Sastrawan Tak Pernah Pensiun: Wartawan Usia Emas Rayakan Daya Cipta Lewat Puisi

1023623_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com —Menulis adalah perjalanan batin yang tak mengenal kata usai.

Itulah pesan hangat yang mengemuka dalam acara Launching Buku Antologi Puisi ke-8 Warumas “Tanpa Jeda” dan Buku ke-18 karya Amang Mawardi “Jiwa Tampak Rohan”, yang digelar di Balai Wartawan A. Aziz, Surabaya, Jumat (13/2/2026).

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Lutfil Hakim, membuka acara dengan refleksi personal tentang makna menulis.

Ia menegaskan preferensinya menyebut “sastrawan yang wartawan” ketimbang “wartawan usia emas”.

“Menulis puisi tidak semudah menulis berita. Ia berangkat dari pengalaman hidup, kepekaan batin, dan pilihan diksi yang jujur,” ungkap Lutfil.

Ia pun menyambut gembira para wartawan usia senja yang tetap setia berkarya dan merawat api kreativitas melalui sastra.

Perhelatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi PWI ke-80 sekaligus Hari Pers Nasional tingkat Jawa Timur.

Wakil Direktur Uji Kompetensi PWI Pusat, Dr. Eko Pamuji, dalam ulasannya menegaskan bahwa “Tanpa Jeda” adalah bukti bahwa usia tidak membatasi daya cipta.

“Meski usia senja, benak para penulis terus bergerak. Mereka berpikir dan menulis tanpa henti, kini lewat puisi,” tuturnya, seraya menyebut kiprah Warumas layak menjadi teladan bagi wartawan muda.

Nuansa humanis makin terasa saat wartawan senior Esti Susanti mengapresiasi totalitas Amang Mawardi sebagai penasihat Warumas. Menurutnya, buku “Jiwa Tampak Rohan” membuka kedalaman makna puisi karya Rohanudin yang bernafaskan cinta kebangsaan dan religiusitas.

“Tanpa tulisan Pak Amang, saya tak akan menemukan keunikan dan spiritualitas puisi Rohanudin,” tandas mantan wartawan Harian Surya itu.

Ketua Warumas, Kris Mariyono, berharap kegiatan sederhana namun bermakna ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memacu semangat aktualisasi diri para wartawan usia emas melalui sastra puisi—sebuah ruang sunyi yang tetap menyala.

Acara berlangsung akrab dan hangat, dihadiri para penulis Warumas serta penulis tamu seperti Pudianto, Hidayatullah, Hery Siswa, penyair senior Jill Kalaran, penggiat seni budaya Desemba Sagita, hingga Hason Sitorus, penggiat pendidikan sosial budaya.

Buku Antologi ke-8 “Tanpa Jeda” setebal 160 halaman memuat puisi 12 Wartawan Usia Emas dan delapan penulis tamu.

Antologi ini diawali sambutan tokoh pers, pendidikan, dan politik—nama-nama yang tak asing di jagat pers Jawa Timur dan nasional, di antaranya Sasetyo Wilutomo, Amang Mawardi, Adam A. Chevni, Imung Mulyanto, Rokimdakas, Kris Mariyono, Ariyoko, A. Pramudito, Herry Siswanto, Ida Noershanty Nicholas, Riamah M. Doulat, Toto Sonata, dan Widodo Basuki.

Penulis tamu seperti Sapto Anggoro, Poedianto, Nunung Harso, Sidiarto, Suhartatik, dan Hidayatur Rachman turut memberi warna.

Suasana makin hidup dengan penampilan BESUT MEIMURA, Cak Madi—penyair jalanan—serta pembacaan puisi oleh para penulis “Tanpa Jeda”.

Di ruang itu, kata-kata tak sekadar dibaca, tetapi dirayakan—menjadi bukti bahwa bagi para sastrawan-wartawan, kreativitas memang tak pernah pensiun. ( Eno).