Gus Sutardji, Ahli Gurah Mata yang Menghidupkan Spirit Gus Dur di Kota Batu

768344_11zon

Batu | Serulingmedia.com– Nama Gus Sutardji dikenal luas di kalangan pengobatan tradisional sebagai ahli gurah mata yang telah mengabdikan diri puluhan tahun untuk membantu masyarakat mengatasi gangguan penglihatan.

Dengan pengalaman lebih dari 27 tahun, pria asal Pasuruan ini hadir di Kota Batu untuk meramaikan pengobatan massal dalam rangka Haul ke-16 Gus Dur tahun 2025—sebuah momentum yang tidak hanya sarat spiritualitas, tetapi juga pengabdian kemanusiaan.

Kehadiran Gus Sutardji bersama para terapis pengobatan tradisional menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan Haul Gus Dur yang digelar melalui kolaborasi lintas organisasi di Kota Batu.

Kick off pengobatan tradisional dan gemblengan dilaksanakan di Padepokan Panotogama, Kecamatan Bumiaji, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Lembaga Ketabiban PW PSNU Pagar Nusa Jawa Timur bersama Basis Sarbumusi Pengobatan Tradisional.

Gus Sutardji merupakan praktisi gurah mata kelahiran Pasuruan tahun 1968. Ia menekuni ilmu tersebut sejak 27 tahun lalu, berguru kepada Eyang Bagong asal Banten, tokoh sepuh dalam dunia ketabiban tradisional.

Dari Desa Karangreno, Dusun Gutehan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ia memulai perjalanan panjang pengabdian yang membawanya berkeliling ke berbagai daerah.

“Ilmu gurah mata ini saya pelajari dengan proses panjang. Bukan hanya teknik, tapi juga laku dan niat,” tutur Gus Sutardji.

Selama kurang lebih delapan tahun, ia menjalani praktik keliling di Jakarta dan Bali. Kini, Gus Sutardji lebih banyak membuka praktik di rumahnya, melayani masyarakat yang datang silih berganti setiap hari.

“Setiap hari rata-rata lebih dari sepuluh orang datang. Saya niatkan ini khidmah, bukan sekadar pekerjaan,” ujarnya.

Sejak tiga tahun terakhir, Gus Sutardji juga aktif sebagai bagian dari Lembaga Ketabiban PW PSNU Pagar Nusa Jawa Timur.

Bergabungnya ia dalam lembaga tersebut memperkuat orientasi pengabdiannya yang berpijak pada nilai-nilai ke-NU-an dan kemanusiaan.

“Pengobatan tradisional ini harus berpihak pada wong cilik. Itu yang saya pelajari dari nilai-nilai Gus Dur,” katanya.

Metode gurah mata yang dilakukan Gus Sutardji terbilang khas dan menuntut kesiapan pasien.

Proses diawali dengan pemijatan kepala, area sekitar mata, bahu, hingga lengan. Pasien kemudian diminta membuka mata lebar-lebar dan menatap langsung ke arah Gus Sutardji.
Dalam kondisi fokus penuh, ia meniup kedua mata pasien dengan teknik pernapasan tertentu.

“Tiupan itu ada tekniknya. Harus tenang, harus fokus. Kalau tidak, hasilnya juga tidak maksimal,” jelasnya.

Reaksi yang muncul kerap membuat pasien terkejut. Rasa pedih, panas, dan perih seperti diiris menjadi sensasi awal yang menandai proses pembuangan kotoran dari saluran mata.

Gus Sutardji menjelaskan bahwa tidak semua gangguan mata bisa ditangani dengan mudah.

“Glaukoma itu agak sulit karena cairannya susah diambil. Tapi kalau masih gejala, insyaallah bisa. Katarak awal, mata kabur, itu masih bisa dibantu,” terangnya.

Gus Sutardji menegaskan bahwa gurah mata tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis. Ia selalu mendorong pasien untuk tetap memeriksakan diri ke tenaga kesehatan profesional bila diperlukan.

“Ini ikhtiar tradisional. Kalau memang harus medis, ya medis. Jangan ditinggalkan,” tegasnya.

Di Padepokan Panotogama kediaman
KP. KH M. musyrifin among jiwo ( dewan khos PW PSNU pagar nusa Jatim) antusiasme masyarakat terlihat dari antrean panjang warga yang ingin menjalani gurah mata.

Mereka datang dengan satu harapan: penglihatan yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih layak.

Melalui kehadiran Gus Sutardji dalam pengobatan massal Haul Gus Dur, nilai kemanusiaan tidak berhenti pada wacana.

Ia menjelma dalam tindakan nyata—sebuah khidmah sunyi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Sebagaimana pesan Gus Dur, kemanusiaan harus selalu menjadi panglima. Dan di Kota Batu, pesan itu terpantul dari sepasang mata yang berani berharap untuk kembali melihat dunia dengan lebih terang.( Eno).