Etty Ariaty Soraya, Alumnus UNAIR yang Mengangkat Batik Surabaya Lewat Brand Tas Etnapraya

TAS BOIS.jpeg1_11zon

Surabaya | Serulingmedia.comEtty Ariaty Soraya, alumnus Universitas Airlangga (UNAIR), mengangkat batik khas Surabaya melalui brand tas lokal premium bernama Etnapraya. Melalui Etnapraya, Etty memadukan kualitas kulit premium dengan kearifan lokal untuk menghadirkan produk fesyen yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat.

Etty merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Komunikasi UNAIR. Ia menuturkan bahwa kecintaannya pada tas serta ketertarikannya terhadap produk lokal menjadi titik awal dirinya membangun Etnapraya sebagai brand tas premium berbasis budaya Indonesia.

Untuk memperkuat kompetensinya di bidang industri kreatif, Etty melanjutkan studi magister di Queensland University of Technology, Australia. Pengalaman akademik tersebut membuka wawasannya terhadap besarnya potensi produk lokal Indonesia yang dapat dikembangkan secara profesional dan berdaya saing global.

“Selain minat pada produk lokal, saya melihat banyak potensi di Indonesia yang bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi. Dari situlah saya memilih mengembangkan tas lokal premium,” ujar Etty, Selasa ( 3/3/2026 ).

Angkat Batik Surabaya ke Tas Premium

Etnapraya menghadirkan koleksi tas kulit premium dengan sentuhan batik khas Surabaya. Motif batik yang digunakan telah terverifikasi oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai batik daerah, sehingga memperkuat identitas lokal pada setiap produk.

“Kami memiliki desain dengan pola batik Surabaya yang sudah terverifikasi. Melalui kualitas kulit dan jahitan yang kami jaga, Etnapraya diharapkan mampu memperkenalkan Surabaya dan Indonesia ke tingkat nasional hingga internasional,” jelasnya.

Etty menegaskan bahwa kualitas menjadi komitmen utama Etnapraya. Menurutnya, koordinasi dan komunikasi yang baik antara pengrajin, tim produksi, dan tim desain merupakan kunci dalam menjaga konsistensi mutu produk.

“Harus ada komunikasi yang jelas tentang standar kualitas yang ingin kami capai. Dengan kerja tim yang solid, kami berupaya menghadirkan tas dengan kualitas terbaik,” tegasnya.

Lebih dari sekadar bisnis, Etty memandang Etnapraya sebagai medium untuk membawa cerita dan kebanggaan lokal melalui fesyen.

“Saya ingin tas tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga membawa cerita tentang budaya dan kota asalnya. Batik Surabaya memiliki karakter kuat yang layak dikenal lebih luas,” tutur Etty.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk memulai dan konsistensi dalam proses membangun brand. “Tidak ada usaha yang langsung sempurna. Yang terpenting adalah berani memulai, konsisten belajar, dan tidak berhenti memperbaiki kualitas,” ujarnya.

Kepedulian Sosial dan Pesan untuk Mahasiswa

Selain fokus pada kualitas produk, Etnapraya juga menunjukkan kepedulian sosial dengan bekerja sama bersama Wistara dalam penyediaan batik yang dikerjakan oleh penyandang disabilitas. Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen Etty agar usahanya memberi manfaat bagi masyarakat.

“Walaupun brand kami masih berkembang, saya ingin Etnapraya tetap memberi dampak. Bekerja sama dengan pengrajin, termasuk penyandang disabilitas, adalah bagian dari tanggung jawab sosial kami,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Etty berpesan kepada mahasiswa UNAIR dan generasi muda agar berani mengenali potensi diri serta tidak takut menghadapi tantangan.

“Fokus belajar, temukan ketertarikan, lalu mulai melangkah. Setiap kesulitan adalah pembelajaran yang akan membentuk mental dan karakter untuk menghadapi rintangan ke depan,” pungkasnya. ( Dini/Eno)