan sangat mempengaruhi proses belajar siswa inklusi di sekolah.

 

“Anak yang merasa aman secara fisik dan psikologis, otaknya lebih siap belajar. Stres karena takut di-bully atau diabaikan bikin konsentrasi turun. Guru GPK dan guru kelas perlu memastikan siswa inklusi dapat dukungan seperti waktu ekstra, tempat duduk strategis, atau alat bantu,” jelas Alfi.

 

Selain mendukung proses belajar, proteksi terhadap siswa inklusi juga dinilai penting untuk membangun rasa percaya diri dan kemampuan bersosialisasi anak-anak ABK di lingkungan sekolah.

 

Dinas Pendidikan Kota Batu juga mendorong sekolah menghadirkan langkah-langkah konkret seperti penyediaan ruang tenang bagi siswa yang membutuhkan istirahat sensorik, pelatihan guru reguler terkait penanganan ABK, hingga komunikasi rutin dengan orang tua siswa.

 

Namun di tengah upaya memperkuat pendidikan inklusi, Kota Batu masih menghadapi tantangan serius berupa keterbatasan jumlah Guru Pendamping Khusus.

 

“Di atas semuanya itu kita harus realistis melihat situasi di Kota Batu bahwa kita sedang kekurangan guru-guru GPK untuk mendidik anak-anak ABK. Bisa jadi kita punya obsesi tinggi untuk pembinaan anak-anak ABK, tapi di sisi lain terjadi ironi terkait jumlah Guru Pendamping Khusus ini. Oleh karena itu ke depannya kami ingin mengusulkan dalam rekrutmen ASN guru agar kuota GPK ditambah secara proporsional,” tegasnya.

 

Dinas Pendidikan Kota Batu berharap penguatan sistem proteksi dan penambahan jumlah GPK ke depan mampu menciptakan lingkungan pendidikan inklusif yang benar-benar ramah bagi seluruh anak tanpa terkecuali. ( Eno)