Peringatan Selamatan Desa Pesanggrahan ke-168 : Meriahkan Malam Takbiran dengan Tradisi dan Kebersamaan
Batu I serulingmedia.com – Desa Pesanggrahan di Kecamatan Kota Batu merayakan peringatan selamatan desa yang ke-168 dengan meriah. Acara yang bertepatan dengan malam takbiran menjelang Idul Adha 1445 H ini menjadi momen istimewa bagi seluruh warga desa. Dengan tema “Murti Tinata Umanjing Raharjo”, selamatan desa tahun ini menonjolkan kebudayaan lokal yang sarat makna dan tradisi, Minggu malam (16/6/2024),
Selamatan desa dimulai dengan prosesi pemukulan ketongan oleh Kepala Desa, Imam Wahyudi, yang didampingi oleh istrinya yang berperan sebagai dayang katon. Ketongan adalah alat musik tradisional yang dipukul untuk menandai dimulainya sebuah acara besar, dan dalam konteks ini, simbolisasi dimulainya rangkaian kegiatan selamatan desa. Pemukulan ketongan ini kemudian diikuti oleh pemukulan lesung oleh warga desa, yang menambah semarak suasana dengan suara ritmis yang menggema.

Setelah prosesi pemukulan ketongan dan lesung, acara dilanjutkan dengan pembukaan selubung pisang Kepok yang berada di pintu masuk Balai Desa Mayangsari oleh Kepala Desa Imam Wahyudi. Selubung pisang Kepok ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dari pintu gerbang menuju kemakmuran dan kesejahteraan desa. Pembukaan ini melambangkan terbukanya jalan untuk keberkahan dan kemajuan bagi Desa Pesanggrahan.
Prosesi selamatan desa juga diwarnai dengan penyerahan Hulubekti , sebuah tradisi dimana warga desa menyerahkan persembahan berupa usungan yang berisi nasi tumpeng, berbagai jenis ikan termasuk engkong ayam, serta hasil pertanian lainnya. Hulubekti ini persembahan 13 Ketua RW yang ada di desa Pesanggrahan diserahkan kepada dayang katon dan Kepala Desa Imam Wahyudi sebagai wujud bakti dan penghormatan dari masyarakat. Nasi tumpeng sendiri melambangkan gunung sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan, serta ikan dan hasil pertanian lainnya melambangkan sumber kehidupan yang melimpah.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Pesanggrahan Imam Wahyudi menegaskan peringatan selamatan desa ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah atas keberlangsungan kegiatan pemerintahan yang aman dan terkendali. “Semoga dengan penyelenggaraan selamatan bersih desa ke-168 ini, Desa Pesanggrahan semakin makmur, damai, dan masyarakatnya hidup rukun dan sejahtera,” tandas Imam Wahyudi, yang mengenakan setelan ikat kepala dan jas warna putih serasi dengan istrinya.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang untuk melestarikan budaya dan tradisi, tetapi juga sebagai momen untuk mempererat kebersamaan antar warga desa. Di tengah gemuruh malam takbiran, warga Pesanggrahan menunjukkan kekompakan dan rasa syukur atas nikmat dan berkah yang telah diberikan. Kebersamaan ini semakin terasa saat warga desa bersama-sama menikmati hidangan yang telah disiapkan, mempererat tali persaudaraan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat desa.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kadis Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana Kota Batu, Aditya, PJ. Walikota Batu, Aries Agung Paewai, mengucapkan selamat atas selamatan bersih desa Pesanggrahan ke-168. Aries menekankan selamatan bersih desa merupakan budaya lokal yang selayaknya dipertahankan dan dilestarikan di tengah arus modernisasi peradaban saat ini.
“Generasi muda sebagai penerus bangsa dengan menjiwai nilai-nilai luhur bangsa yang berdasar Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, seyogyanya ikut mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitar,” ungkap Aries, yang disampaikan Aditya.

Peringatan selamatan desa ke-168 ini tidak hanya meriah, tetapi juga penuh dengan makna dan harapan. Dengan tema “Murti Tinata Umanjing Raharjo”, diharapkan Desa Pesanggrahan akan terus berkembang menuju kesejahteraan yang hakiki, dengan masyarakat yang hidup rukun dan harmonis. Tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai budaya dan agama dapat bersinergi, menciptakan harmoni dan kemakmuran bagi seluruh warga desa.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, Desa Pesanggrahan mampu mempertahankan tradisi yang kaya akan makna ini dan meneruskannya ke generasi berikutnya. Semoga peringatan selamatan desa ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam melestarikan budaya dan memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
Peringatan selamatan desa ini juga diikuti oleh seluruh warga desa yang tersebar di 13 RW, yang mengantarkan hantaran Hulubekti. Tidak hanya warga lokal, acara ini juga dihadiri oleh para Muspika, Kapolsek Batu, Komandan Koramil, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, serta mahasiswa dari mancanegara seperti Mesir, Ghana, Kamboja, dan Turki yang sedang belajar di Malang. Kehadiran mahasiswa internasional ini menunjukkan ketertarikan mereka untuk mempelajari budaya lokal Indonesia.( Eno )






