Pendiri Desa Sidomulyo, Dzuriyah Sunan Ampel: Napak Tilas Mbah Nur Soleh Dijaga Hingga Kini
Batu | Serulingmedia.com – Di tengah hiruk pikuk perkembangan Kota Batu, jejak sejarah leluhur Desa Sidomulyo tetap terjaga dengan penuh khidmat.
Sosok Mbah Nur Soleh—yang dikenal pula dengan sebutan Mbah Kemuning atau Singo Nurdjojo—ternyata bukan tokoh biasa.
Ia adalah pendiri Desa Sidomulyo sekaligus memiliki garis keturunan langsung dari Sunan Ampel, salah satu Wali Songo penyebar Islam di Nusantara.

Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan sejarah tersebut diwujudkan melalui kegiatan selamatan dan penandaan dimulainya pengajian rutin di Makam Mbah Nur Soleh, Kamis malam (8/1/2025).
Kegiatan ini digelar oleh Yayasan Gajah Purwo Nusantara (GPN) Batu bersama putra wayah (dzuriyah) Mbah Nur Soleh, serta masyarakat sekitar.
Ketua Yayasan GPN, Ahmad Setyawan, menyampaikan bahwa selamatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas rampungnya pembangunan pendopo dan cungkup Makam Kemuning Mbah Nur Soleh.
“Dengan selamatan ini, kami resmikan dimulainya kegiatan rutinan pengajian di Makam Kemuning Mbah Nur Soleh—atau Singo Nurdjojo,” ujar Wawan, sapaan akrab Ahmad Setyawan atau Gimbal.
Acara tersebut dihadiri keluarga besar Yayasan GPN, Pembina GPN Mbah Husien, dzuriyah Mbah Nur Soleh, serta warga Desa Sidomulyo.
Pendopo dan cungkup yang diresmikan memiliki luas 63,75 meter persegi dengan arsitektur tumpangsari susun lima, mencerminkan filosofi keseimbangan dan kearifan Jawa.

Pembangunan ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga pusat napak tilas sejarah dan pelestarian nilai budaya leluhur masyarakat Sidomulyo.
Jejak Wali dalam Sejarah Desa
Sunardi, putra wayah Nur Bidin—adik dari Mbah Nur Soleh,mengungkapkan bahwa secara genealogis, Mbah Nur Soleh memiliki nasab yang jelas hingga Sunan Ampel dan Syekh Jumadil Kubro.
“Sebenarnya Mbah Nur Soleh bukan orang sembarangan. Beliau adalah tokoh babat alas sekaligus pendiri Desa Sidomulyo,” tutur Sunardi.
Ia menjelaskan, Mbah Nur Soleh merupakan keturunan Demang Darawangso, yang merupakan putra Adipati Semarang (Sunan Tembayat).
Sunan Tembayat adalah putra Syed Maulana Namsah, cucu dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel, putra Ibrahim Asmarakandi, yang merupakan anak Syed Jumadil Kubro.
Selain itu, Mbah Nur Soleh juga dikenal sebagai santri Mbah Rohjoyo, tokoh pembuka peradaban wilayah Batu. Dzuriyahnya kini tersebar di Sidomulyo, Bulukerto, Sumbergondo, hingga kawasan Singosari.
Membuka Peradaban Sidomulyo
Menurut Sunardi, Mbah Nur Soleh adalah tokoh awal yang membuka peradaban atau bedah kerawang Desa Sidomulyo.
Pada masanya, wilayah ini terbagi menjadi dua sebutan, yakni Kulon Curah (kini Sidomulyo) dan Etan Curah (kini Bulukerto).
Rumah asli Mbah Nur Soleh berada di Dusun Suko Rembuk, sekitar satu kilometer dari lokasi makam saat ini.
Meski berada di tengah permukiman warga dan dekat dengan Balai Desa Sidomulyo, makam tersebut tetap terjaga keasliannya hingga kini.
“Karena itu, makam ini tidak pernah dijarah atau dijadikan lokasi perumahan. Masyarakat sejak dulu menjaga dan menghormatinya,” pungkas Sunardi.
Pembangunan pendopo dan cungkup makam menjadi simbol kuat bahwa sejarah lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus dijaga agar generasi muda Sidomulyo tidak tercerabut dari akar peradabannya.( Eno).






