Alfi Nurhidayat Ph.D : MPLS Harus Putus Tradisi Perpeloncoan, Bangun Karakter Siswa Lewat Semangat SAE
Batu | Serulingmedia.com – Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, M.T., Ph.D., menegaskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026 tidak boleh lagi diwarnai praktik perpeloncoan maupun kegiatan yang tidak memiliki nilai pendidikan.
Seluruh sekolah diminta menjadikan MPLS sebagai ruang pembentukan karakter dengan mengusung semangat SAE (Sinergis, Akomodatif, dan Ekologis), pilar utama visi mBatu SAE.
Menurut Alfi, orientasi MPLS harus bergeser dari kegiatan seremonial menuju proses pendidikan yang membentuk karakter peserta didik sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.
“MPLS harus menjadi ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan bermakna. Tidak boleh ada praktik yang merendahkan martabat siswa ataupun membebani orang tua. Semua kegiatan wajib memiliki tujuan pendidikan yang jelas,” kata Alfi.
Ia menjelaskan, konsep SAE dalam MPLS juga diterjemahkan sebagai Santun, Aktif, dan Edukatif.
Nilai santun diwujudkan melalui pembiasaan etika dan penghormatan kepada guru, orang tua, serta sesama siswa.
Aktif berarti mendorong peserta didik mengenali potensi diri dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
Edukatif mengharuskan setiap materi dan permainan memiliki capaian pembelajaran.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa Dinas Pendidikan Kota Batu tidak memberi ruang bagi praktik orientasi yang bersifat intimidatif.
Seluruh sekolah diwajibkan mengacu pada pedoman resmi Kementerian Pendidikan dalam penyelenggaraan MPLS.
“OSIS dan panitia bukan penguasa. Mereka adalah pendamping. Pola pikir itu harus berubah. Tidak ada lagi tugas-tugas yang tidak masuk akal, apalagi yang berpotensi mempermalukan peserta didik,” ujar Alfi.
Di luar pengenalan lingkungan sekolah, MPLS tahun ini diarahkan untuk memperkuat literasi digital, kesehatan mental remaja, pencegahan perundungan, kekerasan seksual, intoleransi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Kota Batu juga akan memanfaatkan potensi lokal, seperti sektor pertanian, pariwisata, dan budaya, sebagai bagian dari materi pengenalan kepada siswa baru.
“Anak-anak harus memahami identitas Kota Batu. Mereka perlu mengenal lingkungan, potensi daerah, dan budaya masyarakatnya agar tumbuh rasa memiliki serta tanggung jawab untuk ikut membangun kota ini,” katanya.
Secara substantif, arah kebijakan Dinas Pendidikan Kota Batu menunjukkan upaya menjadikan MPLS sebagai instrumen pembentukan karakter, bukan sekadar kegiatan penyambutan siswa baru.
Penekanan pada nilai SAE memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun etika, kepedulian sosial, kecakapan digital, dan kesadaran ekologis.
Alfi berharap seluruh sekolah mampu menerjemahkan kebijakan tersebut secara konsisten sehingga MPLS benar-benar menjadi pintu masuk lahirnya generasi Kota Batu yang berkarakter, adaptif terhadap perubahan, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah.
“Kalau fondasi karakter dibangun dengan benar sejak hari pertama sekolah, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan bertanggung jawab. Itulah esensi mBatu SAE dalam dunia pendidikan,” pungkasnya.( Eno)






