Lebaran di Tengah Tekanan Ekonomi Global, Guru Besar UMI Ingatkan Pentingnya Ketahanan Ekonomi Keluarga

1161116_11zon

Makassar | Serupingmedia.com –Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas ekonomi masyarakat biasanya mengalami peningkatan signifikan. Pasar tradisional semakin ramai, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, dan arus mudik menuju kampung halaman mulai meningkat.

 

Lebaran tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Islam, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap dinamika ekonomi masyarakat.

 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia (FEB UMI) Makassar, Mahfud Nurnajamuddin, menilai bahwa perayaan Lebaran tahun ini hadir di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.

 

Fluktuasi harga komoditas, tekanan inflasi, serta perubahan situasi ekonomi internasional turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini keluarga perlu lebih bijak dalam mengelola pengeluaran, terutama ketika memasuki musim Lebaran yang identik dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga.

 

“Dalam struktur perekonomian Indonesia, konsumsi rumah tangga memiliki peran yang sangat besar. Data menunjukkan kontribusinya mencapai sekitar 53,88 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahun 2025 ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5,11 persen, dan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut.

 

Momentum Lebaran kerap menjadi periode ketika konsumsi masyarakat melonjak, mulai dari kebutuhan bahan makanan, pakaian baru, hadiah Lebaran, hingga biaya perjalanan mudik.

Dari perspektif ekonomi makro, peningkatan konsumsi ini dapat memberikan dampak positif bagi berbagai sektor, seperti perdagangan, transportasi, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

 

Namun di sisi lain, lonjakan pengeluaran tanpa perencanaan yang matang juga dapat menimbulkan tekanan bagi kondisi keuangan keluarga.

Mahfud menjelaskan bahwa tradisi Lebaran sering kali mendorong masyarakat meningkatkan pengeluaran demi mengikuti kebiasaan sosial di lingkungan sekitar.

 

Tidak jarang keluarga membeli berbagai kebutuhan Lebaran secara berlebihan meskipun kemampuan ekonomi terbatas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Idulfitri tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dimensi ekonomi yang cukup kuat.

 

Karena itu, kemampuan keluarga dalam mengelola keuangan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

Dalam pandangan Islam, kata Mahfud, prinsip moderasi dalam mengelola harta telah diajarkan secara jelas. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak bersikap berlebihan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31: ‘Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.’ Ayat ini menegaskan pentingnya sikap moderasi dalam konsumsi,” jelasnya.

 

Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Furqan ayat 67 yang menegaskan bahwa orang beriman tidak bersikap boros dan tidak pula kikir, melainkan berada di tengah-tengah.

Menurut Mahfud, ketahanan ekonomi keluarga tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengatur prioritas kebutuhan, mengelola pengeluaran secara bijak, serta menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan.

Nilai-nilai yang diajarkan selama bulan Ramadan sejatinya memberikan pelajaran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Puasa melatih pengendalian diri serta kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Dalam kehidupan modern, nilai kesederhanaan sering tergeser oleh budaya konsumtif. Padahal esensi Idulfitri tidak terletak pada kemewahan perayaan, melainkan pada kesucian hati, kebersamaan keluarga, dan solidaritas sosial,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dimensi sosial-ekonomi Idulfitri terlihat melalui praktik zakat, infak, dan sedekah.

 

Penyaluran zakat fitrah menjelang Lebaran menjadi mekanisme distribusi kesejahteraan yang membantu masyarakat kurang mampu sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Mahfud menilai penguatan literasi keuangan keluarga menjadi semakin penting.

 

Perencanaan keuangan yang matang, pengelolaan pengeluaran secara bijak, serta kebiasaan menabung dapat membantu keluarga menjaga stabilitas ekonomi mereka.

“Pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya perayaan kemenangan spiritual setelah menjalani ibadah puasa, tetapi juga momentum refleksi untuk menata kembali cara pandang terhadap kehidupan, termasuk dalam mengelola ekonomi keluarga,” pungkasnya.

Dengan memaknai Lebaran secara sederhana, bijak, dan penuh kepedulian sosial, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga nilai spiritual Ramadan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di tengah berbagai tekanan ekonomi global.( Yah/Eno).