Muhammad Muslih, Menempuh 100 Kilometer Sehari untuk Sebuah Pengabdian
Batu | Serulingmedia.com – Pukul 05.19 WIB, ketika sebagian orang masih menikmati hangatnya pagi, Muhammad Muslih, S.Pd. sudah menyalakan sepeda motornya dari rumah sederhana di Dusun Krajan, Desa Sumberjo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.
Di hadapannya terbentang perjalanan sekitar 50 kilometer menuju SD Negeri Pendem 01, Kota Batu.
Perjalanan itu bukan sekadar berpindah tempat. Setiap hari Muslih melintasi satu kabupaten, dua kota, dan sekitar sepuluh kecamatan.

Kemacetan di Kota Malang, hujan deras, ban bocor, hingga motor mogok pernah menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun, selama belasan tahun mengabdi, perjalanan panjang itu tak pernah menjadi alasan untuk mengurangi semangatnya mengajar.
“Semuanya pernah saya alami. Macet, hujan, motor rusak, ban bocor. Tapi Alhamdulillah, semuanya bisa saya nikmati. Yang penting saya tetap bisa sampai di sekolah dan bertemu anak-anak,” ujar Muslih.
Dedikasi itulah yang mengantarkan guru kelas VI SDN Pendem 01 tersebut meraih Juara I Guru Inovatif dan Berprestasi.
Penghargaan itu bukan datang karena pencitraan, melainkan lahir dari konsistensi seorang guru yang bekerja dalam senyap.
Kepala SDN Pendem 01, Dra. Suprapti, M.Pd., mengaku tidak pernah melihat Muslih sebagai sosok yang gemar menonjolkan diri.

“Pak Muslih sangat sederhana, santun, taat kepada pimpinan, dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Beliau bukan tipe orang yang suka mencari perhatian,” kata Suprapti.
Rasa penasaran membuat Suprapti suatu hari mengunjungi rumah Muslih di Gedangan. Perjalanan yang jauh terbayar dengan sebuah pelajaran tentang arti kesederhanaan.

Rumah itu berdiri sederhana di tengah perkampungan. Di pekarangannya tumbuh aneka tanaman pangan. Beberapa ternak dipelihara untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selepas mengajar, Muslih kembali menjadi petani, mengolah tanah sebagaimana warga desa lainnya.
“Beliau hidup apa adanya. Untuk kebutuhan sehari-hari banyak dipenuhi dari hasil kebun dan pekarangan. Saya melihat sendiri bagaimana kesederhanaan itu menjadi bagian dari hidupnya,” ujar Suprapti.
Kesederhanaan itu pula yang tampak ketika sekolah menerima Program Makan Bergizi Gratis. Saat sebagian guru memilih tidak menikmati makanan yang disediakan, Muslih justru mengingatkan bahwa rezeki tidak layak ditolak.
“Bu, itu rezeki dari Allah. Kalau sudah menjadi rezeki, kita syukuri saja dan kita makan,” ucapnya kepada kepala sekolah.
Kalimat itu sederhana, tetapi membekas di benak rekan-rekannya.
Selama hampir tiga tahun terakhir, Suprapti mempercayakan posisi Wakil Kepala Sekolah kepada Muslih.

Selain mengajar kelas VI, ia juga mengelola sarana dan prasarana sekolah serta menjadi orang yang memastikan roda sekolah tetap berjalan ketika kepala sekolah menjalankan tugas di luar.
Kepercayaan itu dibangun bukan karena kedekatan, melainkan karena integritas.
Di ruang kelas, Muslih memilih cara mengajar yang berbeda.
Ia memanfaatkan proyektor, media digital, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak mengunjungi masjid, gereja, vihara, dan klenteng agar mengenal keberagaman sejak dini.

Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai rapor.
“Saya ingin anak-anak memiliki ilmu sekaligus akhlak. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” katanya.
Setiap pagi, siswa kelas VI dibiasakan melaksanakan salat Dhuha, kemudian salat Zuhur berjamaah.

Pendidikan karakter, menurut Muslih, harus berjalan beriringan dengan pendidikan akademik.
Pilihan untuk tetap tinggal di Gedangan juga bukan tanpa konsekuensi. Banyak yang menyarankan agar ia mengontrak rumah di Kota Batu supaya tidak perlu menempuh perjalanan sejauh itu setiap hari.
Namun, Muslih menolak.
Di kampung halamannya, kedua orang tuanya telah lanjut usia dan membutuhkan perhatian. Istrinya pun mengajar di sekolah yang dekat dengan rumah mereka.
“Merawat orang tua adalah tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggalkan,” tuturnya.
Jawaban itu menggambarkan prinsip hidup yang ia pegang: keluarga dan pengabdian berjalan beriringan.
Sebelum mengajar di SDN Pendem 01 sejak 2011, Muslih pernah bertugas di SDN Torongrejo 02. Kini, di usia 40 tahun, ia menjalani tiga peran sekaligus: guru, wakil kepala sekolah, dan petani.
Setiap sore, setelah perjalanan pulang yang kembali harus menghadapi kemacetan, ia kembali ke desa. Sawah dan kebun menunggunya. Esok pagi, sebelum fajar benar-benar terang, perjalanan panjang itu akan dimulai lagi.

Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari kemewahan, Muhammad Muslih memilih jalan sunyi. Ia percaya, seorang guru tidak dikenang karena kendaraan yang dikendarainya atau penghargaan yang diterimanya, melainkan karena jejak ilmu yang ditinggalkan pada murid-muridnya.
Barangkali, itulah makna sesungguhnya dari seorang guru berprestasi: bekerja tanpa banyak suara, mengabdi tanpa berharap tepuk tangan.( Buang Supeno).






