Misteri Yoni di Desa Pendem Terungkap, Kota Batu Diduga Simpan Banyak Situs Terkubur
Batu | Serulingmedia.com – Misteri batu yang sempat dianggap lumpang biasa di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu akhirnya terungkap.
Benda yang ditemukan di lahan milik Majelis Maulid Wat Taklim Riyadlul Jannah RT 17 RW 04 itu dipastikan merupakan yoni, artefak peninggalan Hindu kuno yang diduga menjadi bagian dari situs sejarah terpendam di kawasan tersebut.
Penemuan itu sontak menghebohkan warga sekitar. Pasalnya, batu tersebut selama ini hanya terlihat seperti benda biasa yang tertimbun di area bekas persawahan lama.
Ketua RW 04 Desa Pendem, Muhammad Solikin mengatakan, lokasi penemuan dulunya merupakan sawah milik warga yang kemudian dibeli pihak majelis untuk dijadikan area kegiatan pengajian dan acara keagamaan.
“Dulu ini sawah warga, lalu dibeli pihak majelis. Sekarang diratakan untuk lapangan kegiatan pengajian,” ujar Solikin.
Menurutnya, warga awalnya sama sekali tidak menyadari bahwa benda tersebut merupakan artefak bersejarah.
Kecurigaan baru muncul setelah beberapa warga memperhatikan bentuk batu itu melalui foto dan kondisi lokasi penemuan.
“Awalnya dikira lumpang batu biasa.Setelah dilihat lebih detail, ternyata bentuknya berbeda dan diduga benda kuno,” katanya.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Pemerintah Desa Pendem dan diteruskan kepada Dinas Pariwisata Kota Batu untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Kepala Desa Pendem, Tri Wahyuwono Efendi membenarkan adanya penemuan tersebut.

Ia menyebut pemerintah desa langsung berkoordinasi dengan dinas terkait agar asal-usul benda itu dapat dipastikan.
“Benar, ada temuan yoni di lahan milik Riyadlul Jannah. Sekarang sudah diidentifikasi oleh dinas agar lebih jelas asal-usulnya,” ujar Efendi, Rabu ( 13/5/2026).
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, Hartarto menjelaskan pihaknya telah menurunkan Pamong Budaya Disparta Kota Batu, Naning Wulandari untuk melakukan pemeriksaan awal di lokasi.
Hasil identifikasi sementara menunjukkan benda tersebut merupakan yoni berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 50×50 sentimeter dan memiliki cerat yang masih terlihat jelas.
Selain yoni, petugas juga menemukan batu umpak berbentuk persegi berukuran sekitar 26 sentimeter dengan tinggi 20 sentimeter yang diduga menjadi bagian dari struktur bangunan kuno.
“Pada bagian badan yoni juga terlihat ornamen hiasan yang masih cukup jelas,” terang Hartarto.
Dalam tradisi Hindu, yoni merupakan simbol kesuburan dan representasi Dewi Parwati yang biasanya berpasangan dengan lingga sebagai lambang Dewa Siwa.
Namun hingga kini, pasangan lingga dari yoni tersebut belum ditemukan. Hartarto menduga masih ada kemungkinan artefak lain yang tertimbun di sekitar lokasi.
“Harusnya ada pasangan lingga, tetapi di lokasi ini belum ditemukan. Bisa jadi masih terkubur atau kemungkinan berpindah tempat karena tidak seberat yoni,” jelasnya.
Ia menambahkan, penemuan artefak seperti ini bukan pertama kali terjadi di Kota Batu. Menurutnya, wilayah Batu sejak lama dikenal sebagai kawasan subur yang erat dengan budaya agraris dan jejak peradaban Hindu-Buddha.
“Temuan seperti ini cukup banyak di Kota Batu karena daerah ini sejak dulu dikenal subur, sehingga erat kaitannya dengan simbol-simbol kesuburan masyarakat pertanian,” tambahnya.
Desa Pendem sendiri dikenal sebagai wilayah yang kaya peninggalan sejarah. Sebelumnya, kawasan tersebut juga pernah ditemukan struktur bata merah kuno yang diduga bagian dari bangunan candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.
Selain itu, sejumlah benda arkeologis lain seperti arca Sekte Siwa, lesung batu, lingga yoni hingga koin Belanda juga pernah ditemukan warga di wilayah tersebut.
Saat ini, Dinas Pariwisata Kota Batu berencana melaporkan temuan tersebut ke Balai Pelestarian Kebudayaan Trowulan untuk proses identifikasi lanjutan dan pendataan resmi sebagai benda cagar budaya.
Penemuan yoni di tengah lahan yang kini digunakan untuk kegiatan pengajian itu menjadi pengingat bahwa Kota Batu bukan hanya menyimpan pesona wisata dan pertanian, tetapi juga lapisan sejarah panjang yang perlahan mulai terungkap dari dalam tanah.( Eno).






