Dr. Zainal Habib: Qurban, Keikhlasan, dan Krisis Spiritual Manusia Modern

1486016_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Di tengah gegap gempita dunia digital yang dipenuhi pencitraan, budaya konsumsi, dan perlombaan pengakuan sosial, makna qurban kembali dipertanyakan.

 

Apakah manusia modern masih mampu berkorban dengan tulus, atau justru seluruh hidupnya telah berubah menjadi panggung simulasi demi citra dan validasi sosial?

 

Refleksi filosofis tersebut disampaikan Dr. Zainal Habib, Plt. Wakil Rektor II UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam analisis mendalam tentang makna qurban di era modern.

 

Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS sejatinya bukan hanya narasi penyembelihan hewan, melainkan simbol pergulatan spiritual manusia dalam memotong ego, keserakahan, dan keterikatan duniawi.

 

“Pisau Ibrahim sesungguhnya bukan diarahkan kepada tubuh Ismail, melainkan kepada ego manusia yang selalu ingin memiliki, menguasai, dan mempertahankan segala sesuatu untuk dirinya sendiri,” tulisnya.

 

Dalam pandangannya, qurban seharusnya menjadi momentum transformasi spiritual manusia. Namun realitas modern menunjukkan ironi besar. Ritual qurban tetap dijalankan setiap tahun, tetapi nilai keikhlasan perlahan memudar di tengah budaya pencitraan dan kapitalisme digital.

 

Fenomena media sosial menjadi salah satu sorotan utama. Kebaikan, sedekah, hingga aksi kemanusiaan kini kerap berubah menjadi pertunjukan publik demi memperoleh pengakuan sosial.

 

Dokumentasi bantuan sosial, unggahan aktivitas berbagi, hingga konten religius sering kali lebih menonjolkan citra diri dibanding substansi kemanusiaan itu sendiri.

 

Dr. Zainal Habib mengutip pemikiran filsuf Prancis Jean Baudrillard tentang masyarakat simulasi. Dalam dunia hiperrealitas, simbol dianggap lebih penting daripada makna sejati. Akibatnya, manusia modern lebih sibuk menampilkan citra kebaikan daripada benar-benar menghadirkan nilai kebaikan dalam kehidupan nyata.

 

“Manusia tidak lagi mengejar makna, tetapi penampilan makna,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bagaimana kapitalisme modern mengubah hampir seluruh relasi manusia menjadi transaksi. Keikhlasan semakin sulit ditemukan karena hampir setiap tindakan diukur berdasarkan keuntungan, popularitas, dan pencapaian sosial.

 

Mengutip pemikiran filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han, ia menyebut masyarakat hari ini sebagai achievement society atau masyarakat prestasi.

 

Dalam masyarakat seperti itu, manusia dipaksa terus membuktikan dirinya agar terlihat sukses, produktif, dan unggul di hadapan publik.

 

Kondisi tersebut membuat manusia mengalami kelelahan eksistensial yang berkepanjangan. Bahkan spiritualitas pun tidak luput dari komodifikasi. Simbol-simbol agama dipasarkan, kesalehan dikemas sebagai identitas sosial, dan aktivitas religius sering kali menjadi bagian dari konsumsi budaya populer.

 

Padahal, menurutnya, inti terdalam qurban justru terletak pada kemampuan manusia untuk melepaskan keterikatan terhadap dunia. Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi keberanian memotong ego, keserakahan, dan hasrat pengakuan.

 

Dr. Zainal Habib juga menegaskan bahwa semangat qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Ia mengutip pandangan pemikir Muslim Pakistan Fazlur Rahman yang menempatkan qurban sebagai jalan menuju keadilan sosial.

 

Dalam konteks dunia modern yang dipenuhi ketimpangan ekonomi, qurban seharusnya menjadi kritik moral terhadap kerakusan manusia dan budaya akumulasi kapital tanpa batas.

 

Distribusi daging qurban mengandung pesan penting bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan elite.

 

“Musuh terbesar manusia bukan kemiskinan materi, melainkan kerakusan jiwa yang tidak pernah merasa cukup,” tegasnya.

 

Lebih jauh, ia menilai dunia modern perlahan kehilangan sensitivitas kemanusiaan akibat dominasi teknologi dan logika utilitarian. Manusia sering kali dipandang hanya sebagai alat produksi dan angka statistik ekonomi, bukan sebagai makhluk bermartabat.

 

Dalam situasi tersebut, qurban hadir sebagai pengingat bahwa hidup bukan semata tentang memiliki sebanyak mungkin, tetapi tentang berbagi dan melepaskan.

 

Mengutip pemikiran filsuf Islam Mulla Sadra dan Ibn Sina, Dr. Zainal Habib menilai qurban merupakan jalan kenaikan spiritual manusia. Pengorbanan bukan kehilangan, melainkan proses transformasi jiwa menuju derajat kemanusiaan yang lebih luhur.

 

Keikhlasan, menurutnya, menjadi bentuk perlawanan paling radikal di tengah dunia yang dipenuhi pencitraan dan kompetisi sosial. Keikhlasan lahir ketika manusia mampu memberi tanpa berharap pujian, mencintai tanpa syarat, dan berbuat baik tanpa kebutuhan untuk viral.

 

“Kisah Ibrahim bukan cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi manusia modern yang sedang kehilangan arah spiritualnya,” tulisnya.

 

Di akhir refleksinya, Dr. Zainal Habib mengingatkan bahwa dunia modern sesungguhnya tidak kekurangan teknologi, kecerdasan, maupun kemajuan. Yang perlahan hilang justru manusia-manusia yang ikhlas.

 

“Qurban seharusnya mengingatkan bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tulus manusia mampu melepaskan,” pungkasnya.( Eno).