Mahasiswa UNAIR Kembangkan Netra, Solusi Reuse Jar Jawab Tantangan Sampah Plastik Multilayer

1100928_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan dengan menghadirkan inovasi Netra, sebuah reuse jar yang dapat digunakan hingga 50 kali sebagai solusi atas permasalahan sampah plastik multilayer yang sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi.

 

Inovasi tersebut digagas oleh Ridhwan Fadly Saputra (mahasiswa FST 2022), Farrelindra Nadhif Islami (mahasiswa FTMM 2024), dan Muhammad Dafi Aritama (mahasiswa FST 2024).

 

Ketiganya berhasil mengantarkan tim Bismillah Sukses meraih 4th Place Winner dari lebih dari 3.600 tim dalam kompetisi internasional Green Generation: Sustainable Case Competition yang diselenggarakan oleh Nestle Indonesia Company.

“Inovasi reuse jar atau Netra ini tidak berdiri sendiri. Kami melengkapinya dengan refill machine system yang bekerja sama dengan outlet partner, serta kode QR pada setiap jar untuk kebutuhan monitoring penggunaan dari hulu ke hilir,” jelas Ridhwan selaku ketua tim, Selasa( 3/3/2026).

Ia menuturkan, persoalan sampah plastik yang terus menggunung setiap tahun sulit dikendalikan tanpa sistem pengawasan yang terintegrasi.

 

Menurutnya, transisi menuju kemasan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan inovasi material, tetapi membutuhkan pendekatan ekosistem yang melibatkan produsen, konsumen, hingga pengelola sampah.

“Tantangan utamanya bukan hanya inovasi material, melainkan membangun arsitektur sistem yang mampu menghubungkan seluruh pihak. Kompetisi Green Generation mendorong kami berpikir strategis dalam merancang solusi dari hulu ke hilir,” tambahnya.

Sebagai satu-satunya perwakilan Universitas Airlangga yang berhasil menembus 20 besar dan melaju ke babak final, Ridhwan mengakui timnya sempat menghadapi kendala dalam menyusun alur berpikir dan merumuskan inovasi terintegrasi dalam waktu yang terbatas.

“Kami menyiasatinya dengan membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota lintas jurusan. Kolaborasi ini menjadi kunci hingga akhirnya ide kami bisa menjawab permasalahan yang ada,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Ridhwan mendorong mahasiswa untuk berani berkolaborasi lintas disiplin dalam mengikuti kompetisi berbasis real case problem.

“Kolaborasi lintas jurusan akan sangat membantu menghasilkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif dan solutif, khususnya di bidang industri,” pungkasnya. (Dini/Eno)