Yanuar Nugroho Tekankan Literasi Keuangan, Kunci Kebangkitan Usaha Mikro Aceh Pascabencana

1100876_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com – Yanuar Nugroho, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), menegaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan secara tepat menjadi kunci utama kebangkitan dan keberlanjutan usaha mikro di Aceh pascabencana.

 

Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan pendampingan dan penguatan literasi keuangan kepada pelaku usaha mikro di wilayah terdampak.

 

Dalam pemaparannya, Yanuar menekankan bahwa pengelolaan keuangan merupakan fondasi utama keberlangsungan usaha. Tanpa pencatatan dan perencanaan yang baik, pelaku usaha mikro berisiko mengalami kerugian bahkan kegagalan usaha.

“Keuangan harus dikelola secara disiplin agar pelaku usaha mengetahui secara pasti berapa pendapatan, beban, dan laba yang diperoleh,” tuturnya, Selasa ( 3/3/2026 ).

Risiko Tanpa Pengelolaan Keuangan
Yanuar menjelaskan, tidak adanya pengelolaan keuangan yang baik akan memunculkan berbagai risiko, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Dalam jangka pendek, pelaku usaha dapat mengalami kesulitan mengambil keputusan keuangan, krisis likuiditas, ketidakstabilan operasional, hingga tekanan dari pihak kreditur.

 

Sementara dalam jangka panjang, risiko yang mengintai antara lain kegagalan bisnis, hilangnya peluang investasi, ketidakstabilan keuangan berkelanjutan, serta ketidakmampuan menghadapi krisis ekonomi.

“Saya berharap kondisi ini tidak terjadi pada bapak dan ibu di sini. Saya berharap bapak dan ibu bisa cepat bangkit,” harapnya.

Edukasi SAK EMKM dan Titik Impas
Dalam pendampingan tersebut, Yanuar juga memberikan edukasi mengenai pentingnya memisahkan pendapatan usaha dengan keuangan pribadi, termasuk penyusunan laporan laba rugi sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM).

 

Selain itu, ia menjelaskan konsep analisis titik impas (break-even point) untuk membantu pelaku usaha mengetahui jumlah minimal produk yang harus terjual agar usaha tidak merugi.

“Dengan mengetahui titik impas, pelaku usaha dapat menentukan strategi harga dan volume produksi yang tepat untuk mencapai keuntungan,” ungkapnya.

Ia juga membagikan sejumlah tips praktis pengelolaan keuangan, di antaranya memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menggaji diri sendiri, disiplin mencatat transaksi, perencanaan serta pengelolaan utang, hingga evaluasi usaha dan penetapan target.

“Saya menyadari bahwa pengelolaan entrepreneur itu lebih kontekstual,” ucapnya.

Bangkit Lebih Kuat dan Berkelanjutan
Melalui pendampingan ini, pelaku usaha mikro di Aceh didorong untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan, tetapi juga memahami perencanaan keuangan jangka panjang.

 

Pengelolaan keuangan yang baik diharapkan mampu memperkuat daya tahan usaha di tengah ketidakpastian pascabencana.

“Kita harus kuat dan memiliki mimpi yang besar dalam membangun usaha. Bersama kita membangun kembali, lebih kuat dan penuh harapan,” pungkasnya.(Dini/Eno)