Dari Ruang Kelas ke Layar Lebar: Dosen UIN Malang ‘Menyihir’ Dunia Film Nasional Lewat Kisah Taaruf Islami
Malang | Serulingmedia.com – Di sudut ruang kerja yang dindingnya dipenuhi buku sastra klasik, catatan ide, dan draft skenario yang penuh coretan, seorang dosen perempuan tampak tersenyum tenang. Dialah Whida Rositama, M.Hum., dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang kembali menorehkan jejak emas di jagat perfilman nasional.
Namanya kembali mencuat setelah dipercaya menulis skenario film “Tak Kenal Maka Tak Taaruf”, adaptasi dari novel karya Mim Yudiarto. Film ini akan resmi tayang di bioskop pada November 2025, membawa pesan Islami dalam balutan kisah cinta remaja yang hangat, santun, dan penuh renungan.
Mengajar Bahasa, Merangkai Cerita
Bagi sebagian orang, dosen mungkin hanya identik dengan mimbar kuliah dan tabung kapur. Namun tidak bagi Whida. Baginya, sastra bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan. Dalam setiap kelas, ia tak hanya berbicara tentang teori naratif atau pendekatan strukturalisme, tetapi juga mengajak mahasiswa merenungkan bagaimana cerita dapat mengubah cara berpikir masyarakat.
“Sastra itu napas kemanusiaan. Jika ia dibisikkan dengan cara yang benar, ia dapat membimbing jiwa menuju kebaikan,” tutur Whida dengan tatapan lembut.
Perjalanan Sunyi Seorang Penulis Skenario Qur’ani
Keberhasilan Whida dalam perfilman bukan terjadi dalam semalam. Ia mengaku pernah menulis skenario yang ditolak berkali-kali. Namun dari penolakan itu ia belajar bahwa film bukan hanya soal cerita menarik, tetapi juga kekuatan menyentuh hati penonton.
Saat Mim Yudiarto mempercayainya mengadaptasi novel “Tak Kenal Maka Tak Taaruf”, Whida melihat kesempatan emas untuk “menghidupkan dakwah dalam sinema”. Ia menulis dengan hati, menyelipkan pesan moral tanpa menggurui, menggambarkan taaruf sebagai jalan cinta yang penuh ketundukan kepada Sang Khalik.
Film yang Menawarkan Tontonan Sekaligus Tuntunan
Film ini berkisah tentang dua remaja yang berjuang melawan keinginan untuk mencintai secara serampangan, lalu memilih jalan taaruf sebagai bentuk penghormatan terhadap diri dan agama.
“Saya ingin publik tahu bahwa cinta dalam Islam bukan pengekangan, tapi pemuliaan,” ungkap Whida.
Latar suasana remaja dibuat lugu, konflik emosionalnya natural, dan nilai spiritualnya hadir secara subtil namun kuat. Tak heran, sejumlah pengamat film menilai film ini berpotensi menjadi benchmark baru bagi film islami yang modern, estetik, dan tetap syariah-friendly.
Mahasiswa Bangga, Kampus Menyala
Kesuksesan ini menjadi kabar gembira bagi lingkungan kampus. Mahasiswa merasa bangga memiliki dosen yang tidak hanya ahli teori, tetapi juga terbukti mampu berkarya nyata.
“Beliau selalu bilang, setiap cerita harus membawa cahaya. Sekarang kami melihat beliau membawa cahaya itu ke bioskop,” ujar Putri Ananda, salah satu mahasiswa bimbingannya.
“Bu Whida menghidupkan literasi dalam medium yang lebih luas. Karyanya adalah sinergi antara ilmu, iman, dan imajinasi,” ungkap salah satu dosen senior.
Inspirasi bagi Generasi Penulis Muda
Whida berharap film ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk tidak takut menjelajah dunia kreatif tanpa meninggalkan nilai spiritual. Ia percaya, menjadi akademisi bukan berarti harus meninggalkan kontribusi kultural yang menyentuh masyarakat luas.
“Menulis skenario bagi saya adalah cara lain untuk mengajar – bukan di kelas, tapi di hati penonton,” ujarnya penuh keyakinan.
Ketika Ruang Kuliah Menyentuh Jagat Perfilman
Ketika film ini kelak muncul di layar bioskop nasional, yang akan muncul bukan hanya nama Whida Rositama sebagai penulis skenario, tetapi juga citra UIN Malang sebagai kampus yang melahirkan intelektual yang kreatif, religius, dan adaptif terhadap zaman.
Di era ketika film sering kali menjadi arena eksploitasi emosi, karya Whida menghadirkan cinta yang bukan hanya dinikmati, tetapi juga direnungi. Ia membuktikan bahwa seorang dosen bukan hanya pengajar teori, tetapi juga penabur inspirasi.( Eno).






