Novia Fatma Azzahra, Menembus Batas dari Kampus UIN Malang hingga Ruang Kelas di Thailand

Novia Fatma Azzahra.jpeg1_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Di sebuah ruang kelas di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, seorang mahasiswi asal Indonesia berdiri di depan puluhan siswa. Dengan bahasa Inggris sederhana yang sesekali dipadukan dengan Bahasa Indonesia, ia mengajarkan kosakata, percakapan dasar, hingga nilai-nilai Islam melalui Hadis Arbain.

Sesekali ia menarik napas panjang. Bukan karena lelah mengajar, melainkan berusaha mengalahkan rasa gugup yang sempat menghampirinya. Baginya, berdiri di hadapan siswa dari negara lain bukan sekadar mengajar, tetapi juga menguji keberanian untuk melampaui batas yang selama ini ia bangun sendiri.

Dialah Novia Fatma Azzahra, mahasiswi Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang berhasil menorehkan pengalaman internasional melalui program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora 2025.

Program mobilitas internasional itu mengantarkannya ke Negeri Gajah Putih selama 21 hari, mulai 28 Juli hingga 16 Agustus 2025. Namun bagi Novia, perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat belajar, melainkan perjalanan menemukan versi terbaik dari dirinya.

“Saya berangkat ke Thailand bukan hanya untuk mengajar. Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu keluar dari zona nyaman, berani mencoba, dan terus belajar di lingkungan internasional,” tutur Novia.

Bersama timnya, Novia menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Chariyatam Suksa Foundation School, sebuah sekolah Islam swasta di Songkhla yang memiliki sekitar 2.000 siswa. Sekolah tersebut menerapkan Intensive Arabic English Program (IAEP), di mana bahasa Arab dan Inggris digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Di lingkungan itulah Novia mendapat amanah mengajarkan Bahasa Melayu-Indonesia. Tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri. Ia harus menjelaskan materi menggunakan bahasa Inggris yang saat itu masih terus dipelajarinya.

Rasa cemas sempat muncul setiap kali memasuki kelas. Namun perlahan, kegugupan berubah menjadi keyakinan.

“Awalnya saya takut salah ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Tetapi saya belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses. Justru dari keberanian mencoba itulah kemampuan kita berkembang,” ungkapnya.

Hari demi hari, kepercayaan dirinya tumbuh. Interaksi dengan para siswa membuat kemampuan komunikasinya semakin terasah. Ia belajar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan untuk saling memahami lintas budaya.

Tidak hanya mengajar, Novia juga mengamati bagaimana sistem pendidikan di Thailand memberi ruang luas bagi kreativitas siswa. Tablet dan iPad menjadi bagian dari proses pembelajaran. Siswa terbiasa membuat presentasi digital, berdiskusi, hingga menyampaikan pendapat secara kritis.

Menariknya, kebebasan berpikir itu tetap berjalan beriringan dengan budaya menghormati guru.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana siswa begitu aktif berdiskusi, tetapi tetap sangat santun kepada guru. Mereka selalu menyapa dan memberi salam setiap bertemu. Saya melihat keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai karakter,” katanya.

Rutinitas sekolah yang berlangsung sejak pagi hingga sore juga menjadi pengalaman tersendiri. Di tengah padatnya aktivitas, seluruh siswa tetap melaksanakan salat Zuhur berjamaah sebelum kembali ke kelas.

Momentum paling membekas hadir saat Novia mengikuti English Camp di kawasan Pantai Chana. Selama empat hari, para siswa diajak menggunakan bahasa Inggris dalam setiap aktivitas, mulai membuat vlog hingga mengenal sejarah daerah setempat.

Di sanalah Novia benar-benar memahami bahwa belajar bahasa tidak cukup hanya melalui buku.

“English Camp mengajarkan saya bahwa kemampuan berbahasa akan tumbuh ketika kita berani menggunakannya. Tidak perlu takut salah, karena setiap kesalahan adalah proses menuju kemampuan yang lebih baik,” ujarnya.

Pengalaman lintas budaya itu semakin lengkap ketika Novia berkesempatan mengunjungi tempat ibadah umat Hindu sebagai bagian dari pembelajaran toleransi. Ia juga mengajar di Sutrak Montessori School, sekolah yang mayoritas siswanya beragama Buddha.

Berhadapan dengan anak-anak sekolah dasar menghadirkan tantangan baru. Dibutuhkan kreativitas, energi, dan kesabaran agar pembelajaran tetap menyenangkan. Namun justru di situlah Novia menemukan makna pendidikan yang sesungguhnya.

Ia menyadari bahwa pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menghargai keberagaman, dan membangun empati.

“Saya belajar bahwa dunia ini sangat luas. Perbedaan budaya, bahasa, bahkan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling belajar. Justru keberagaman membuat kita menjadi pribadi yang lebih terbuka dan dewasa,” tutur Novia.

Sepulang dari Thailand, Novia tidak hanya membawa sertifikat program internasional. Ia membawa pengalaman hidup yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan, komunikasi, dan masa depan.

Baginya, mahasiswa Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil peluang, kemauan terus belajar, dan kesiapan menghadapi tantangan.

“Saya berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mengikuti program internasional. Jangan pernah takut keluar dari zona nyaman, karena di sanalah kita menemukan pengalaman yang tidak akan pernah didapatkan di ruang kelas,” pesannya.

Kisah Novia Fatma Azzahra menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas geografis. Dari ruang kuliah di UIN Malang hingga ruang kelas di Thailand, ia telah menunjukkan bahwa keberanian melangkah adalah awal dari perjalanan besar.

Di balik sosoknya yang sederhana, Novia membawa pesan bahwa generasi muda Indonesia mampu menjadi duta ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan di panggung dunia. Sebab, ketika ilmu dipadukan dengan keberanian dan ketulusan, batas negara bukan lagi penghalang, melainkan jembatan untuk menginspirasi dunia. ( Buang Supeno )