Sendang Jogo Towo: Air, Amanah Leluhur, dan Laku Spirit yang Terus Dijaga
Kediri | Serulingmedia.com – Di sebuah sudut sunyi wilayah Kediri, Jawa Timur, air mengalir tanpa hiruk-pikuk.
Ia jernih, tenang, dan seolah enggan menonjolkan diri. Namun di balik kesederhanaannya, mata air bernama Sendang Jogo Towo menyimpan kisah panjang tentang amanah leluhur, spiritualitas Jawa, dan pesan kebudayaan yang terus dijaga lintas generasi

Bagi masyarakat sekitar, Sendang Jogo Towo bukan sekadar sumber air.
Ia adalah ruang perjumpaan antara manusia dan alam, antara masa lalu dan masa kini, serta antara ikhtiar lahir dan batin di tengah ancaman pagebluk dan krisis kemanusiaan.
Pesan dari Seberang Laut
Kisah sendang ini bermula sekitar tahun 1950. Kala itu, Mbah Mu’alif masih bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) kapal Pelni dan sempat singgah di Hongkong.
Di negeri seberang, ia bertemu seorang sepuh yang menyampaikan pesan spiritual: suatu saat akan datang pagebluk besar, dan penawarnya berada pada sebuah sumber air yang terletak di antara wilayah Gumul dan Totokerot, Kediri.
Pesan itu tidak diumumkan, tidak pula dijadikan cerita dari mulut ke mulut. Ia disimpan rapat sebagai amanah—menunggu waktu yang dianggap tepat.
Puluhan tahun kemudian, sekitar 1980, Mbah Mu’alif bertemu kembali dengan para sesepuh di lingkungan Keraton Yogyakarta, termasuk Mbah Kusen.
Dalam pertemuan itulah, amanah lama disampaikan. Mbah Kusen diminta menelusuri sumber air yang dimaksud dalam pesan puluhan tahun silam.
Menembus Hutan dan Rasa Takut
Pencarian sumber air bukan perkara mudah. Lokasi yang dimaksud berupa rawa, hutan lebat, dan perbukitan dengan banyak aliran sungai.
Warga sekitar enggan mendekat karena kawasan itu dianggap angker. Konon, ular besar kerap menampakkan diri bagi siapa pun yang masuk tanpa izin batin.
Namun bagi Mbah Kusen, amanah tidak diukur dari rasa takut.

“Kalau ini tugas, maka tidak ada yang perlu ditakuti,” ujarnya tenang, Minggu ( 22/2/2026).
Ia menyusuri satu demi satu aliran air, mencermati tanda-tanda alam, dan berdialog dengan masyarakat sekitar.
Hingga akhirnya, sebuah lokasi diyakini sebagai titik yang dimaksud dalam pesan lama tersebut.
Dari Kawasan Sunyi Menjadi Sendang
Setelah lokasi diyakini tepat, proses perizinan dilakukan, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah desa.
Tahap awal penataan kawasan diawali dengan selamatan bersama tim Gajah Purwo Nusantara, sebagai bentuk ikhtiar batin dan penghormatan kepada alam.

Di kawasan itu terdapat dua sungai kembar. Sungai pertama memiliki lima sumber mata air, sementara sungai kedua memiliki empat sumber.
Kesembilan sumber ini kemudian disatukan menjadi satu sendang besar—airnya jernih dan mengalir tanpa henti.
Proses penyatuan sembilan sumber air rampung dan kawasan Sendang Jogo Towo resmi dibuka pada 4 April 2020. Tak lama berselang, dunia benar-benar memasuki masa pagebluk global.

“Ini mungkin hanya kebetulan, dan kebenarannya hanya Allah yang tahu. Kami hanya menjalankan amanah,” tutur Mbah Kusen lirih.
Makna Nama dan Tata Ruang Budaya
Secara etimologis, sendang berarti mata air, jogo bermakna menjaga, dan towo berarti menawar atau menetralisir racun.
Dengan demikian, Sendang Jogo Towo dimaknai sebagai mata air yang menjaga keseimbangan dan menawar penyakit—baik secara fisik maupun batiniah.
Kawasan sendang memiliki luas sekitar 500 meter persegi. Di dalamnya terdapat dua kolam terpisah untuk putra dan putri, masing-masing berukuran sekitar 3 x 4 meter.
Fasilitas pendukung berupa musholla, empat toilet, pendopo, dapur, dan gudang juga tersedia.

Pintu gerbang kawasan berupa Ringin Lawang bergaya Majapahit, dijaga simbol Dwarapala. Setiap pengunjung diwajibkan melepas alas kaki sebelum masuk, sebagai tanda hormat dan penyadaran diri.
Senin Legi dan Laku Spiritual Joyoboyo
Dalam tradisi Jawa yang masih dijaga, Sendang Jogo Towo memiliki ritme laku spiritual tersendiri.
Setiap bulan pada hari Senin Legi, digelar ritual doa bersama di kawasan sendang. Prosesi ini menjadi sarana ungkapan syukur, permohonan keselamatan, dan pengingat agar manusia selalu eling lan waspada.

Usai ritual di sendang, rangkaian laku dilanjutkan dengan jamasan Loka Moksa di Pamoksan Sri Aji Joyoboyo, wilayah Pamenang.
Prosesi ini mengaitkan Sendang Jogo Towo dengan jejak spiritual Sri Aji Joyoboyo, raja besar Kediri yang dikenal melalui wejangan dan ramalan tentang zaman, bencana, serta harapan akan keseimbangan dunia.
“Ritual itu bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk menata masa depan,” kata Mbah Kusen. “Supaya manusia tidak lupa asal-usul dan batasnya.”
Amanah untuk Masa Depan
Bagi Mbah Kusen, Sendang Jogo Towo bukan tempat mencari kesaktian. Ia menegaskan bahwa air sendang hanyalah sarana.

“Kesembuhan tetap dari Gusti Allah. Tugas manusia adalah menjaga alam, bukan mengeksploitasinya,” ujarnya.
Ia berharap air Sendang Jogo Towo suatu hari dapat diteliti secara ilmiah oleh para ahli dan mendapat perhatian pemerintah. Jika benar memiliki kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan, maka manfaatnya buisa dirasakan lebih luas—tanpa menghilangkan nilai spiritual dan budaya yang menyertainya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kehilangan arah, Sendang Jogo Towo mengajarkan satu hal sederhana: bahwa keseimbangan lahir dari kesabaran dan laku panjang.
Dari pesan yang disimpan puluhan tahun, penyatuan sembilan mata air, hingga ritual Senin Legi yang terus dijaga, sendang ini menjadi penanda bahwa kearifan lama bukan peninggalan usang, melainkan bekal menghadapi masa depan.
Airnya terus mengalir. Doa-doa tetap dilantunkan. Amanah dijaga dalam sunyi.
Di sanalah, Sendang Jogo Towo berdiri—sebagai ingatan, pengingat, dan harapan.( Buang Supeno)






