Menteri Agama Luncurkan “Kurikulum Cinta” untuk Perkuat Kerukunan dan Moderasi
Batu I Serulingmedia.com – Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, menaruh perhatian besar terhadap proses pembelajaran anak Indonesia. Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) tengah menyusun kurikulum pendidikan baru yang diberi nama “Kurikulum Cinta.”
Dalam keterangannya kepada wartawan usai memberikan halaqah ilmiah sekaligus meresmikan Pusat Studi Pengembangan Pesantren dan Kawasan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang di Kampus 3 UIN Maliki Batu, Senin malam (10/2/2025), Menteri yang menyandang predikat terbaik dalam masa kerja 100 hari Pemerintahan Presiden Prabowo ini mengungkapkan bahwa kurikulum tersebut akan menitikberatkan pada aspek kerukunan, moderasi, dan toleransi.
“Di dalam program kerukunan masuklah program tentang moderasi, kajian-kajian toleransi, dan sejenisnya. Jadi isinya mengenai moderasi dan toleransi, tapi cover-nya adalah kerukunan. Dikembangkan kurikulum cinta. Toleransi sejati, tidak saling mengganggu,” ujar Prof. Nasaruddin Umar.
Konsep Ukhuwah Basyariyah
Menteri Agama menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta mengembangkan konsep “ukhuwah basyariyah “, yakni persaudaraan universal yang didasarkan pada keyakinan bahwa semua manusia berasal dari Adam dan Hawa, sehingga mereka bersaudara. Persaudaraan ini tidak dibatasi oleh perbedaan agama, suku, ras, bahasa, maupun jenis kelamin.
“Pendidikan berbasis kurikulum yang jelas harus dibangun dengan visi dan misi yang kuat. Sesuatu yang punya isi, sesuatu yang punya misi harus diwujudkan. Lahirlah nanti yang disebut kurikulum. Tidak mungkin kita bisa melahirkan kurikulum tanpa mengetahui ontologinya apa,” tegas Menag.
Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup
Selain fokus pada aspek toleransi dan kerukunan, Kurikulum Cinta juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menteri Agama menyoroti pentingnya memandang lingkungan sebagai bagian dari kehidupan manusia, bukan sekadar objek eksploitasi.
“Seolah-olah tidak ada dosa kalau kita membakar hutan untuk kemaslahatan manusia, padahal di situ juga membunuh berbagai ekosistem. Bahkan kita tidak menganggap dosa kalau menjadikan sungai sebagai tong sampah umum,” ungkap Menag.
Penguatan Nasionalisme dan Identitas Bangsa
Selain itu, Menag juga menyoroti pentingnya penguatan nasionalisme dalam Kurikulum Cinta. Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang sangat plural membutuhkan strategi budaya yang konstruktif untuk menjaga identitas bangsa.
“Wajahnya mirip Indonesia, tapi perilakunya dan pikirannya sudah bukan Indonesia lagi. Kita ini mengarah kepada krisis identitas,” ujar Menag.
Dengan peluncuran Kurikulum Cinta ini, Kemenag berharap dapat menciptakan sistem pendidikan yang berbasis nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan, sehingga dapat memperkuat persatuan dan harmoni di tengah masyarakat Indonesia.( Eno ).






