Akhiri Bulan Suro, GPN Gelar Wayang Kulit dan Buka Dapur Gratis di Alas Purwo

IMG_20250717_160401

Banyuwangi | Serulingmedia.com – Mengakhiri peringatan bulan Suro (Muharram), Yayasan Gajah Purwo Nusantara (GPN) membuka Pawon GPN berupa dapur umum makan gratis dan menggelar pertunjukan wayang kulit di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, pada 18–19 Juli 2025.

Setiap tahun, bulan Suro (Muharram) menjadi momen penting bagi banyak kalangan spiritual di Indonesia untuk melakukan kontemplasi, tirakatan, dan pencarian makna hidup.

Di tengah kesunyian dan keangkeran Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, tradisi ini terus hidup dan mendapat dukungan nyata dari Yayasan Gajah Purwo Nusantara (GPN) yang kembali membuka Pawon GPN, dapur umum gratis bagi para pelaku spiritual yang tengah menjalani ritual dan meditasi.

Inisiatif ini bukan semata soal berbagi makanan, tetapi merupakan perwujudan dari semangat GPN “loman sugih”, yakni memberi dengan tulus tanpa pamrih.

Ketua GPN Cabang Banyuwangi, Gus Dion, mengungkapkan bahwa GPN setiap tahun secara rutin membuka dapur umum.

“Kami menyediakan makan gratis dari pagi hingga malam. Kami ingin berbagi agar mereka dapat menjalankan laku spiritual dengan tenang,” ujar Gus Dion kepada Serulingmedia.com.

Kegiatan ini juga memperkuat nilai gotong royong dalam spiritualitas Nusantara.

Pengurus GPN Pusat dan dari berbagai cabang di seluruh Indonesia turut hadir dan bersinergi, menandai penutupan bulan Suro dengan menggelar pertunjukan Wayang Kulit.

Pertunjukan ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga bagian dari tradisi luhur yang sarat makna filosofis dan spiritual.

Pembukaan Dapur Umum GPN, memberi ruang nyaman bagi para pelaku tirakat agar dapat menjalani laku spiritual mereka dengan tenang, tanpa harus mengkhawatirkan kebutuhan dasar seperti makan dan minum.

Alas Purwo sendiri bukan sekadar hutan nasional, tetapi telah menjadi ruang sakral yang dihuni oleh berbagai narasi mistik dan keyakinan masyarakat.

Menurut Gus Dion, Alas Purwo menjadi tempat tujuan banyak orang untuk mencari ketenangan batin dan pencerahan spiritual, khususnya di lokasi-lokasi keramat seperti Pantai Pancur, Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Putri, Goa Gajah, serta Pura Luhur Giri Salaka yang juga menjadi pusat ritual umat Hindu saat peringatan Pagerwesi.

Namun, di tengah semangat spiritual dan kebudayaan yang kuat ini, Gus Dion juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam.

Alas Purwo bukan hanya tempat mencari berkah, tetapi juga warisan alam yang harus dijaga kebersihannya. Pengunjung diimbau untuk tidak meninggalkan sampah, menjaga flora-fauna, dan menghormati ketentuan kawasan konservasi dan kebersihan kawasan taman nasional.

“Penting untuk dicatat, meskipun banyak kegiatan spiritual, pengunjung diharapkan tetap menjaga kelestarian hutan dan kebersihan lingkungan,” pungkasnya.

Dari gerakan Pawon GPN hingga semangat tirakat para peziarah, dapat disaksikan bahwa spiritualitas di Nusantara tak pernah lepas dari nilai kemanusiaan, budaya, dan cinta terhadap alam.

Dalam sunyi hutan Alas Purwo, hidup nilai-nilai luhur yang terus diwariskan dan dirawat—bahkan dalam diam yang sakral, ada tangan-tangan kasih yang bekerja demi kebaikan bersama.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari semboyan GPN yakni “Salam Loman Sugih”, berbagi dalam sunyi, untuk keberkahan bersama.( Eno).