Warga Griyashanta Tolak Keras Jalan Tembus, Bentangkan Spanduk dan Walk Out dari Sosialisasi

IMG_20250615_062939

Malang | Serulingmedia.com – Warga RW 12 Perumahan Griya Shanta, Kota Malang, menunjukkan penolakan tegas terhadap rencana pembongkaran tembok pembatas untuk dijadikan jalan tembus menuju proyek Perumahan Azelia Urban City.

Aksi penolakan ini ditunjukkan secara terbuka dengan pemasangan spanduk dan aksi walk out saat sosialisasi yang digelar Kecamatan Lowokwaru pada Jumat (12/6/2025) di Ocean Garden, kawasan Soekarno Hatta.

Spanduk penolakan dibentangkan tepat di gerbang pintu masuk Perumahan Griya Shanta sebagai bentuk protes terhadap rencana pembukaan akses jalan oleh pengembang.

Dalam rapat sosialisasi yang rencananya digelar bersama pihak Kecamatan Lowokwaru dan sejumlah dinas terkait, warga secara mufakat menyatakan keberatan mereka.

Ironisnya, perwakilan dari pihak pengembang tidak hadir, membuat warga semakin kecewa dan mempertanyakan itikad baik dalam proses komunikasi.

“Kami menolak secara tegas pembukaan akses jalan dari Griyashanta ke Simpang Candi Panggung. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga keamanan, lalu lintas, dan ancaman banjir,” tegas Ketua RT 4 RW 12 Griyashanta, H. Sugiharso, Minggu (15/6/2025).

Ia menegaskan, pagar tembok yang selama ini berdiri bukan hanya simbol pembatas, tetapi juga pelindung keamanan lingkungan. Pembongkaran sepihak tanpa kesepakatan warga dianggap bentuk arogansi dan tindakan yang menyerupai premanisme terselubung.

Penolakan warga didasari empat poin utama:

Dugaan ketidaksesuaian proyek dengan RTRW dan RDTR Kota Malang.

Kekhawatiran meningkatnya kemacetan dan risiko banjir akibat keterbatasan kapasitas jalan.

Komitmen warga sejak 2016 mempertahankan tembok barat sebagai batas tegas yang tidak boleh ditembus.

Ketidakjelasan status proyek, apakah merupakan inisiatif pemerintah atau murni kepentingan swasta.

“Sudah sejak lama kami menolak jalan tembus ini. Banyak pihak bermain, masyarakat tidak pernah diajak bicara. Sosialisasi baru dilakukan sekali, itupun kami langsung walk out karena merasa dipermainkan,” lanjut Sugiharso.

Warga juga menilai proses sosialisasi cacat prosedur. Mereka mempertanyakan legal standing, dokumen Amdal, dan kejelasan set plan proyek.

Beberapa tokoh bahkan menuding adanya tekanan politik dan permainan oligarki di balik rencana tersebut.

Di sisi lain, Camat Lowokwaru, Rudi Cahyono C.U., menjelaskan bahwa pihaknya telah berusaha memfasilitasi sosialisasi dan menyampaikan informasi kepada warga.

“Yang jelas kami telah berupaya melakukan sosialisasi kepada warga RW 12 Perumahan Griyashanta untuk jalan tembus dari Jalan Soekarno Hatta ke Jalan Simpang Candi Panggung,” ujarnya usai pertemuan.

Dengan konsistensi warga dalam menjaga batas wilayah dan bukti penolakan yang telah terdokumentasi, rencana pembukaan jalan tembus ke Azelia Urban City diperkirakan akan menghadapi penolakan sengit—bahkan berpotensi gagal total.(Eno)