Menyalakan Cahaya di Pedalaman Sumatra Selatan: Jejak Pengabdian Spiritual Ki Ageng Purwo

1025603_11zon

Bojonegoro | Serulingmedia.com –

Jejak Spiritualitas dan Pengabdian di Pedalaman Sumatra Selatan (2025–2026).

 

Perjalanan spiritual tidak selalu tentang jarak dan tempat, melainkan tentang kehadiran, keikhlasan, dan keberanian menyapa umat di ruang-ruang yang kerap terabaikan.

Nilai itulah yang tercermin dalam kiprah Ki Ageng Purwo Noto Negoro Suryo Ningrat selama tahun 2025 hingga awal 2026, dalam pengabdian spiritual dan sosialnya di berbagai wilayah pedalaman Sumatra Selatan.

 

Melalui pengobatan medis dan nonmedis serta penguatan Majlis Dzikir Mukjizat Rosul, Ki Ageng Purwo hadir sebagai pelayan umat—tanpa pamrih, tanpa jarak, dan tanpa membedakan latar belakang masyarakat yang ia temui.

Menembus Stigma di Kisam Tinggi

Perjalanan ini dimulai pada 8 Agustus 2025 di Kecamatan Kisam Tinggi, Kabupaten OKU Selatan. Wilayah pedalaman ini lama dikenal dengan stigma kuat: pendatang yang mencoba menolong masyarakat melalui jalur spiritual kerap dianggap tidak akan bertahan lama. Kepercayaan itu telah mengakar sebagai “tradisi tak tertulis” di tengah warga.

Namun, stigma tersebut tidak menyurutkan langkah Ki Ageng Purwo. Selama dua bulan, ia menetap, melayani pengobatan medis dan nonmedis, sekaligus menanamkan nilai dzikir dan tauhid.

 

Didampingi Ki Ageng Berojo Geni, kehadirannya justru membuka ruang kesadaran baru, menghadirkan ketenangan, serta mematahkan ketakutan yang selama ini membelenggu masyarakat.

Dakwah Sunyi di OKU Timur dan Musi Banyuasin

Dari Kisam Tinggi, pengabdian berlanjut ke Belitang Jaya, OKU Timur. Selama satu bulan, masyarakat merasakan manfaat nyata—bukan hanya pemulihan kesehatan, tetapi juga penguatan batin dan kebersamaan spiritual.

 

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kecamatan Jirak Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin. Selama dua bulan, Ki Ageng Purwo mengabdikan diri di wilayah yang minim akses layanan kesehatan.

 

Di sini, majlis dzikir menjadi ruang harapan, tempat warga berbagi keluh, menguatkan iman, dan menautkan kembali hati mereka kepada Allah SWT.

Ujian di Sungai Lilin

Tantangan terberat dirasakan saat memasuki wilayah Sungai Lilin. Budaya kekerasan, mentalitas keras, dan resistensi terhadap perubahan menjadi ujian tersendiri. Meski demikian,

 

Ki Ageng Purwo tetap bertahan. Ia meyakini bahwa cahaya kebaikan harus tetap dinyalakan, justru di tempat yang paling membutuhkan sentuhan spiritual.

Konsistensi hingga Talang Kelapa

Pengabdian berlanjut ke Kabupaten Muara Enim selama 30 hari, lalu mencapai puncaknya di Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin.

 

Di wilayah ini, Ki Ageng Purwo menetap selama dua bulan hingga Januari 2026. Dari sinilah jaringan Majlis Dzikir Mukjizat Rosul berkembang semakin luas, menjangkau berbagai pelosok Sumatra Selatan.

Keteguhan di Tengah Daerah Rawan

Wilayah Palembang dan sekitarnya dikenal memiliki tingkat kerawanan sosial dan kriminal yang tinggi. Sebagai pendatang, Ki Ageng Purwo tak luput dari berbagai ujian, termasuk upaya menggagalkan perkembangan majlis dzikir yang ia rintis.

 

Namun, dengan keteguhan iman dan sikap bersih dalam tauhid, ia justru disegani oleh berbagai lapisan masyarakat—dari tokoh kampung, dukun lokal, hingga mereka yang hidup di pinggiran hukum.

 

Wibawa itu tumbuh bukan dari rasa takut, melainkan dari akhlak, keteladanan, dan konsistensi dalam pengabdian.

Dzikir, Tauhid, dan Jalan Pulang

Menutup rangkaian pengabdian panjangnya, Ki Ageng Purwo menyampaikan pesan yang mencerminkan esensi perjalanan spiritualnya:

“Saya tidak datang membawa kelebihan apa pun. Saya hanya membawa dzikir dan keyakinan bahwa pertolongan sejati datang dari Allah semata. Jika hati bersih dan niat lurus karena-Nya, maka di tempat seberat apa pun, Allah pasti membuka jalan.”

 

“Dzikir bukan sekadar lafaz di lisan, tetapi upaya menghadirkan Allah dalam setiap langkah pengabdian. Ketika manusia bersandar penuh kepada tauhid, tidak ada rasa takut dan tidak ada pamrih—yang ada hanya ikhtiar untuk menolong dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada kehendak-Nya.”

 

Perjalanan ini bukan sekadar jejak langkah, melainkan warisan nilai. Sebuah pengingat bahwa dzikir, tauhid, dan ketulusan akan selalu menemukan jalannya—bahkan di medan yang paling sunyi dan keras sekalipun.( Buang Supeno).