Selamatan Sumber Air Rebun: Pitonan sebagai Ikhtiar Spiritual dan Ekologis Masyarakat Sabrang Bendo
Batu | Serulingmedia.com – Ratusan warga Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, menggelar adat pitonan di sumber mata air Rebun, Minggu (14/12/2025).
Tradisi turun-temurun ini menjadi penanda kuat hubungan sakral antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur, sekaligus wujud komitmen masyarakat dalam menjaga keberlangsungan sumber air yang menjadi nadi kehidupan desa.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Dusun Sabrang Bendo tetap teguh menjaga warisan budaya melalui ritual Selamatan Sumber Air Rebun.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan ikhtiar spiritual dan ekologis untuk melindungi sumber mata air Rebun agar tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang.
Selamatan Sumber Air Rebun merupakan bagian dari rangkaian adat desa yang dikenal dengan pitonan.
Dalam tradisi Jawa, pitonan umumnya dilakukan sebagai upacara penanda fase penting kehidupan anak, baik saat berusia empat hingga lima tahun maupun menjelang khitan.

Pada tahun 2025 ini, prosesi pitonan dilaksanakan untuk ananda Adam Malik Ibrahim, putra dari Haji Darsono, dengan dipandu oleh dukun bayi Mak Mi, yang dipercaya menjaga pakem dan nilai spiritual ritual adat tersebut.
Ritual berlangsung di kawasan Kedaton Galuh Purba, tepat di lokasi sumber mata air Rebun.
Sejak pagi hari, warga berkumpul untuk memanjatkan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air yang selama ini menghidupi sawah, ladang, dan kebutuhan rumah tangga masyarakat.
Doa juga dipanjatkan agar sumber mata air Rebun senantiasa terjaga, terbebas dari kerusakan, serta dijauhkan dari berbagai ancaman.
Kesadaran menjaga alam tidak berhenti pada doa dan ritual. Tradisi ini juga diiringi dengan aksi nyata, seperti penanaman pohon di sekitar area sumber air dan kegiatan bersih lingkungan.
Bagi warga Sabrang Bendo, menjaga sumber air merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan budaya yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian adat pitonan semakin semarak dengan pertunjukan berbagai kesenian rakyat, antara lain Reog, jaranan, bantengan, serta iringan terbang jidor.
Kesenian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium ekspresi budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Tokoh adat Sabrang Bendo, Rubiyan, menegaskan bahwa keberlangsungan budaya pitonan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sumber mata air Rebun.
Menurutnya, hilangnya sumber air akan berdampak langsung pada punahnya tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Jika sumber Rebun sampai habis airnya disedot Yayasan Al Hikmah, maka budaya turun-temurun ini akan hilang juga seiring dengan hilangnya sumber air Rebun,” ungkap Rubiyan.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bersama bahwa krisis lingkungan tidak hanya mengancam keberlanjutan alam, tetapi juga menggerus identitas dan kearifan lokal masyarakat.
Air, dalam pandangan warga Sabrang Bendo, adalah pusat kehidupan sekaligus pusat budaya.

Pada akhirnya, Selamatan Sumber Air Rebun melalui adat pitonan menegaskan nilai-nilai religius, kerukunan sosial, dan semangat gotong royong.
Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga dan tokoh masyarakat, sekaligus bukti nyata komitmen masyarakat Desa Giripurno dalam uri-uri warisan leluhur dan menjaga keseimbangan alam sebagai amanah bersama.( Eno).






