Pasca-Lebaran, Prof Baso Amang Ingatkan Pentingnya Resiliensi Ekonomi Keluarga di Tengah Tekanan Konsumtif

1200092_11zon (1)

Makassar | Serulingmedia.com – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Prof Dr. H. Baso Amang, menyoroti fenomena rapuhnya stabilitas keuangan rumah tangga setelah euforia Idulfitri 1447 H mereda.

 

Meski suasana mudik dan arus balik masih berlangsung di berbagai moda transportasi, ia mengingatkan bahwa inilah masa paling rawan bagi keuangan keluarga akibat lonjakan pengeluaran selama hari raya.

 

Menurut Prof Baso Amang, kondisi ini sering disebut sebagai Post-Lebaran Financial Hangover, yaitu keadaan ketika cadangan kas menipis, tabungan terkuras, dan tagihan kartu kredit membengkak.

 

Ia mengungkapkan bahwa banyak keluarga tidak menyadari bahwa tantangan ekonomi justru dimulai setelah perayaan selesai.

 

Akar Krisis: Ilusi THR hingga Tekanan Sosial

Dalam pemaparannya, Prof Baso Amang menyebut tiga penyebab utama goyahnya finansial rumah tangga pasca-Lebaran:
Ilusi THR sebagai uang ekstra, bukan sebagai dana penyangga pengeluaran.

 

Biaya tersembunyi mudik yang sering diabaikan namun dampaknya besar karena sifatnya akumulatif.

 

Tekanan sosial, yakni keinginan untuk tampil mapan di kampung halaman yang memicu konsumsi berlebihan.

 

“Tanpa kesadaran terhadap ketiga faktor ini, keluarga akan terjebak dalam defisit tahunan yang terus berulang,” tegasnya.

 

Financial Check-up: Langkah Penting Usai Lebaran

Prof Baso Amang mengajak masyarakat melakukan audit keuangan secara menyeluruh. Mulai dari menginventarisasi saldo kas dan aset tersisa, memastikan kemampuan memenuhi kewajiban bulanan, hingga menyusun ulang daftar utang jangka pendek.

“Hadapi angka-angka itu. Jangan menutup mata. Pemulihan hanya dapat dilakukan jika kita jujur melihat kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Ia menyarankan agar pelunasan difokuskan pada utang berbunga tinggi untuk mencegah efek bola salju yang merusak arus kas bulan berikutnya.

Strategi Pemulihan: Terapkan Belanja Ramping

Selama 2–4 minggu pasca-Lebaran, Prof Baso Amang mengimbau keluarga menerapkan konsep Lean Spending atau belanja ramping. Caranya:

Menahan seluruh pengeluaran non-primer.

Mengutamakan kebutuhan dasar seperti makanan dan transportasi kerja.

Mengganti produk premium dengan alternatif lebih ekonomis.

Melikuidasi aset kecil bila defisit sudah terlalu dalam.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan yang justru memperburuk keadaan, seperti terjebak pinjaman online ilegal yang bersifat predatoris.

Membangun Ketahanan Ekonomi untuk Tahun Berikutnya

 

Agar siklus krisis tidak terus terulang setiap Syawal, Prof Baso Amang menekankan pentingnya ketahanan finansial jangka panjang melalui:

Diversifikasi pendapatan, seperti usaha mikro atau freelance.

Automasi dana darurat, minimal senilai 6–9 bulan pengeluaran keluarga.

Peningkatan literasi keuangan, termasuk edukasi kepada pasangan dan anak-anak.

“Ekonomi rumah tangga adalah kerja tim. Semua anggota keluarga harus memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan,” jelasnya.

Kembali ke Fitrah: Meredam Ego Konsumtif

Di akhir pemaparannya, Prof Baso Amang menegaskan bahwa banyak keluarga yang runtuh bukan karena kurangnya pendapatan, tetapi karena besarnya tekanan sosial untuk terlihat mampu.

“Kebahagiaan Lebaran tidak ditentukan oleh barang mewah yang dipamerkan, tetapi oleh kualitas silaturahmi dan ketenangan batin,” ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat menjadikan momen setelah Idulfitri sebagai waktu untuk meredam ego, menata ulang pola hidup, dan fokus pada stabilitas jangka panjang.

“Pemulihan memang mungkin mengorbankan kenyamanan sesaat, tetapi hasilnya akan memberikan kedamaian bagi seluruh anggota keluarga,” tutupnya (Yah/Eno)