Wayang Drupadi di Lawang Mengingatkan Ancaman Krisis Air: Merawat Hutan, Menjaga Peradaban
Lawang | Serulingmedia.com — Pertunjukan wayang “Drupadi Wanito Pinilih” di Oak Lawang Hotel & Convention, Sabtu malam ( 29/8/2026), tidak berhenti sebagai pertunjukan budaya.
Forum tersebut mengangkat persoalan tata kelola air dan konservasi hutan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan dan peradaban.
Kegiatan bertajuk OAKsperience itu mempertemukan unsur masyarakat, komunitas budaya, pemerhati lingkungan, akademisi, jejaring media, dan organisasi kemasyarakatan.
Pertemuan tersebut menjadi kelanjutan dari Penetapan Satgas Peduli Air yang sebelumnya berlangsung di lokasi yang sama.
Pendiri sekaligus Ketua Umum Dewan Majelis Nasional Formasy Praja Nusantara (FPN) Dodik Purwoko mengatakan lakon Drupadi menyimpan pesan tentang tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan peradaban.
“Drupadi menerima nasib atas waktu dan ruang sebagai manusia. Ia diikutkan menentukan peradaban. Ia bukan lagi sosok, tetapi titipan pesan moral: bhakti untuk negeri dan pengabdian kepada kehidupan,” ujar Dodik.
Menurut Dodik, pesan tersebut relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Pembangunan, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sumber daya air.
“Mengabaikan tata kelola air sama artinya dengan melumpuhkan peradaban,” tegasnya.
Budaya Bertemu Konservasi
Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan “Episentrum 1000 Lawang”, yang dikembangkan melalui konsep Eko Bio Culture Tourism Support System. Konsep tersebut menempatkan budaya dan ekologi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.
Dalam forum itu, FPN memperkuat kolaborasi dengan berbagai komunitas yang bergerak di bidang kebudayaan, lingkungan, pendidikan, sosial, dan media.
Hadir Pendiri sekaligus Ketua Umum FPN Dodik Purwoko, Ketua DMD FPN Kota Batu Yoyok Yuliono, Ambasador OAK Lawang Guntur Bisowarno, Ki Argo Setyo, Ki Tohari, Kiswara, Hassoyo Joko Pitono Saifulrohman, H. Devid Yuliasir, Choirudin, serta para sesepuh PEPADI.
Sejumlah jejaring lainnya juga hadir, antara lain Kaweruh Batin Tulis Papan Kasunyatan, Paguyuban BATIK KITAB BATIK Singosari, Satgas Peduli Mata Air Nusantara, Satgas Basis DELING, Ki Fanani dari Besalen Tumapel, Yayasan Salam Satu Jiwa, PPMAL, Komunitas Kopi Peradaban Gunung Arjuno, Paguyuban Komunitas Sungai Indonesia, dan jejaring jurnalistik KAIROS.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa isu air tidak hanya menjadi persoalan pemerintah. Masyarakat dan komunitas juga memiliki peran dalam menjaga sumber mata air, hutan, dan ekosistem yang menopang kehidupan.
Guntur Bisowarno Dilantik
Dalam kesempatan tersebut, FPN melantik Guntur Bisowarno dari Bammbo Spirit Nusantara sebagai anggota Divisi Humas Dewan Majelis Nasional FPN.

FPN memberikan mandat kepada Guntur untuk mengawal dan membangun kolaborasi antara kampus, komunitas, dan masyarakat dalam program menjaga serta memulihkan sumber daya air dan konservasi air di kawasan hutan Divisi Regional Jawa Timur.
FPN selanjutnya akan memperluas kerja sama melalui jejaring Pasuruan Raya. Kolaborasi tersebut melibatkan Ketua DMD FPN Pasuruan Raya Romsul Hasbawi, Ketua LSM Laskar Merah Putih Sutikno, Gio dari unsur media, serta GM GRIB Pasuruan Raya.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat mitigasi krisis air melalui gerakan masyarakat dan jejaring lintas komunitas.
Kolaborasi untuk Pembangunan Jawa Timur
Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar mengapresiasi kolaborasi yang dibangun melalui kegiatan tersebut.
Menurut Asep, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai unsur lainnya dibutuhkan untuk mendukung agenda pembangunan jangka panjang.
Agenda tersebut mencakup pembangunan di wilayah Pasuruan, pengembangan Megapolitan Malang Raya, Koridor Selatan 2045, hingga pembangunan Jawa Timur.
Pertunjukan wayang Drupadi Wanito Pinilih akhirnya berakhir ketika malam semakin larut. Namun, forum tersebut meninggalkan pesan yang lebih panjang daripada durasi pertunjukan.
Kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memastikan masyarakat memiliki akses terhadap air, menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan, serta membangun kesadaran bersama untuk merawat lingkungan.
Dari panggung wayang di Lawang, pesan itu kembali ditegaskan: ketika air dijaga, kehidupan dipertahankan; ketika hutan dirawat, peradaban memiliki masa depan.( Eno).






