UIN Maliki Gelar ToT Pengembangan Moderasi Beragama untuk Cetak Trainer Unggul di Bidang Toleransi dan Kerukunan

IMG-20251125-WA0045

Batu | Serulingmedia.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Pengembangan Moderasi Beragama yang digelar pada 17–22 November 2025 di Hotel Onsen, Batu, UIN Maliki berupaya mencetak trainer-trainer unggul yang mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Kementerian Agama RI ini menghadirkan puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, penyuluh, hingga aktivis sosial.

Mereka dipersiapkan untuk menjadi fasilitator moderasi beragama yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilainya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Membongkar Asumsi, Membangun Perspektif Baru

Sesi pembuka ToT menghadirkan materi reflektif bertajuk “Udar Asumsi, Membangun Perspektif”, yang dipandu oleh dua instruktur nasional Kementerian Agama RI: Dr. KH. Marzuki Wahid, Rektor ISIF Cirebon, dan Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

Sebuah simulasi sederhana menjadi pintu pembuka bagi kesadaran peserta. Mereka diminta menggambar peta perjalanan dari rumah ke tempat kerja, lalu menukarkannya dengan peserta lain. Ketika ditanya apakah peta itu cukup untuk menuntun orang yang belum pernah berkunjung, jawaban serentak terdengar: tidak.

Melalui latihan ini, para peserta diajak memahami bahwa peta bukanlah wilayah, dan asumsi tidak selalu merepresentasikan realitas. Perspektif manusia selalu terbatas, sehingga dibutuhkan sikap terbuka untuk memahami keberagaman secara lebih jernih dan objektif.

Open Mind, Open Heart, Open Will

Materi berikutnya mengajak peserta mengembangkan tiga sikap kunci dalam moderasi beragama:

Open Mind dengan rasa ingin tahu yang tulus,

Open Heart dengan kasih sayang dan empati,

Open Will dengan keberanian untuk berubah dan menerima hal baru.

Dr. KH. Marzuki Wahid mengingatkan bahwa manusia kerap terjebak dalam Voice of Judgement, Cynicism, dan Fear yang menghambat dialog dan penerimaan.

“Moderasi dimulai ketika kita berani mendengar suara berbeda tanpa prasangka,” jelasnya.

Prof. Fawaizul Umam menambahkan bahwa moderasi sejati dimulai dari kesadaran diri.

“Jika kita merasa paling benar sejak awal, bisa jadi kita sedang menipu diri sendiri,” ujarnya.

Pelatihan Interaktif dan Penuh Keakraban

ToT ini berlangsung dalam suasana hangat, reflektif, dan interaktif. Peserta diajak berdiskusi, melakukan refleksi personal, hingga membedah berbagai kasus intoleransi yang bersumber dari bias dan asumsi yang keliru. Lokasi pelatihan yang sejuk di Kota Batu semakin mendukung keberhasilan proses belajar.

Selain memperkaya wawasan, kegiatan ini juga memperluas jaringan antarpeserta dari berbagai daerah. Mereka saling bertukar pengalaman dan strategi dalam mempromosikan toleransi dan kerukunan di lingkungan masing-masing.

Melahirkan Trainer Moderasi Beragama yang Humanis dan Profesional

Penyelenggaraan ToT ini menjadi langkah strategis UIN Maliki dalam mencetak trainer-trainer moderasi beragama yang kompeten, berwawasan luas, dan berkarakter inklusif. Para peserta diharapkan mampu menyebarkan nilai keterbukaan, empati, dan keberanian dalam membangun harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dengan semangat kolaboratif antara kampus dan Kementerian Agama, ToT ini menjadi bukti nyata bahwa UIN Maliki terus berperan aktif dalam memperkuat fondasi kerukunan dan memperluas ruang dialog antarumat beragama di Indonesia.( Eno).